Bumi ini adalah tempat sujud. Disetiap penjurunya, terdapat nilai-nilai kesucian, yang harus dihormati oleh seorang muslim. Itulah kalimat pembuka Ibrahim Abdul-Matin (2010), saat memaparkan pandangannya mengenai ajaran Islam dalam praktek pengembangan perilaku hidup dalam melestarikan atau melindungi lingkungan hidup. Pandangan Abdul-Matin ini, dituangkan dalam karyanya yang berjudul Green Deen.

Ada empat bab yang dikajinya, yaitu masalah limbah, air, energy dan makanan. Sebagaimana yang juga dikemukakan oleh Keitth Ellison dalam pengantarnya, pemikiran Abdul-Matin ini, menarik untuk disimak karena mencoba untuk menawarkan kajian kritis mengenai relevansinya atau kaitannya antara kepercayaan Islam dengan praktek kepedulian terhadap lingkungan.

Hal yang memang perlu dipahami lebih awal, Abdul-Matin pun sudah menjelaskan bahwa karyanya tersebut bukanlah sebuah karya tafsir, atau sejenis fiqh lingkungan. Bukan termasuk pada kategori tersebut. Karya yang dipublikasikannya ini, lebih mengarah pada sebuah opini, cerita atau pengalamannya sebagai orang yang peduli pada lingkungan.

Istilah Green Deen, digunakannya untuk menunjukkan bahwa baik dalam praktek maupun dalam keyakinanya, Islam memberikan perhatian yang seksama terhadap kelestarian lingkungan. Hal itu, menurut Abdul-Matin setidaknya dapat dikaji dari konsep dasar Islam yang memiliki nilai praktis dan kaitan erat dengan tanggungjawab manusia terhadap lingkungan.

Konsep dasar yang dmaksud yaitu, prinsip tauhid, yaitu keyakinan dan kepercayaan pada keesaan Allah, yang perlu direfleksikan dalam bentuk penghargaan terhadap ciptaannya (alam). Konsep kedua, yaitu status khalifah, yang mengandung makna bahwa seorang muslim memiliki tanggungjawab untuk mengelola dan memanfaatkan secara benar sesuai dengan tuntutan Qur’an dan Hadits.

Konsep ketiga, yaitu alam sebagai ayat Allah (signs of God). Keempat, yaitu konsep amanah, yang menuntut adanya tanggungjawab dan peran nyata dari seorang muslim dalam menjalankan tugasnya di muka bumi. Kelima, yaitu prinsip keadilan (adl, justice), kemudian terakhir yaitu prinsip keseimbangan, baik dalam pengertian lahir bathin, dunia akhirat, maupun praktek hidup dengan lingkungan.

Advertisements