Tertarik dengan penampilan, itu alamiah. Tetapi, tertarik dengan sesuatu yang alamiah, itulah yang akan menjadi fondasi kuat dalam menjalin hubungan.

Kita perlu menaruh kepercayaan pada seseorang, tapi jangan percaya pada informasi hanya dari satu orang !

Di media massa, kerap kali muncul berita penculikan seorang gadis oleh seorang pria yang dikenalinya dari media jejaring social. Bukan kasus, dan tidak hanya sekali. Kejadian itu, telah terjadi beberapa kali. Oleh karena itu, kejadian dan peristiwa seperti ini, patut untuk menjadi perhatian kita semua.

Seperti yang dikemukakan Terry Ulick dan Alyssa Wodtke (2005), media jejaring social atau internet yang ada saat ini, memang menyediakan ruang terbuka dengan jumlah jaringan yang tak terhingga bagi mereka yang ingin menjalin shilaturahmi atau kencan.

Realitas ini, memiliki dua wajah. Artinya, ada berita baik dan juga berita buruk. Berita baiknya, membuka ruang pilihan yang beragam, bagi seseorang yang berkehendak untuk menjalin shilaturahmi atau kencan dengan orang lain. Berita buruknya, kita tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai kualitas keamanan atau kebenaran dari pengunjung situs tersebut.

Salah satu dampak dari berita buruk itu, yaitu munculnya kasus penipuan, penculikan atau pemerasan melalui media jejaring social. Hal itu menggambarkan bahwa dating (kencan) di media jejaring social, atau dunia maya, memang potensial ada masalah. Bila tidak hati-hati, memudahkan seseorang terjebak pada situasi yang merugikan dirinya sendiri.

Dalam konteks itulah, Terry Ulick dan Alyssa Wodtke (2005) memberikan catatan mengenai tip atau trik untuk menjalin komunikasi, shilaturahmi atau kencan yang aman.[1]

Pertama, perhatikan merk penyelenggaranya (brand). Jangan asal gabung. Kalau citra lembaga penyelenggara kurang dikenal, pertimbangkan kembali untuk menggunakannya. Jangan asal klik atau asal gabung.

Kedua, bergabunglah dengan situs atau komunitas yang satu hobi atau peminatan. Cara ini memudahkan untuk saling mengontrol dan mengawal. Karena pada dasarnya, mereka yang memiliki satu hobi atau satu peminatan, akan memudahkan untuk saling mengenalinya. Jangan memaksakan diri untuk bergabung dengan kelompok yang asing, atau ‘anda buta’ mengenai komunitas tersebut.

Ketiga, perhatikan maksud dan tujuan awal. Kebanyakan para pengguna itu, didorong oleh motif, ingin mengetahui apa yang sudah dilihatnya di dunia maya. Motivasi ini, tidak melulu masalah upaya mencari cinta (love). Mereka lebih didorong oleh keinginan untuk mengetahui detil dari gambar yang dilihatnya. Karena itu pula, tidak jarang banyak orang yang mengunggah foto hasil rekayasa, demi memancang hasrat para pengguna itu sendiri.

Dalam kaitan ini, renungkan pesan dari Ulick dan Wodtke, bahwa jika seseorang tidak tertarik dengan Anda sebagaimana adanya, maka dia bukanlah milikmu atau bukan pasanganmu. Karena itu, kalau mereka tergiur dengan rupa-foto yang Anda unggah, membutuhkan kehati-hatian ekstra untuk bisa berkencan dengannya.

Tertarik dengan penampilan, itu alamiah. Tetapi, tertarik dengan sesuatu yang alamiah, itulah yang akan menjadi fondasi kuat dalam menjalin hubungan.

Dalam rangka memaparkan citra alamiah itu, memang agak sulit, atau setidaknya membutuhkan waktu yang cukup dan usaha yang berlebih. Dunia maya yang ada hari ini, adalah sebuah kekuatan besar yang mampu menampilkan apapun dalam bentuk bagaimanapun. Kemampuan manusia dalam memaksimalkan teknologi ini, mampu merekayasa, bukan saja berita, tetapi juga penampilan.

Untuk memastikan informasi mengenai citra ini, maka check and recheck menjadi sangat penting. Carilah informasi tambahan dari link yang terkait, atau sisi lain, sehingga kita bisa mendapatkan informai paripurna mengenai informasi yang tengah kita butuhkan.

Kita perlu menaruh kepercayaan pada seseorang, tapi jangan percaya pada informasi hanya dari satu orang !

Trik itulah yang disebutnya dengan tahapan mencari situs untuk menemukan cinta.

———————————————————–

[1] Terry Ulick, Alyssa Wodtke, Truth, Lies, and Online Dating: Secrets to Finding Romance on the Internet, Canada : Thomson Course Technology PTR, 2005.

Advertisements