Spesialisasi ilmu geografi ini, meminjam istilah Strahler (1984) merupakan sebuah bentuk kepakaran dari seorang ilmuwan geografi.  Hal itu pun, juga merupakan konsekuensi logis, dari luasnya ruang lingkup kajian geografi.  Spesialisasi geografi tersebut, tidak saja, dalam bidang teknologi keilmuan (seperti SIG dan Pemetaan), tetapi juga dalam bidang-bidang spesialis lainnya.

Salah satu butir kegelisahan itu, mengarah pada penjelasan mengenai cabang-cabang geografi. Selama ini, kita memang sudah sering mendapatkan informasi mengenai cabang-cabang geografi. Sudah banyak tokoh yang memberikan ajuan dalam memahami mengenai cabang geografi ini.

Ada yang membedakan geografi dari sudut ‘kelembagaan’, yakni mengacu pada struktur jurusan di peguruan tinggi, geografi itu dipilah menjadi dua kelompok yakni geografi pendidikan dan geografi nonkependidikan (sains). Ada yang memilahnya berdasarkan disiplin ilmu, sehingga menjadi geografi manusia dan geografi fisik. Ada juga yang membedakan geografi dari sudut pandang filsafat keilmuan, sehingga menjadi geografi murni dan geografi terapan, Ada yang membedakannya dari sudut sistem berfikir, sehingga menjadi geografi ortodoks dan geografi terpadu.

Pandangan-pandangan itu sudah memiliki kebakuan pemikiran, dan pendukungnya. Tetapi, karena kegelisahan ini terus muncul, merasa perlu juga untuk urun rembug dalam memahami bidang-bidang geografi tersebut. Ruang ini diajukan, selain menghapus kepenasaran diri, juga merangsang kita untuk bisa   mengkaji kembali terhadap struktur keilmuan geografi itu sendiri.

Meminjam fenomena yang terjadi di dunia kedokteran, saya ingin membagi geografi pun ke dalam dua bidang yang serupa, yaitu geografi umum dan geografi   spesialis. Geografi umum diacukan pada kerangka piker yang regional, dan bersifat umum. Sedangkan geografi spesialis, yaitu mengacu pada salah satu cabang kajian geografi, dengan kekhususan keahlian yang lebih spesifik.

Seorang Geografi Umum, atau selanjutnya disebut ahli geografi umum (AGU) atau Sarjana Geografi Umum (SGU), memiliki pengetahuan umum mengenai cabang-cabang kegeografian. Keahlian didapat dari hasil perkuliahan, dengan struktur matakuliah yang bersifat umum, yaitu mencakup sejumlah keterampilan dan pengetahuana geografi .

Sementara seorang Ahli Geografi Spesialis (AGS) atau Geografi Spesialis (GS) adalah peserta didik yang sudah menjalani proses pembelajaran spesialisasi dalam bidang keterampilan geografi tertentu. Bukan saja pengetahuan umum kegeografiannya, tetapi dia sudah memasuki pada wilayah geografi spesialis. Tidak ada salahnya, bila kemudian perlu dipikirkan bahwa jenjang pendidikan spesialis geografi itu, perlu diposisikan  sebagai jenjang pendidikan selepas program sarjana.

Sejalan dengan hal ini, melalui program sertifikasi profesi guru, Pemerintah membuka lowongan tenaga pendidik dari jalur pendidikan. Untuk menjadi guru geografi, tidak mesti dari lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) kegeografian. Hal ini artinya, bahwa seorang ahli geografi (umum), kemudian perlu mendapatkan pendidikan spesialisasi kependidikan, sehingga kemudian orang tersebut menjadi  Sarjana  Geografi Spesialisasi Pendidikan (Sp.P).

Fenomena  yang muncul belakangan, menunjukkan bahwa geografi spesialis, mampu menunjukkan peran nyata dalam kajian-kajian keilmuan. Seorang geografi dengan spesialisasi dalam bidang SIG, Inderaja atau Pemetaan, misalnya, memiliki peran nyata dalam mengembangkan keilmuannya pada sejumlah bidang kehidupan.

SIG dan Penginderaan Jauh, misalnya, bermanfaat dalam pemeataan kesehatan, perencanaan kota, analisis lingkungan, pembangunan daerah dan sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa geografi spesialis, sesungguhnya sudah memainkan peran nyata dalam kehidupan manusia saat ini.

Spesialisasi ilmu geografi ini, meminjam istilah Strahler (1984) merupakan sebuah bentuk kepakaran dari seorang ilmuwan geografi.[1] Hal itu pun, juga merupakan konsekuensi logis, dari luasnya ruang lingkup kajian geografi.  Spesialisasi geografi tersebut, tidak saja, dalam bidang teknologi keilmuan (seperti SIG dan Pemetaan), tetapi juga dalam bidang-bidang spesialis lainnya.


[1] Arthur N. Strahler, 1984, Geografi Fizikal, Singapore : John Willey and Sons, Inc.

Advertisements