Waktu kampanye bilang begini, sekarang bilang begitu ! waktu ditanya dulu, jawabannya begitu, kok sekarang begini ? katanya itu, tapi kok ini ?

Bukan hanya dalam konteks pemerintahan, di kantor, di organisasi atau di tempat lain pun, kadang kita bertemu dengan orang yang biasa disebut dengan ‘pembohong”.

Kita sering mendengarkan kebijakan, atau keputusan, atau sikap pemerintah atau pimpinan kita mengenai sesuatu. Tetapi, sesering itu pula, kerap kali ada sesuatu yang mengganjal dalam diri kita mengenai kebenaran apa yang mereka ucapkan.

Aha !

Ini mah kebetulan banget. Tidak disangka-sangka ada buku yang berjudul, mengapa para pemimpin itu suka berbohong ?” (why leader lie), tulisan dari John J. Mearsheimer.

Menarik, dari karya ini, setidaknya kita dapat informasi mengenai teknik memahami dan menelaah ucapan seseorang, termasuk memahami makna dari sebuah pernyataan. Melalui karya itu, kita mendapatkan informasi mengenai pernyataan yang benar, bohong, melingkar dan menyembunyikan kebenaran.

Kebenaran adalah perkataan yang secara kuat, didukung oleh fakta atau data. Sedangkan bohong adalah pernyataan yang tidak didukung oleh fakta. Kedua batasan ini, memang masih terlalu umum, dan sudah biasa kita dengar dalam keseharian.

Masalah pokoknya, kita tidak akan dengan mudah untuk menemukan pernyataan seorang pemimpin yang bohong.  Karena, si penuturnya sendiri, tidak merasa bohong.  secara pribadi mereka mengatakan sesuatu dengan benar.

Memang betul. Yang paling bahaya itu, bukan pola pikir yang salah, yang  paling bahaya itu, adalah orang yang merasa benar dengan pola pikir yang salah.  Kalau kita bohong, mungkin mudah disadarkan, tetapi kalau kita merasa benar dengan pernyataan bohong kita, maka itu adalah sebuah bencana !

apakah pemimpin di lembaga itu berkata bohong ?

Mungkin mereka tidak mau, disebut berbohong. Tetapi, menurut John J. Mearsheimer, para pemimpin itu, ada yang suka menyampaikan informasi yang menguntungkan posisinya, dan menyembunyikan (concealment) sebagian informasi yang potensial menganggu dirinya.

Misalnya,jika para anggota diberi tugas ke luar kota, dia hanya diberi SPJ ‘minimal’, sedangkan kalau dirinya (sebagai pemimpin) mendapatkan dana SPJ yang maksimal. Bagi karyawannya sendiri, dia tidak tahu, dana SPJ untuk dirinya. Dengan diberi ongkos saja, dia sudah merasa cukup. Karena itu, tidak mengherankan, kalau bawahannya yang pergi di beri ongkos Rp. 25.000, tetapi kalau dirinya yang berangkat, bisa mendapatkan biaya dari bendahara sebesar Rp. 500.000.

Lain lagi, yang disebut dengan berpikir melingkar (spinning). Menjawab masalah itu tidak mesti panjang-panjang. Karena panjangnya jawaban, tidak menggambarkan kualitas jawaban. Pemimpin yang tidak memiliki jawaban yang pasti, kerap kali memberikan jawaban yang panjang dan berbelit-belit, tetapi ujungnya tetap tidak jelas. Orang yang seperti itu pun, disebutnya dari jenis pembohong dalam berdiplomasi.

Lumayan. Jika kita menelaah karya ini, dapat dijadikan sebagai modal untuk menganalisis atau mengomentari pernyatan seorang pejabat ! walaupun, dalam membaca dan menelaahnya, kita harus tetap berfikir kritis.

Advertisements