Tetaplah di lapangan pertandingan, dan seriuslah bertanding, maka kita memiliki kesempatan untuk menang !

Di tahun 1995-an, saya punya guru yang biasa disebut pa Lili. Beliau mengajar bahasa Inggris di sekolah swasta, di kawasan Bandung Timur. Saya sebut guru, bukan karena saya pernah menjadi muridnya. Bukan. Karena, aslinya sendiri saya dari Majalengka di besarkan di Majalengka, sedangkan beliau dari Rajawali Bandung.

Tetapi, saya merasa perlu menyebutnya guru, dengan alasan yang sangat luar biasa.
Tidak seperti kebanyakan orang. Kegesitannya, sangat luar biasa. Kendati tidak memilki kendaraan, dia senantiasa datang lebih pagi, dan pulang selepas kepentingan anak-anak usai. Dari Cimahi ke Bandung, naik kereta api, pulangnya pun demikian. Itu semua dilaksanakannya, setiap hari. Tanpa lelah dan tanpa keluhan.

Suatu waktu, saya sempat bertanya, “bagaimana caranya, supaya bisa fit dalam mengajar, dan tetap bergairah seperti yang beliau rasakan….?”

“mencintai pekerjaan, dan nikmati saja…” ujarnya, mirip seorang motivator. Di zaman itu, belum banyak motivator Indonesia yang kondang seperti tahun 2000-an. Tetapi, saya sudah mendengar dan melihat kasus nyata, seorang guru yang mencintai pekerjaan dan menikmati proses kerjanya. Pada pribadi pak Lili itulah, tampak nyata, pribadi yang cinta dan menikmati pekerjaan.

Saya sendiri waktu itu masih “rasional”. Saya masih membutuhkan biaya hidup, perlu untuk menafkahi keluarga, dan perlu tetap mengisi hidup dengan objektif, dan bukan dengan mimpi. Sehingga, pikirku waktu itu, tidaklah cukup mengisi hidup dan kehidupan yang padat kepentingan ini, dengan sekedar argumentasi emosional atau sugesti positif saja. Dalam mengisi hidup ini perlu dihadapi dengan tindakan praktis dan pragmatis dalam mengisinya.

“De,..”tegurnya, “tidak ada yang salah dengan pikiranmu itu, tetapi, akan jauh lebih sehat dengan cara menikmati keadaan hari ini, sembari melakukan perbaikan di sana-sini…” tuturnya, “daripada, hari ini mengeluh, masa depan pun keruh…”.

Pak Lili termasuk guru yang unik. Bagi dia, merubah masa depan itu, tidak bisa dilakukan dengan cara mengkritik kondisi apa yang ada hari ini. Merubah masa depan, menurutnya adalah dapat dilakukan dengan cara menikmati perjalanan hidup, sambil tetap berusaha merubahnya secara perlahan dan berkelanjutan. “Jalani dulu yang ada saat ini, maka perubahan dihari esok akan dapat ditemukan….” Itulah, kira-kira pesan yang disampaikan waktu itu.

Entah apa yang terjadi di masa itu. Pesan-pesan itu, terendapkan dalam pikiran ini, dan belum banyak dirasakan maknanya saat itu. Tetapi, setiap memperingati hari guru, pribadi beliau ini senantiasa hadir dalam hidup ini. Termasuk hari ini. Bahkan, pada hari ini pula, saya merasakan bahwa ada pesan strategisnya yang beliau titipkan waktu itu, dan terasa benar hari ini.

Mirip dengan seorang pemain bulu tangkis, kalau Anda mau menang dalam bertanding, jangan dulu banyak mengeluh dan keluar lapangan. Hidup ini adalah lapangan perjuangan kita. Di sekolah ini, kita sedang bertanding dengan nasib, kebutuhan, dan masa depan. “Bagaimana mungkin kita bisa menang di pertandingan, jika hari ini kita keluar dari dari lapangan.…”.

Tetaplah di lapangan pertandingan, dan seriuslah bertanding, maka kita akan memiliki kesempatan untuk menang !

Advertisements