Sebut saja, Rita, gadis cantik bermata lentik. Di sekolah, tampil dan bertingkah ceria. Seperti itu pula, jika di rumah. Tidak mengherankan, bila banyak teman yang senang bergaul dengannya, begitu pula dengan para guru di sekolahnya.

Tetapi, kali itu, dia malah agak murung. Cemberut. Wajah yang cantiknya jadi runyam. Kelakuannya pun menjadi menyebalkan.

Selidik punya selidik, adalah karena adanya “PR” pekerjaan rumah, yang diberikan oleh gurunya di sekolah.

Mengapa PR kerap menjadi momok bagi seorang siswa ? mengapa, PR, menjadi sesuatu yang menyiksa bagi seorang siswa ?

Kajian inilah yang mendorong Alfie Kohn menulis buku “Homework Myth”. Kajian ini, menarik, setidaknya, untuk bahan refleksi bagi kita. Karena, jika kita sebagai orangtua pun, kita kerap kali disibukkan oleh PR anak-anak. Dan jika kita sebagai guru, pernahkah kita memikirkan waktu bermainnya anak, dengan pemberian PR yang numpuk segitu ?

Kalau seorang guru memberikan PR tidak dengan perhitungan yang edukatif, misalnya memberikan 10 soal, dan setiap harinya, ada 3 mata pelajaran, maka seorang anak akan mengerjakan PR di malam hari itu, setidaknya 30 soal. Jika, sifatnya hapalan, mungkin agak mudah, tetapi jika membutuhkan waktu yang lama, akan menghabiskan malam-malanya hanya untuk mengerjakan PR. kapan dia istrihata ?

dengan pertanyaan itu, maka layak diajukan, apa iya, PR itu menambah kemampuan anak belajar ? atau malah menyebabkan antipati untuk belajar ?

Advertisements