Saya termasuk orang yang tidak paham, mengapa media kita, termasuk juga para analis, kurang memberikan pencerahan dalam mensikapi perilaku politik di negeri ini. Untuk kasus yang satu ini, pemilik media dan atau pengamat, seolah membiarkan konsep kampanye negative berkeliaran, tanpa penjelasan, dan tanpa kendali. Bahkan, penggunaannya cenderung menjadi tidak dewasa, dan tidak mengarah pada pemanfaatan istilah yang benar.

Kampanye negative, adalah istilah yang digunakan oleh media dan pengamat dalam membincangkan perang ide dan gagasan, serta strategi kandidat di pemilihan umum. Sayangnya, ketika antar kandidat itu memiliki amunisi untuk menyerang kelemahan lawan, langsung oleh para awak media dan atau pengamat (mungkin pendukung lawan politik), diposisikannya sebagai kampanye negative, dan dinilai sebagai pelanggaran etika kampanye.

Pertanyaan sederhananya, apa tidak boleh berkampanye dengan menggunakan isu kelemahan karakter, system, atau jejak rekam politisi terkait ?

Bukankah, dalam berpolitik dan kompetisi politik seperti saat pemilu ini, adalah mencari figure yang terbaik, dan mengeliminasi kandidat yang potensial bermasalah ?

Memang tepat,tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, apakah menjadi tidak tepat, bila diangkat mengenai kelemahan, atau kekurangan kandidat itu sehingga menjadi bahan pertimbang public dalam proses pemilihan pemimpin itu sendiri ?

Di wacana berbahasa asing sendiri, ada dua jenis kampanye yang kerap dicampuradukkan oleh kita di sini, yaitu istilah kampanye negative dan kampanye hitam (black campaigning). Untuk kampanye negative (negative campaigning), dimaksudkan yaitu mengangkat isu negative dari lawan politik. Isu negative ini, dimaksudkan untuk melawan isu-isu kampanye dari lawan politiknya. Misalnya, seorang incumbent mempromosikan bahwa selama kepemimpinannya dianggap sudah berhasil dengan baik, terjadi pertumbuhan di berbagai bidang kehidupan bangsa dan Negara.

Bagi lawan politik, isu kampanye incumbent itu perlu dilawan. Cara melawannya, yaitu dengan memanfaatkan data dan informasi yang akurat mengenai negatifnya kepemimpinan dari incumbent itu, seperti isu korupsi, isu pemborosan ekonomi, isu penjualan asset, isu ketidaksuksesan program pembangunan dan lain sebagainya. Jika kita memanfaatkan isu itu, maka kampanye kita disebut kampanye negative, yaitu berusaha mengangkat isu negatifnya dari lawan politik. Bentuk nyata dari kampanye ini, yaitu menyerang dan atau iklan yang kontras berbeda dengan lawan politiknya (http://en.wikipedia.org/wiki/Negative_campaigning).

Berbeda dengan kampanye hitam atau propaganda hitam (black propaganda). Jenis kampanye ini, menggunakan isu yang tidak jelas, tanpa data, dan/atau isu-isu palsu, dengan maksud untuk memojokkan atau menghina lawan politik.(sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Black_campaign).

Berdasarkan pertimbangan ini, jika seorang warga menginformasikan mengenai jejak rekam seorang kandidat di masa lalu, kasus korupsi di partai tersebut, apakah masuk dalam kategori kampanye hitam ?

Perlu dicatat di sini, andai kita mencampuradukkan makna dari kampanye negative dengan kampanye hitam, maka demokrasi di negeri kita ini, hanya akan menjadi demokrasi yang dipenuhi oleh “kampanye alay”.Kampanye alay itu, ditandai dengan kampanye yang saling memuja, saling memuji, dan membanggakan diri, serta menyampaikan khayalannya (ide utopis) dari kandidatnya sendiri. Lagi pula, partai yang bersih akan diserang dengan kampanye hitam. Sedangkan untuk mempertahankan kekuasaannya, partai yang korup akan menyerang lawan politiknya sebagai pelaku kampanye negative ! nah, bingung kan ?

“lanjutkan dan tingkatkan…..”

‘kami berjuang demi rakyat…”

“Indonesia akan menjadi negara besar di masa mendatang..”

‘misi kita akan menjadi Negara sejahtera….”

Di pojok rumah, rakyat kecil hanya tersenyum, sambil berguman, “para caleg itu lagi ngomong apa ya…?

Advertisements