Di tengah dinginnya malam. Duduk termenung, sambil merenungkan nasihat dari Ustadz Iing Ahmad Nasrudin. Sebagai pimpinan doa, di malam itu, beliau mengajak yang hadir, untuk mentafakuri peristiwa yang baru saja terjadi. Ayahanda dari Sahabat kita, Dede Abdul Bar, M.Pd., Jum’at siang, sekitar pukul 13.00 WIG (Waktu Indonesia bagian Garut) meninggal dunia.

Malam itu, 9 orang dari Kota Bandung, hadir di rumah duka, keluarganya Kepala MAN Ciparay Kabupaten Bandung. Kami menyengaja datang, sekedar untuk shilaturahmi dan turut berdoa, untuk keselamatan keluarga dan almarhum. Berangkat sekitar pukul 19.00 WIB (Waktu Indonesia bagian Bandung). Sampai ke Garut pulul 20.45 menitan, saat ku tatap jam dinding di ruangan itu.

“Wah cukup lama”  pikirku yang juga ditimpali oleh rekan-rekan yang lainnya.

Selepas melepas lelah dan berbicang ke sana ke mari. kemudian tibalah waktunya mendoakan almarhum. Doa ini dipimpin oleh sahabat kita, yang juga Kepala MTS Al-Misbah. Kendati disampaikan dalam bahasa daerah, Sunda, namun maknanya sangat mendalam. Kata orang Garut mah, nyerep kana hate (menyentuh kalbu). Sewaktu di kedalaman tafakkuran itulah, terbersit mengenai makna kematian.
Kematian adalah haq. Adalah kepastian. Yang tidak pasti itu hanyalah waktu dan penyebabnya.

Kematian itu pasti datang. Hal yang belum pasti itu, adalah apakah perbuatan kita yang mempercepatnya datang, atau dia hadir menjemputnya sendiri.

Kematian itu adalah hal biasa. Hal yang menyebabkan luar itu adalah kesiapan mental dalam menghadapi kematian.

Kematian itu mirip safari atau perjalanan panjang. Tidak perlu kita takut dengan kematian. Hal pokok yang harus ditakuti itu, adalah menjalani proses perjalanan tanpa perbekalan.

Kematian hanyalah kendaraan menuju satu tempat. Tidak perlu takut dengan kematian, karena yang perlu ditakuti itu adalah kendaraan itu mengantarkan kita ke terminal yang mana ?

Garis bawah dari semua itu, selama ini kita merasakan bahwa kematian itu adalah meninggalkan kita. Seringkali kita mengartikan bahwa orang meninggal itu adalah orang yang meninggalkan kita. Bukan. Bukan (hanya) meninggalkan kita. Tetapi ruh orang yang meninggal itu, tengah pergi bertemu dengan Zat yang Maha Dicintai-nya, dan berkumpul dengan saudara-saudaranya yang sudah lebih dulu kumpul di Surga-Nya Allah Swt.

Sehubungan hal ini,ucapan dan pernyataan ini, memang bukan nasehat yang disampaikan Ustadz Iing Ahmad Nasrudin malam itu. Tetapi, nasihatnya di malam itulah, yang menyadarkan dan menginspirasi tulisan ini.Jazakallah khairan katsiro Ustadz..

Advertisements