Dokter bijak, pasien pinter. Guru Bijak, siswa pun cerdas. Hal itu akan dapat diwujudkan, bila pola interaksi dan komunikasinya, bergeser dari care ke share !

Selama ini memang kerap ada pembedaan antara pola interaksi antara guru-siswa atau dokter-pasien. Pola interaksi kedua struktur social tadi, cenderung searah. Dalam kesearahannya tersebut, diposisikan seorang dokter atau guru merasa menjadi pihak yang paling penting dibandingkan posisi pasien atau siswa. Hubungan interaktifnya, dikembangkan dalam bentuk searah, yaitu dari guru atau dokter ke siswa atau pasien.

Pola satu arah itu, kita sebutnya sebagai pola kepedulian atau mengurus, atau merawat, atau biasa kita sebut pola to care. Seorang guru merasa pihak yang unggul dan strategis dihadapan siswa, dan menjadi sentral actor dalam interaksi eduaktif. Keterjadiannya praktek pendidikan, amat sangat bergantung pada kesungguhan guru dalam menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidikan. Di sinilah yang disebutnya teacher center.

Begitu pula di dalam praktek layanan kesehatan. Keterjadiannya layanan kesehatan, posisi dokter menjadi sangat penting. Kalau tidak ada ke-care-annya dokter, maka tidak akan terjadi praktek perawatan atau layanan kesehatan. Itulah fenomena yang kerap terjadi dalam sejumlah puskesmas atau rumah sakit. Pasien antri dalam jumlah yang banyak, dan waktu yang cukup lama, hanya untuk menunggu hadirnya dokter. Dokter yang tidak peduli (don’t care), akan menjadi petaka bagi pasien.

Kebutuhan zaman dan tantangan zaman semakin kompleks, dan menuntut adanya perubahan perilaku pada setiap actor social. Para guru dan dokter yang sekedar mengedepankan sikap care-nya saja, dan terlebih lagi memainkan ‘psikologi-peran’ tersebut, akan mudah ditinggalkan oleh masyarakat. Dokter yang kurang cekatan atau lemah dari sisi tanggungjawabnya, akan mudah ditinggalkan oleh pasien. Guru yang tidak cekatan dan kurang peduli pada masalah siswa, akan mudah diabaikan oleh para siswa.

Pada konteks itulah model pembelajaran, dan atau pola komunikasi antara kedua belah pihak tadi, kini mengalami perubahan. Zaman sekarang ini, bukan hanya mengedepankan care, tetapi juga share. Daldiyono, menyebut fenomena pola interaksi sekarang ini, dengan tuntutan untuk menjadi dokter yang bijak, karena pasien sudah pintar. Di lembaga pendidikan, siswa pun bukan botol kosong, karena itu tidak bisa sekedar di doktrin.

Dokter bijak, pasien pinter. Guru Bijak, siswa pun cerdas. Hal itu akan dapat diwujudkan, bila pola interaksi dan komunikasinya, bergeser dari care ke share !

Advertisements