Salah satu ruh geografi, adalah memetakan dan menjelaskan mengenai ragam fenomena dalam konteks ruang waktunya. Sebuah peristiwa atau kejadian, bisa dimaknai berbeda bila dikaitkan dengan adanya perbedaan ruang-waktu.

Ada contoh menarik mengenai makna hal ini. Ilustrasi ini, saya dapatkan dalam sebuah dinding media jejaring sosial tetangga. Menarik dan cukup tepat, atau dalam bahasa ilmiahnya ‘cukup signifikans’ dalam memberikan ilustrasi mengenai peristiwa laku manusia dikaitkan dengan ruangnya masing-masing.

“titajong” misalnya, adalah konsep yang menggambarkan peristiwa jatuh di kawasan berkerikil, berbatu atau daerah yang tidak rata. Bila kita berjalan di atas muka bumi, yang banyak batu, pasir atau keadaan bumi yang tidak rata, potensial kita menendang benda atau bentukan muka bumi tersebut. Kejadian itu, bisa menyebabkan orang titajong dan jatuh.

Berbeda dengan “tisoledat”. Peristwa itu terjadi, di kawasan yang licin. orang yang  berjalan di atas lantai yang licin, dan kemudian berada pada posisi yang tidak seimbang, bisa terjatuh.  Terjatuh di daerah licin, disebutnya tisoledat.

Bahasa Indonesia memiliki konsep “tergelincir”. Konsep ini untuk menjelaskan peristiwa bergeser turun tanpa disengaja. Istilah ini pun kadang digunakan secara bergantian dengan istilah terpeleset. Dalam bahasa Sunda, jika terpelesetnya itu menghadap ke depan, disebutnya “ti kusruk”, tetapi jika jatuhnya membelakangi arah, disebutnya “ti jengkang”.

Unik memang. Kita tidak bermaksud untuk menjelaskan satu persatu dari konsep bahasa Sunda yang menjelaskan mengenai peristiwa jatuh. Hal pokok yang ingin dikemukakan di sini, yaitu adanya ragam konsep untuk menjelaskan ragam peristiwa yang berbeda, antara satu ruang dengan ruang lainnya.

Ilustrasi ini, tepat untuk digunakan tenaga pendidik, khususnya di kawasan Jawa Barat dalam menjelaskan kearifan lokal (local genus) mengenai geografi perilaku, khususnya dalam menjelaskan mengenai peristiwa jatuh dalam konteks budaya.

Menurut orang bahasa, Bahasa Sunda kaya akan perbendaharaan kata, sedangkan menurut kita, orang Sunda mampu menyajikan konsep sesuai dengan konteks ruang-waktunya. Orang Sunda, dalam konteks ini, geografi banget !

Advertisements