Ide wacana ini, disandarkan pada contoh kreatif beberapa buku teks yang sudah biasa beredar di dalam maupun di luar negeri. Diantara buku yang sudah terbit di luar negeri, setidaknya kita bisa melihat Visualizing Anthropology, karya Anna Grimshaw and Amanda Ravetz (ed.). Sebagai sebuah kajian antropologis, satu sisi mengkaji mengenai budaya-budaya visual (misalnya film, atau iklan), dan pada sisi lain menyajikan paparan antropologis secara visual.

Dalam bidang geografi, dikembangkan Alan Strahler dan Zeeya Merali melalui Visualizing, Physical Geography. Dengan cermat dan menarik, kedua penulis ini mampu menyajikan informasi-informasi geografi secara visual. Model penyajian materi geografi lainnya, yang juga dapat dijadikan bahan rujukan, yaitu karya Alyson Greiner berjudul Visualizing human geography: at home in a diverse world.

Merujuk pada apa yang dilakukan oleh para penulis tersebut, dapat disederhanakan bahwa visualisasi itu adalah penyajian informasi geospasial berbasis gambar (visual-based inquiry). Informasi geospasial disajikan bukan sekedar dalam bentuk narasi atau deskripsi tulis, tetapi disajikan dalam sajian gambar atau ilustrasi visual yang bisa dilihat pembaca, atau peserta didik.

Seorang guru geografi, bisa saja menjelaskan mengenai proses vulkanisme hingga dampaknya pada lingkungan. Uraian dan argumentasi mengenai hal ini, bisa saja disajikan dalam bentuk narasi, argumentasi dan juga deskripsi yang detil kepada pihak lain.

Untuk penalaran tingkat tinggi, dan sudah memiliki bekal informasi sebelumnya, mungkin akan dapat dengan mudah memahami paparan ilustratif deskripsi tersebut. Tetapi, untuk mengayakan ilustrasi, menguatkan pemahaman, dan menjelaskan pengetahuan mengenai fenomena yang sedang dibahasnya, maka kekuatan dan kemampuan ilustrasi vocal, tidaklah cukup, atau dengan istilah lain, ilustrasi visual akan jauh memperkaya pemahaman yang sekedar disampaikan dalam bentuk tuturan.

Advertisements