“alhamdulilllah, buku terakhir saya, termasuk best seller”, ujar seorang rekan yang kini menjadi dosen muda pada sebuah sekolah tinggi di Kota Bandung. Pernyataan ini diungkapkan, saat bertemu di kampus, dan membincangkan mengenai dinamika menjadi tenaga honorer di Kota Bandung.
Rekan seprofesi kita ini,   tengah menduduki posisi akademik sebagai mahasiswa doctoral di sebuah perguruan tinggi. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, beliau ini masih dalam status mahasiswaku di kampus ini.

“sejak 2013 lalu, dan dalam waktu yang cukup singkat, buku itu sudah terjual hingga 600 eksemplar” ujarnya penuh bangga.

“wah hebat, syukurlah kalau demikian, berarti buku itu diterima masyarakat…” koment-ku.

“iya, kang, itu kan juga karena peran kita sebagai tenaga pengajar, turut serta dalam proses penjualan buku tersebut. Buku sendiri, di jual kepada mahasiswa sendiri, jadi relative cepat untuk bisa naik cetak ulang…” paparnya, dengan penuh rasa bangga dan bahagia. Pengajar muda yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi, serta memiliki sejumlah karya, termasuk yang dikategorikan sebagai best seller tadi.

Kita semua paham. Saat kita beli buku, kerap ada logo best seller. Logo “Best seller” kerap hadir dalam sebuah buku. Logo itu disematkan pada sebuah buku, dengan maksud untuk meneguhkan popularitas dan kualitas buku itu dihadapan pembaca atau pelirik buku baru. Logo itu menunjukkan bahwa buku tersebut mendapat apresiasi yang baik dari masyaakat, dan menjadi buku dengan tingkat penjualan yang baik dalam kategorinya. Best seller artinya buku yang sangat laku, begitulah kira-kira makna umum yang bisa dicermati dari logo tersebut.

Mendengar kisah itu, kadang merasa iri. Rasanya ingin sekali memiliki tulisan atau buku yang masuk dalam kategori best seller. Tetapi, bila demikian adanya, dan atau menyimak pengakuan rekan kita tadi, saya merasakan bahwa ada makna baru dari istilah best seller tersebut.

Pertama, ada buku yang dimasukkan dalam kategori best seller, karena memang mendapat sambutan luas dari pasar. Masyarakat pada umumnya, memberikan apresiasi positif dan memanfaatkan buku itu sebagai bagian referensinya. Terdapat cukup banyak, buku dengan status best seller karena kualitas ini. Novel atau buku motivasi dan manajemen, barangkali banyak yanag bisa disebutkan di wilayah ini.

Kedua, ada buku yang termasuk kategori best seller, karena si penulis yang juga adalah dosen pada sejumlah perguruan tinggi, menjadikan buku tersebut sebagai buku wajib bagi mahasiswanya. Bila sang dosen itu memiliki mahasiswa sekitar 200 mahasiswa, dan mengajar pada 5 perguruan tinggi, maka setidaknya dalam satu semester sudah ada 1000 eks buku terjual ke pasaran. Buku serupa ini, potensial masuk dalam kategori best seller.

Ketiga, sebuah buku menjadi best seller karena memiliki jaringan asosiasi tenaga kependidikan serumpun. Dengan memanfaatkan rumpun mata kuliah itu, kemudian buku-buku tersebut dapat direkomendasikan sebagai buku pegangan.

Diluar itu, ada juga yang diduga, melakukan pencitraan best seller dengan cara membeli sendiri. Dengan modal sendiri, dengan menggunakan tangan orang lain, untuk membeli dan atau dibagikan kepada orang lain. dengan pembelian besar-besaran itu, secara pasar akan menyebabkan buku itu dicitrakan laris. Ini illegal, tetapi potensial bisa terjadi, sehingga kemudian pihak penerbitnya menyebutnya sebagai best seller !

Apapun jenis atau kategorinya, satu dengan yang lainnya tersebut, memang layak menyandang status buku best seller. Tetapi kiranya, perlu dibedakan antara best seller cultural dan structural atau yang ilegal. Disebut best seller cultural, karena popularitas dan kualitas buku menjadi aspek pokok yang menyebabkan buku itu laris manis di pasaran. Sedangkan, buku disebut best seller structural, bila penjualannya lebih disebabkan karena adanya aspek ‘formal’ dalam penjualan. Seperti, dijual di dalam kelas, dan dijadikan bagian dari penghargaan atau hadiah dalam seminar yang diciptakan si penerbit atau penulis.

Selain yang illegal, tidak ada yang buruk diantara keduanya. Tetapi, dalam perspektif studi budaya, label ‘best seller’yang muncul pada sebuah buku, perlu diapresiasi dengan tepat dan kritis sesuai konteksnya. Di sinilah, letak pentingnya sikap kritis dalam memahami fenomena buku best seller di masyarakat.

-o0o-

n.b.  Numpang prmosi, KARYA  Momon Sudarma,

(1) Sosiologi Untuk Kesehatan,

(2) Profesi Guru, dicaci dan dikritisi,

(3) mengembangkan berfikir kreatif, dan

(4) menjadi scriptwriter profesional.

Advertisements