Untuk menata hari esok, dibutuhkan pribadi yang mencintai dunia dan juga mencintai akhirat atau pribadi yang hubbud dunya wal maut, dan bukan hubbud dunya wa karohiyatul maut, atau hubbul maut wa karohiyatud dunya.

Pikiran ini muncul saat kita mencermati dan berkebutuhan untuk memecahkan masalah  krisis. Sebagaimana kita ketahui, bahwa krisis kerap muncul dalam kehidupan kita. Peradaban kita sekarang ini pun, ada dalam fase krisis, baik itu krisis social, nasional maupun krisis global. Mengapa krisis itu terjadi dan melanda kehidupan kita sekarang ini ?


Untuk menjawab persoalan ini, kiranya kita dapat belajar dari pandangan futuristic Rasulullah Muhammad Saw.

Hadis diriwayatkan daripada Thauban ra, bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”
Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat? “

Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”
Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al – Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”
Pertanyaan kita sekarang ini, adalah bagaimana cara menghindari takdir itu ? bagaimana cara mengatasi masalah itu ?

Entah kenapa, dalam benak ini kemudian terbersit pemikiran mengenai kuadran pemikiran. Kuadran pemikiran ini, diduga dan diharapkan dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Pertama, masalah yang dikhawatirkan Rasulullah Muhammad Saw, adalah munculnya mental ‘hubbud dunya wa karohiyatul maut’ (cinta dunia dan takut mati). Dari mentalitas ini, menjadikan umat Islam terjebak pada kepentingan duniawi, dan melupakan kepentingan akhirat.

Kedua, potensial melahirkan pribadi muslim dengan pribadi yang menjadi balikan dari karakter pertama, yaitu mereka itu memiliki mental ‘hubbulmaut, wa karohiyatud dunya’. Cinta mati, tetapi benci dunia. Sikap antipati pada dunia, dan cenderung mengutamakan kehidupan akhirat.

Apakah sikap orang yang rela mati atau bunuh diri, termasuk kategori ini ? mereka berprasangka buruk pada dunia, dan menganggap bahwa dengan bunuh diri, bisa dianggap dapat menyelesaikan masalah ? atau, mereka menganggap bahwa mati itu lebih baik ? kiranya mereka itu, adalah merasa lebih siap mati daripada siap hidup !

Ketiga, ada yang memiliki mental “karhah dunya wal maut’. Mereka itu benci dunia dan kematian. Mentalitas ini, kita sebut mentalitas skeptic. Skeptis terhadap dunia dan juga skeptic terhadap akhirat. Kategori ketiga ini, merasa hidup tidak bermakna. Dunia seolah tidak berpihak kepadanya, akhirat pun tidak bisa diandalkannya untuknya. Ragu dan curiga, serta tidak yakin dengan hidup dan kehidupan. Galau !

Di luar hal itu, dugaan positif dari pemikiran ini, untuk membangun peradaban masa depan, umat Islam khususnya, dan umat manusia pada umumnya, sejatinya harus mengedepankan sikap hubbud dunya wal maut. Artinya, optimis dan bergairah hidup di dunia, serta sehat dan optimis dalam menjemput kematian. Dunia itu ril dan ahirat atau kematian pun ril, keduanya harus dihadapi dengan sikap positif.

Dunia ini perlu dikelola oleh orang yang penuh tanggungjawab. Jangan biarkan dunia rusak dan terbengkalai.  Hanya pribadi yang cinta lingkungan, cinta dunia, dan cinta kehidupan (hubbud dunya) itulah yang diharapkan memiliki tanggungjawab besar dalam manajemen-hidup (khalifah di bumi).

Cinta dunia tidak cukup untuk menjadi khalifah.  Kompetisi manajerial dalam mengelola kehidupan, perlu disandingkan dengan kesadaran akan nilai-nilai luhur yang berdampak sistemik pada kehidupan akhirat. Karena itu, pribadi khalifah itu adalah orang tanggungjawab pada dunia, tetapi juga siap menghadapi tantangan akhirat. Itulah yang disebut, mencintai kehidupan dan juga siap mental dengan kematian.

Advertisements