upahSeorang siswa menghadap, dan mengajukan pertanyaan, “pak, maaf, ini hanya sekedar bertanya, kalau siswa yang dilibatkan dalam kegiatan sekolah ini, seperti kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa, apakah mendapatkan kompensasi uang lelah atau tidak ?”

Apakah hal ini, adalah tanda-tanda gejala fabrikasi di lembaga pendidikan kita saat ini ? atau malah sebuah penguatan, bahwa gejala itu sudah sampai ke wilayah anak didik ?

Dalam konteks ini, pertanyaan anak itu merupakan pertanyaan wajar dan alamiah. Siapapun kita, mungkin akan mengajukan hal serupa, bila kita dilibatkan dalam sebuah kegiatan. Kendati demikian, kita patut untuk mencermati gejala ini dengan seksama.

Ada kegalauan dalam diri ini. Satu sisi, melihat kejadian ini sebagai sebuah fakta adanya perubahan, sedangkan disisi lain merasakan adanya sesuatu yang salah dalam kejadian itu. Iya mungkin salah, atau setidaknya salah menurut persepsiku saat itu.

Anak tetangga. Siang malam ngurusian agustusan. Mimpinya seolah hanya satu, yaitu terlaksananya kegiatan agustusan di tahun itu. Mencari dana, kumpul koordinasi, dan menghubungi ragam pihak, untuk sekedar memastikan lancarnya kegiatan agustusan. Sempat sekali waktu ditanya, apakah mereka mendapat untung dari kegiatan itu ? “tidak berharap, tetapi kalau ada, yang Alhamdulillah…” ujarnya.

Sungguh luar biasa. Pengorbanan anak muda dalam memuluskan idealismenya. Impian yang ditopang oleh idealism, umumnya melahirkan sebuah kepuasan yang luar biasa bagi pelakunya. Sementara, impian yang ditunggangi kepentingan materi, hanya melahirkan kepuasan sesaat.
Kesimpulan itu, sempat terlontar, tetapi kini terpikirkan kembali. Artinya, apa iya, anak muda sekarang ini, masih memiliki idealism seperti itu ? apa iya, bahwa idealism itu penting, dan mimpi akan upah menjadi tidak perlu ?

Tulisan ini, tidak bermaksud untuk menyalahkan mimpi seseorang untuk mendapatkan upah dari sebuah kegiatan. Wacana ini, sekedar untuk bertanya, kalau seseorang mengukur sebuah kegiatan, terlebih lagi kegiatan sekolah, atau kegiatan social diukur dengan materi, maka apa makna semua itu ?

Anak kita yang baru saja menghadap itu, kemudian melontarkan perbandingan, dengan para guru yang juga terlibat dalam kegiatan itu, tetapi mendapatkan upah dari sekolah (baca : Negara) ? jika para guru mendapatkan upah, mengapa anak-anak tidak mendapatkan upah ?

Entah apa yang terpikirkan oleh anak itu, tetapi kiranya dapat dikemukakan di sini, bahwa dalam pelaksanaan tugasnya, secara formal posisi seorang guru adalah petugas Negara yang memiliki hak dan kewajiban tertentu. Salah satu diantara haknya adalah mendapatkan upah dalam melaksanakan kegiatan pelayanan pendidikan. Sedangkan, seorang siswa, secara formal berposisi bukan sebagai pekerja, tetapi pelajar dan pembelajar, yang siap menerima pengkondisian dari lembaga pendidikan dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Karena itu, wajar bila dalam ragam kegiatannya, seorang guru mendapat upah, sedangkan seorang siswa tidak mendapatkan upah.

Anak kita yang satu ini, tampaknya belum puas dengan jawaban seperti itu. Dia memandang bahwa kewajibannya itu adalah belajar, dan bukan dilibatkan dalam kegiatan kesiswaan, sebagaimana dalam pelaksanaan peringatan hari besar nasional atau kegiatan kesiswaan lainnya. Karena itu, dia merasakan bahwa tidak ada kewajiban untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Inilah yang menjadi pusat kegalauan. Artinya, apakah hal ini, adalah gejala modern ? atau gejala pabrikasi kehidupan, yang masuk pada wilayah pendidikan ?

Terkait hal ini,  saya cenderung memahami bahwa ideology kapitalisme memang sudah memasuki ruang-ruang kehidupan yang sangat pribadi, yakni bukan saja sekolah, lembaga keluarga pun potensial akan termaknai sebagai pola hidup layaknya di dunia kerja, atau pabrik. Seorang anak, akan (minta untuk) mendapatkan upah dari orangtuanya, bila dia  mendapat tugas ngepel, nyuci, atau membantu orangtuanya di rumah. Dengan kata  lain, tidak mengherankan, bila kemudian seorang siswa pun akan minta upah, bila mendapatkan tugas (diluar tugas belajar kurikuler) dari gurunya atau sekolahnya.

Lebih kritisnya lagi, apakah gejala itu merupakan bagian dari ideology fabrikasi atau manufakturisasi pendidikan ! kalau dulu, para penyelenggara pendidikan yang sudah dituduh atau kapitalisasi, apakah dengan gejala ini, itu artinya, bahwa ideologi itu sudah sampai ke tingkat siswa ?

Advertisements