Daniel C. Edelson (2014) memaparkan pandangannya mengenai keragaman konsep atau persepsi mengenai geografi. Setidaknya, dalam pandangannya tersebut ada tiga kelompok besar yang muncul dalam memahami makna geografi, yaitu geografinya geograf, geografi dalam persepsi populer, dan geografi persekolahan.
Pertama, geografinya geograf (geographer’s geography). Geografinya geograf, memiliki kemampuan dasar dalam mengembangkan sikap, berfikir dan bertindak geografik. Mereka tidak hanya memiliki pengetahuan nama tempat, tetapi juga mampu mengembangkan pola berfikir keruangan (spatial thinking).

Tidak seperti nongeograf, mereka memandang bahwa geografi itu adalah belajar mengenai peta, membuat peta atau menafsirkan peta. Bagi seorang geograf, peta adalah alat, dan bukan tujuan. Peta adalah media dan bukan akhir dari keterampilan berfikir geografi. Kemampuan geografinya itu sendiri adalah terletak pada kemampuan menafsirkan fenomena keragaman muka bumi dengan perspektif keruangan.

Karakteristik pokok dari geografinya geograf ini, bukan pada masalah hapalnnya terhadap nama tempat dan lokasi, melainkan pada kemampuannya bernalar mengenai ruang (place and space). Memahami atau mengetahui nama tempat dan lokasi adalah modal dasar analisis, tetapi karakter berfikir yang kritis dan meruang (spatial thinking) itulah yang menjadi kunci pembeda seorang geograf dengan kelompok ilmuwan lainnya.

Kedua, geografi popular (the popular perception of geography). Dalam persepsi popular, geografi lebih sekedar diartikan sebagai ilmu tentang nama dan tempat. Tidak mengherankan, bila dalam satu pertemuan, seorang senior begitu menggebunya memberikan kritik terhadap alumni geografi masa kini, yang dianggap kurang memiliki kemampuan dalam menalar nama dan tempat. Bagi beliau, seorang geograf adalah seseorang yang bisa menalar mengenai nama tempat atau lokasi.

Jika ada seorang geograf, bisa menghapal nama-nama sungai, gunung, atau tempat diberbagai muka bumi, maka disebutnya sebagai geograf yang sejati. Itulah yang dimaksudkannya. Dan itulah, yang disebut pengertian geografi secara popular.
Kategori ketiga, ada yang disebutnya sebagai geografi sekolahan (school geography). Daniel C. Edelson (2014) berpandangan bahwa geografi sekolahan memiliki karakter yang berbeda dengan geografi popular dan ataupun geografinya geograf.

Geografi persekolahan, kata Daniel C. Edelson, sedikit lebih luas dari geografi popular, tetapi lebih sempit dari geografinya geograf. Dikatakan lebih luas dari geografi popular, karena dalam geografi persekolahan diajarkan pandangan geografi, yang tidak sekedar nama dan istilah geografik saja. Seorang siswa, diberi paparan mengenai wacana-wacana geografik, yang membutuhkan keterampilan berfikir geografi.

Kendati begitu, bila dibandingkan dengan geografinya geograf, geografi persekolahan cenderung mengembangkan geografi yang bersifat factual, atau pengetahuan faktual. Sementara, kajian kegeografian yang dikembangkan geograf, memasuki wilayah pengetahuan konseptual, metakognisi dan juga pengetahuan procedural.

Ada ide menarik, dari Kurtilas. Spirit pemikiran dari Kurtilas mengenai pengetahuan, sudah mencakup pada empat keterampilan dasar berfikir, yaitu berfikir factual, konseptual, procedural dan metakognisi. Bila kita memanfaatkan proses berfikir sebagaimana yang dikembangkan kurtilas ini, kiranya, pembedaan sebagaimana yang dialami Danel C. Edelson tersebut, tidak akan terjadi.

Pengetahuan factual (factual knowledge) dalam geografi, bisa ditunjukkan dalam kemampuannya memahami, dan menyebutkan nama tempat-tempat atau istilah geografik. Ini adalah pengetahuan dasar seorang geografi. Pada tahap selanjutnya siswa diajak berfikir abstrak, dan mencapai pengetahuan konseptual (conceptual knowledge) mengenai konsep dan pola interaksi dan interrelasi antar komponen geografi.

Sementara pengetahuan procedural, bisa diarahkan pada kemampuan keterampilan geografi. Melakukan riset sederhana, atau mendemonstrasikan proses-proses gejala alam, adalah beberapa contoh dari pengetahuan procedural yang bisa dikembangkan dalam geografi.

Hal yang paling mendasar, yaitu mampu mengembangkan pengetahuan metakognisi. Untuk sederhananya, keterampilan berfikir atau pengetahuan metakognisi ini, adalah sebagaimana yang diimpikan Daniel C. Edelson mengenai geografinya geograf, yaitu yang mampu mengembangkan nalar, sikap dan keterampilan geografi dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini adalah saduran dari Daniel C. Edelson, “Geo Learning”, dikutip dari http://www.esri.com/esri-news/arcnews/winter1314articles/defining-geography-for-education

Advertisements