Kita hidup dengan karakter ruang (tempat) yang sama, tetapi berpelung memiliki nasib yang berbeda. Hal itu bergantung pada respon kita terhadap ruang.

Menurut informasi dari Badan Geologi , dalam 10 terakhir ini ada 16 gunung api yang diposisikan berstatus waspada, tiga gunung yan siaga, dan satu berstatus awas. Untuk yang terakhir itu, yakni Gunung Sinabung. Hingga sekarang ini, malah gunung api yang ada di Sumatera ini, masih terus menunjukkan aktivitas aktifnya.

 

Aktivitas gunung api, adalah salah satu dari bahasa bencana alam di Indonesia. Selain gunung api, ada bahaya bencana alam lainnya, yang juga mengancam negeri ini. Diantaranya,  yaitu gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan juga banjir.  Semua itu, merupakan bencana alam yang kerap kali terjadi di tengah masyarakat Indonesia.

Apakah dengan hal ini, kemudian kita bersikap pesimis dan atau minder hidup di tanah air Indonesia ? mungkin ada yang bersikap seperti itu. Tetapi, kalaupun ada yang seperti itu, mestinya tidak terjadi secara akut. Maksudnya, kita merasa khawatir adalah wajar. Kita takut terhadap kondisi itu adalah wajar. Tetapi hal yang paling penting lagi, yaitu perlunya menunjukkan reaksi positif terhadap realitas itu sendiri.

Dalam kaitan ini, kita masih bisa ingat, bahwa rangkaian gejala tektonik, yang merangsang munculnya gempa, gunung api, dan juga tsunami, adalah rangkaian panjang di planet bumi. Bukan hanya Indonesia.  Terdapat sejumlah titik di berbagai belahan bumi ini, yang memiliki posisi dan kondisi geologis serupa dengan Indonesia. Chili, Mexico, AS, Selandia Baru, dan sejumlah negara lainnya. Negara yang paling dekat, sudah tentu yaitu Philipina dan Jepang.

Hal yang menarik adalah, mengapa nasib diantara Negara-negara yang ada di “jalur api” (ring of fire) itu berbeda-beda ? Ham de Bllij (2009), dalam buku yang berjudul “the Power of place”,  menegaskan bahwa memang ada fenomena ‘same place, divergent destinies”.

Dalam kajiannya itu, dia mengangkat isu ekonomi dan sosial politik. Fenomena ‘same place, divergent destinies”, de Blij tunjukkan dengan adanya kesenjangan yang menganga, antara Negara Barat dan Timur, atau antar daerah di planet bumi. Dunia terbelah  menjadi dua, antara yang mengatur dan diatur. Keteraturan dunia ini, terbelah secara ekstrim antara yang diatur dan mengatur. Sayangnya pola interaksinya teratur secara tidak seimbang.

Selain fenomena ekonomi, fakta ‘same place, divergent destinies” ini pun, bisa dilihat dari perilaku keruangannya. Perbedaan pola perilaku keruangan, menimbulkan adanya perbedaan nasib, takdir, atau kualitas hidup. Negara-negara yang memiliki posisi dan kondisi yang serupa dengan Indonesia, mampu memberikan pelajaran unik kepada kita. Jepang bisa maju, padahal kondisi geologis serupa dengan Indonesia. Hal itu menggambarkan bahwa pola respon keruangan yang berbeda, memberikan dampak perubahan nasib yang berbeda.

Kita hidup dengan karakter ruang yang sama, tetapi berpelung memiliki nasib yang berbeda. Hal itu bergantung pada respon kita terhadap ruang.

Advertisements