Kondisi yang paling bahaya itu, bukan karena kita banyak tidak tahunya, tetapi banyak tidak mau taunya”. Itulah masalah krusial dari tindakan kezaliman kiat kepada diri kita sendiri.

Disamping ada orang yang suka memberikan manfaat kepada orang lain, ada juga orang yang memiliki perilaku sebaliknya. Dapat kita lihat bersama, jika dalam sehari-hari kita melihat ada orang yang suka member manfaat pada orang lain, ternyata ada juga orang yang tidak member manfaat pada orang lain. Dalam bahasa Agama, orang yang terakhir ini, kita sebut orang yang zalim, yaitu orang yang suka mencelakakan, atau berbuat kekerasan pada orang lain.

Kendati demikian, pada dasarnya, kita tidak perlu risih dengan tindakan zalim kepada orang lain. Di samping kita ada polisi atau aparat keamanan yang bisa menghentikan tindakan kezaliman kepada orang lain. namun hal yang paling memprihatinkan, dan kita perlu hati-hati, adalah adanya tindakan orang yang zalim kepada diri sendiri.
Dalam konteks ini, kita akan menekankan pada aspek zalim pada diri sendiri, dan bukan zalim pada orang lain.

Meminjam pemikiran dari Syaikh Abdul Qadir Jailany, kita dapat mencatatkan ada 4 (empat) orang yang dapat dikategorikan sebagai orang yang celaka, atau orang yang bisa dimasukkan dalam kelompok zalim pada diri sendiri.

Pertama, orang yang tidak mengamalkan apa yang diketahuinya. Dia tahu, tetapi tidak menjalankan apa yang diketahuinya, maka tindakan itu sama dengan zalim pada diri sendiri. Sudah tahu minggu depan akan ada Ujian Nasional, tetapi dia tidak belajar, maka perbuatan tidak belajarnya adalah tindakan zalim pada diri sendiri. Sudah tahu, bahwa perbuatan itu buruk bagi kesehatannya, tetapi malah tetap juga dilakukan, maka tindakannya termasuk pada kategori zalim pada diri sendiri.

Kedua, orang yang mengamalkan apa yang tidak diketahuinya. Dalam istilah lain, kita tidak boleh melakukan amalan yang kita tidak tahu ilmunya. Shalat tanpa ilmu, puasa tanpa ilmu, zakat tanpa ilmu, akan menyebabkan amalan itu tertolak.

Orang yang melakukan amalan atau perbuatan tanpa ilmu, adalah bentuk zalim pada diri sendiri. Berpuasa tanpa ilmu, akan menyebabkan orang itu puasanya dengan cara yang salah. Berobat tanpa resep, akan menyebabkan kita keracunan. Menjalankan kendaraan tanpa ilmu, akan menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu, adalah tindakan zalim pada diri sendiri, bila kita menjalankan amalan tanpa pengetahuan.
Orang yang menjalankan perbuatan tanpa ilmu, akan mendapatkan satu dari tiga kemungkinan, (a) tersesat, (b) jika tercapai, membutuhkan waktu yang lama, dan (c) jika tercapai cepat, itu adalah kebetulan, sedangkan keberhasilan yang sifatnya kebetulan, tidak bisa diulang berkali-kali.

Ketiga, orang yang tidak mau mencari tahu apa yang tidak diketahuinya. Sikap seperti ini, merupakan contoh nyata dari sikap zalim pada diri sendiri. Sudah tahu tidak tahu, tetapi tidak mau tahu. Itulah kezaliman pada diri sendiri. Sudah tahu miskin, tidak mau bekerja, itulah kezaliman pada diri sendiri. Sudah tahu lagi sakit, tidak mau berobat atau therapy, itulah kezaliman pada diri sendiri.

Terakhir, yaitu menolak orang yang hendak memberi tahu. Entah karena kebencian, kemalasan, atau alasan lainnya, kadang kita pun menemukan orang yang menolak kebenaran dari orang lain. menolak orang yang hendak member tahu, adalah bentuk halus dari kezaliman pada diri sendiri.

Berdasarkan pertimbangan itu, saya sendiri lebih melihat bahwa ‘kondisi yang paling bahaya itu, bukan karena kita banyak tidak tahunya, tetapi banyak tidak mau taunya”. Itulah masalah krusial dari tindakan kezaliman kiat kepada diri kita sendiri.

Advertisements