Guru modern akan hadir dengan tradisi TIK. Bukti fisik perlu, tetapi bahan-bahan elektronik akan jauh lebih banyak digunakan dibandingkan dengan berbahan kertas. Karena itu, jawaban popular di hari esok, adalah ‘ada di laptop..!”. Kini, mulai lahir, guru dari generasi paperless.
“mana silabus..?” tanya seorang pemeriksa dari kementerian agama.
“ni bu..” jawabku, sambil memberikan beberapa lembar contoh silabus. Melihat tongkrongan berkas yang tipis, dia melanjutkan pertanyaan lagi.
“mana lagi…?” ungkapnya, “kalau RPP mana ?”
Seperti yang juga dilakukan pada sejumlah pertanyaan tadi, saya pun ajukan lagi contoh lembarannya. Diapun melongo lagi. Saya sendiri belum sadar, terhadap apa yang dipikirkannya.

“kalau membuat seluruh perangkat ini, ada buku rujukannya ga?” mendengar pertanyaan itu, saya anggukkan, pertanda, bahwa saya memiliki buku rujukannya, bahkan juga termasuk contoh bukti fisik dari materi ajar yang biasa disampaikan kepada siswa. “mana bukti buku-bukunya…?” pintanya lagi.

Sebanyak permintaan itu pula, saya hanya bisa menyodorkan sebagian contoh saja. Sementara, sisanya cukup dijawab dengan kalimat, ada di laptop. Silabus, RPP, dan ebook, semuanya ada di laptop.

Tidak disangka, pengawas lain, yang juga tengah memeriksa guru lain, urun rembuh berkomentar. “ya, gak bisa, masa semuanya dijawab dengan ada dilaptop aja !” komen-nya dengan nada yang agak tinggi. “gak cukup kalau sekedar contoh, memangnya mau sertifikasi yang cairnya hanya contoh saja…?” ujarnya lagi.

Mendengar komentar itu, saya dan beberapa teman hanya tersenyum saja. Maklum, sang komentator, selain pengawas yang menjadi favorit banyak guru, nada koment-nya itu cenderung humoris.

“eit, gak boleh koment, bu ?”, jawabku, “ibu kan sedang mengoreksi dia..?”sambil menunjukkan temanku yang juga tengah diverifikasi. “say amah lagi diceknya sama ibu yang ini…”.

Melihat tingkahku yang juga meresponnnya secara ‘gaul’, para pengawas hanya tersenyum belaka. “habis, bikin geregatan aja, masa semua jawabannya, ini contohnya, yang lain ada di laptop.masa harus begigu semua…”

Pengalaman verifikasi sertifikasi saat itu, cukup menyenangkan. Tetapi situasi dan ‘debat singkat’ tadi, tetap menyisakan pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Di sebut menyisakan pekerjaan rumah, karena pada saat refleksi ternyata, para pengawas juga memberikan komentar yang senada dengan ibu pengawas yang ngomentaran jawabanku. Mereka semua bilang, “hati-hati, kita tidak cukup dengan sekedar menjawab ada di laptop..”

Pikiran ini memang tidak bisa berhenti. Termasuk memikirkan jawaban dan komen-komen mereka. Mengapa contoh bukti fisik tidak cukup, dan mengapa dokumen yang ada di laptop tidak diakui ?

Wajar. Bila yang dia maksud itu adalah hanya sekedar alibi. Alibi untuk malas membuktikannya. Tetapi, untuk konteks modern seperti ini, semacam ebook, adalah wajar dan alamiah, bila ada die book. Pemerintah saja sudah menyediakan buku sekolah elektronik. Oleh karena itu kalau ada BSE, berarti ada juga Silabus elektronik, dan RPP elektronik atau PPE (Perangkat Pembelajaran Elektronik). Maksudnya, cukup ada di laptop saja, dan tidak perlu diprint outnya.
Zaman kita ini, sekarang sedang mendekati fase paperless. Serba tak pakai kertas. Bila masih bisa menggunakan elektronik, mengapa harus pakai kertas. Bukti transaksi di ATM (Anjungan Tunai Mandiri), misalnya, ada sejumlah ATM yang tidak menyediakan laporan kertasnya kepada si pengguna. Itulah yang disebut paperless.

Hemat kata, guru modern akan hadir dengan tradisi TIK. Bukti fisik perlu, tetapi bahan-bahan elektronik akan jauh lebih banyak digunakan dibandingkan dengan berbahan kertas. Karena itu, jawaban popular di hari esok, adalah ‘ada di laptop..!”.

Advertisements