“saya baru sadar, ternyata benar, menatap wajah ibu-ibu guru ini, membuat hati ini gameter sekujur tubuh…” ujar seorang rekan,”ini baru ku sadari. Selama ini, tidak pernah ada perasaan apa-apa kalau melihat wajah ibu-ibu di sini. Tetapi kali ini, terasa beda, melihat wajahnya, terasa hati ini bergetar tidak karuan…”

Sudah dua minggu terakhir, kesibukan ibu-ibu di ruang guru sangat ‘memanas’. Di setiap harinya, mereka duduk di meja kerjanya, dan terus mencatatkan berbagai hal ke ragam dokumennya. Terdapat banyak hal yang dituliskan. Ada yang melengkapi kehadiran, melengkapi nilai, melengkapi data-data tugas, dan lain sebagainya. Intinya sejumlah dokumen perangkat pembelajaran, dilengkapkan sudah.

Kemuduan dua hari sebelum hari -H, adalagi kebiasaan unik dari mereka itu. Biasanya mereka gelisah dan gatal pantat bila sudah menjelang pukul 13.00 WIB. Kali ini, malah berani berlelah-lelah diri bekerja dan mengerjakan sesuatu hingga sore hari. Tiada yang lain, kecuali membereskan masalah perangkat pembelajaran.

Untuk apa dan mengapa begitu ?

“ini, ada verfifikasi dari pengawas, terhadap guru-guru yang sudah disertifikasi..?” ujar sebagian guru yang kebetulan berdekatan dengan yang lainnya.“ah, beruntung, saya belum sertifikasi…” timpal yang lainnya.

“beruntung darimana ?”timpasnya,
“masa belum disertifikasi beruntung?!!” sergah yang lainnya
“iya sih, rugi juga belum disertifikasi itu,” jawabnya singkat, “maksudku, beruntung jadi tidak sesibuk kalian semua…” lanjutnya, “tidak seperti ibu-ibu, harus pemberkasan verifikasi perangkat pembelajaran.

Betul, ada untung ruginya. Bagi mereka yang belum sertifikasi sudah tentu tidak disibukkan dengan ragam pemberkasan seperti yang hari itu sedang terjadi. Bapak dan Ibu guru, tampak lelah dan juga tidak karuan jiwanya dalam menghadapi proses sertifikasi ini.

Di kelompok lain, ada kelompok bapak-bapak, yang relative lebih santai. Mereka itu santai dan tidak ‘riweuh’ seperti yang terjadi pada ibu-ibu.

“saya baru sadar, ternyata benar, menatap wajah ibu-ibu guru ini, membuat hati ini gameter sekujur tubuh…” ujar seorang rekan,”ini baru ku sadari. Selama ini, tidak pernah ada perasaan apa-apa kalau melihat wajah ibu-ibu di sini. Tetapi kali ini, terasa beda, melihat wajahnya, terasa hati ini bergetar tidak karuan…”

Sementara diantara kaum ibu, ada juga yang menimpali komentar itu, “tetapi kalau menatap wajah bapak-bapak, kelihatan tenang dan menyejukkan…” ungkapnya.
Sebuah ungkapan yang multitafsir. Tetapi sudah pasti,yang dimaksudkan itu, sekedar untuk cerita, bahwa kaum ibu saat itu, jauh lebih sibuk, seolah tegang dan rariweuh,sementara bapak-bapak ghurunya pada cuek aza. Mereka cuek itu, entah karena sudah lengkap atau memang karena sifatnya yang membandel !!?? entah lah…

Hanya saja, di pojok meja ada teman yang berkata, “wah, benar, kalau bisa mah jangan lirik kanan kiri, atau dengar ucapan orang. Setiap mendengar obrolan ibu-ibu, harus ada ini,dan itu, belum ada ini dan itu, membuat hati ini gelisah, habis saya gak punya.Melihat kesibukkan ibu-ibu di ruangan ini, malah tambah stress…”paparnya. Teman yang satu ini, termasuk orang yang juga larut dalam kesibukan dalam persiapan verifikasi data kali itu.

Advertisements