Dari konteks itu, dalam satu ruang (space),  fenomena sosial yang terjadi ahad pagi di lokasi itu, tampak  hadir mengenai tiga aktivitas sosial  secara bersamaan, yaitu aktivitas olahraga (sport), bisnis (economic), dan hiburan (intertainment). Tampaknya, trend inilah yang akan menjadi bagian  penting di hari esok. Meminjam istilah John Bale (2003), itulah yang disebut trialectika dalam perilaku olahraga masa depan.

Ahad pagi. Jalan raya Desa Cipadung ramai dikunjungi orang. Sejak pukul 01.00 WIB, atau mungkin ada yang lebih dini dari itu. Mereka berdatangan. Gelombang pertama, warga yang datang ke daerah ini, adalah untuk mempersiapkan diri jongko-jongko di  sepanjang jalan desa cipadung  sepanjang 1 atau 2 km.  Di sepanjang jalan itulah, mereka bersiap diri untuk menjajakan barang dagangannya kepada para pengunjung.

Gelombang kedua, mulai ba’da shalat shubuh, atau sekitar pukul 05.00 WIB, mulailah berdatangan warga yang lainnya. Mereka berjalan, berlari kecil, dan atau bersepeda ria.  Lokasi yang ditujunya sangat beragam. Ada yang sekedar berjalan hingga ujung pajangan pedagang itu berakhir, dan ada pula yang berlari kecil dengan jarak tertentu kemudian pulang kembali, dan ada juga yang berolahraga jogging di salah satu pusat kebugaran dan pusat perbelanjaan.

Mereka yang datang ke lokasi ini, hadir tanpa komando, dan tanpa organisasi. Ada yang sendirian, ada yang dengan anggota keluarganya.  Tujuannya pun sangat beragam. Tetapi, ada satu tujuan yang diduga sama,  yang berolahraga (jalan running) ke lokasi pusat pasat dadakan di daerah tersebut.

Selain daerah ini, pada dasarnya, masih banyak ditemukan di daerah-daerah lain, yang menjadi tujuan warga untuk berolahraga di ahad pagi ini. Ada yang mengambil di lokasi pusat   perbelanjaan, seperti mall, dan ada juga di lapangan kantor pemerintahan. Di kota Bandung,  lokasi hiburan untuk ahad pagi ini, dapat ditemui di lokasi Gasibu, dan Samsat Sukarno Hatta.

Apa yang menarik dari fenomena ini ? motif dasar olahraga.  Tetapi, dalam pengertian olahraga bermain, bukan dalam pengertian olahraga prestatif.  Masyarakat kota, seperti yang dicontohkan di Kota Bandung ini, mengambil tempat-tempat terbuka, atau ruang public terbuka sebagai pusat kegiatan olahraga minggu pagi.

Dengan demikian, realitas ini, pada dasarnya dapat diartikan bahwa munculnya sportteinment di ahad pagi, dapat diartikan (a) kritik masyarakat terhadap minimnya ruang public untuk berekspresi, (b) optimalisasi ruang public untuk kebutuhan olahraga.  Lanjutan dari itu,  persinggungan antara bisnis dan hiburan dalam satu ruang, melahirkan apa yang kita sebutnya sebagai sportteinment, dan sportpreneurship.

Sportteinment, yaitu singgungan antara olahraga dengan hiburan dalam satu ruang.  Memanfaatkan music untuk  aerobic, memanfaatkan hiburan ahad pagi untuk berolahraga jalan kaki, termasuk rekreasi ke objek wisata, adalah contoh lain dari sportteinment.

Sementara persinggungan antara olahraga dengan bisnis, kita sebutnya sebagai sportpreneurship. Kecerdasan sportpreneurship, kita tunjukkan kepada orang yang mampu menjadikan ‘kebutuhan olahraga’ sebagai bagian dari kegiatan usahanya.  Menjadikan olahraga aerobic sebagai  media komunikasi bisnis, adalah contoh nyata dari sportpreneurship.

Dalam konteks kekinian, kita sering melihat sejumlah pusat perbelanjaan mengadakan klub olahraga (khususnya aerobic) di hari libur. Sejak pagi buta, sebelum mall itu dibuka (pukul 09.00), pihak  pengelola pusat  perbelanjaan, menyelenggarakan olahraga barengan dengan masyarakat sekitar. Kemudian di sela-sela olahraga itu, mereka menyampaikan promosi produk-produk yang akan dijualnya. Atau, mereka pun memajangkan sejumlah promo kepada para peserta yang hadir di lokasi itu.

Dari konteks itu, dalam satu ruang (space),  fenomena sosial yang terjadi di lokasi itu, tampak  hadir mengenai tiga aktivitas sosial  secara bersamaan, yaitu aktivitas olahraga (sport), bisnis (economic), dan hiburan (intertainment). Tampaknya, trend inilah yang akan menjadi bagian  penting di hari esok. Meminjam istilah John Bale (2003), itulah yang disebut trialectika dalam perilaku olahraga masa depan.

Advertisements