Berulang kali. Saat membincangkan mengenai nasib bumi ini, berita-berita mengenai perubahan iklim, kerusakan lingkungan, kerusakan kota, kekeringan, kekurangan air bersih, dan sampah. Terus menerus menjadi bahan pembicaraan.

Setiap tiba hari bumi, perhatian kita, seolah diajak balik untuk kembali melihat, mengamati, memahami dan juga merenungkan mengenai nasib bumi. Menurut Supardiyono Sobirin (2014), di sepanjang tahun, hampir di setiap bulannya ada peringatan-peringatan dunia, yang dijadikan sebagai ‘hari-hari lingkungan hidup”.

Sekedar contoh, 15 Januari Hari Laut Dan Samudera Nasional, 02 Februari Hari Lahan Basah Sedunia, 21 Maret Hari Hutan Sedunia dan 22 April Hari Bumi. Semua itu, diajukan, sebagai bagian dari kepedulian kita tehadap keselamatan bumi, dan keberlanjutan kehidupan kita di bumi ini.

Indonesia, termasuk Negara yang kerap mengdapapi masalah lingkungan. Di awal tahun 2014 ini, kasus pembakaran hutan di Riau menjadi pemberitaan luas baik dalam maupun luar negeri.

Apa yang dapat kita pahami dengan peristiwa kali ini ?

Dengan bercermin pada kejadian pembakaran hutan di Riau, sebagaimana yang terjadi di tahun 2014, setidaknya kita dapat membedakan peristiwa lingkungan hidup itu, dalam dua hal.

Pertama, kebakaran hutan itu bisa terjadi sebagai sebuah musibah atau bencana, yaitu bila kekeringan dan panas terik matahari yang kemudian menyebabkan kebakaran. Ini artinya, kita dapat melihat sejumlah peristiwa lingkungan, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan banjir adalah peristiwa-peristiwa alam yang menyebabkan terganggunya ekosistem kita. Peristiwa yang pertama ini, kita sebutnya sebagai sebuah bencana atau musibah lingkungan.

Untuk agenda yang pertama ini, pemikiran mengenai mitigasi lingkungan dan adaptasi lingkungan menjadi sangat penting. Pemerintah dengan tim ahli lingkungan, diharapkan dapat mengkomunikasikan ide-ide kreatifnya dalam praktek mitigasi dan adaptasi lingkungan.

Tetapi, untuk aspek yang kedua, sesungguhnya kebakaran hutan tidak melulu disebut musibah atau bencana lingkungan. Kebakaran dikategorikan sebagai tindakan criminal. Kategori ini, dapat kita kembangkan pada seluruh perilaku manusia yang mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan kelestarian dan kepentingan manusia dan lingkungan. Penampangan yang tidak memperhatikan lingkungan.

Perlu dikemukakan di sini, lingkungan itu sama halnya dengan manusia. Manusia memiliki hak hidup. Lingkungan pun memiliki hak lestari. Terjaminnya hak lingkungan adalah prasarat keberlanjutannya kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembangunan pabrik yang abai terhadap Amdal (analisis mengendai dampak lingkungan). Pembangunan kompleks perumahan yang abai terhadap kebutuhan ruang hijau terbuka. Semua tindakan itu, karena sudah ada regulasinya di Indonesia, maka bencana lingkungan yang disebabkan terhadap pengabaian ‘hak-hak lingkungan’ perlu diposisikan sebagai sebuah kriminalitas terhadap lingkungan.

Jika masalah pertama perlu mitigasi bencana dan adaptasi, maka untuk keperluan yang kedua ini, adalah penegakkan hokum dan pendidikan kesadaran lingkungan. Penegakkan hokum diarahkan untuk menindak para pelaku kejahatan, sementara kesadaran lingkungan untuk membangkitkan kesadaran masyaakat dalam menjaga lingkungan.

Advertisements