Diamnya pemimpin saat rakyat kreatif, menunjukkan pemimpin yang peduli pada kemajuan. Tetapi diamnya pemimpin saat rakyatnya jumud, adalah kematian. Itulah kematian peradaban.

Bila kita membahas, masalah Sunnah Nabi Muhammad Saw, salah satu konsep yang biasa ditemukan, yaitu taqriri Rasulullah. Konsep ini, mendampingi konsep lain, dalam memahami makna sunnah nabi.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan Hadits Taqririyah, yaitu Hadits Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat yang diketahui Nabi tidak menegurnya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung mendiamkannya

Contohnya dalam suatu jamuan makan sahabat Khalid bin Walid menyajikan makanan daging biawak dan mempersilakan kepada Nabi utk meni’matinya bersama para undangan.

Rasulullah saw. menjawab Tidak . Berhubung binatang ini tidak terdapat di kampung kaumku aku jijik padanya! Kata Khalid Segera aku memotongnya dan memakannya sedang Rasulullah saw.  melihat kepadaku.

Dalam sebuah hadist, yang diriwayatkan Bukhari –Muslim dari AbuKhurairah, r.a. :

“Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal setelah selesai shalat Shubuh, ‘Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku sebaik-baik amalan yang telah engkau kerjakan dalam Islam, karena aku telah mendengar suara terompahmu di dekatku di Surga?’ Ia menjawab, ‘Sebaik-baik amal yang aku kerjakan ialah, bahwa setiap kali aku berwudhu’ siang atau malam mesti dengan wudhu’ itu aku shalat (sunnah) beberapa raka’at yang dapat aku laksanakan.’

Atau kisah dua Shahabat yang melakukan safar, keduanya tidak menemukan air (untuk wudhu’) sedangkan waktu shalat sudah tiba, lalu keduanya bertayammum dan mengerjakan shalat, kemudian setelah selesai shalat mereka menemukan air sedang waktu shalat masih ada, maka salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu’ dan shalatnya, kemudian keduanya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Lalu beliau bersabda kepada Shahabat yang tidak mengulangi shalatnya, “Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah.” Dan kepada yang lain (Shahabat yang mengulangi shalatnya), beliau bersabda, “Engkau mendapatkan dua ganjaran.”

Pelajaran penting dari kisah itu, yakni, seorang pemimpin, sebagaimana yang ditunjukkan Rasululah Muhammad Saw, sangat apresiatif terhadap amalan, perbuatan atau program yang aktif, intelek dan solutif dalam memecahkan masalah.

Dalam kehidupan kita sekarang ini, malah terbalik. Dalam kelas, seorang siswa kritis, kadang disebut sebagai nakal dn tidak hormat pada guru. Kalau ada bawahan kreatif, dianggapnya membangkang pada atasan. Sementara kalau bawahannya, diam saja, dianggap penurut.

Ada pemimpin yang gelisah kalau rakyatnya cerdas, dan merasa bangga dan merasa sukses, kalau rakyatnya diam  membisu.

Padahal, karakter pemimpin itu, mestinya taqriri dalam kebaikan dan kreativitas, buka taqiri dalam kebisuan  atau kejumudan.

Diamnya pemimpin saat rakyat kreatif, menunjukkan pemimpin yang peduli pada kemajuan. Tetapi diamnya pemimpin saat rakyatnya jumud, adalah kematian. Itulah kematian peradaban.

 

Advertisements