Pagi ini,  ada sebuah fb yang menyertakan informasi mengenai “teori 70 %”.  Ya, saya ingin menyebutnya teori 70 %.  Karena, pada uraian itu menggunakan angka 70 % sebagai landasan dalam menyampaikan pesan-pesan moralnya. Dari teori ini, bisa dikemukakan, ternyata waktu hidup kita, potensial 70 % dimanfaatkan untuk hal yang kurang ‘perlu’. Merujuk pada tulisan yang dipublikasikan pada thepresidentpostindonesia.com,  ada sejumlah opini, mengenai kenyataan hidup kita sekarang ini. Dalam booklet itu, tertera mengenai hal-hal yang ada dalam hidup kita, dengan memanfaatkan rasio  70 %.

  1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai.
  2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubazir.
  3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong.
  4. Sebuah universitas, 70% materi kuliahnya tidak dapat  diterapkan.
  5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng-iseng tidak bermakna.
  6. Pakaian dan peralatan dalam sebuah rumah, 70% nya nganggur tidak terpakai.
  7. Seumur hidup cari duit banyak, 70% nya dinikmati ahli waris

Sebuah sajian yang menarik, dan sekaligus ‘mencengangkan’. Namun demikian,  paparan atau list tersebut  mengajak kita untuk merenungkan  kembali mengenai berbagai hal yang terjadi dalam hidup dan kehidupan kita saat ini.

Di sini, kita tidak bermaksud untuk berfikir ilmiah dengan mengajukan pertanyaan, mana datanya, apa alat ujinya, atau apa buktinya, dan mengapa 70 %.  Tidak  pada tempatnya, saya mengomentari masalah ini, atau mengajukan persoalan akademis seperti itu. Silakan, kaum akademisi mengomentari tulisan itu, dari sumbernya yang asli.

Hal mendasar dan penting untuk dikemukakan di sini, khususnya dalam pemahaman saat ini, paparan tersebut   lebih mengarah pada sebuah kritik dan penyadaran. Kritik terhadap gaya hidup, dan penyadaran terhadap proses hidup yang kita jalani sekarang ini. Sederhananya, pandangan itu, mengajak kita untuk melakukan meditasi, refleksi atau mentafakuri perjalanan hidup kita saat ini.

Dengan kata lain,  ada baiknya kita mengartikan angka “70% itu, bukan sekedar dalam pengertian angka atau kuantitatif, tetapi lebih mengacu pada aspek kualitattif dan nilai. Artinya, istilah “70 %”, mengantarkan kita pada sebuah kondisi untuk melakukan koreksi terhadap kecenderungan hidup baik pikiran, perasaan, atau tindakan yang  tidak focus, tidak efektif, dan tidak efisien. Akibat dari itu, istilah mubazir, lelah, dan sibuk, bisa jadi menjadi gambaran umum kita.

Banyak hal yang mubazir. Tetapi demi gengsi kita tetap lakukan juga.

Banyak hal yang kita lakukan secara lelah, tetapi hasil tidak bisa dirasakan juga

Banyak hal yang menjadi sibuk, tetapi targetnya tetap tidak jelas

Untuk kepentingan kita saat ini, kiranya kita dapat memanfaatkan teori “70 % “ untuk memotret setiap langkah kita.

Karena jangan-jangan, 70 % statusan dalam fb kita pun kita bermakna apa-apa

70 % dari waktu kita, dibuang secara percuma

70 % kita bersama, lebih banyak konfliknya daripada harmoni

70 % ucapan kita pun, lebih banyak tidak menjelaskan masalah

Ah..entahlah…,mengapa harus 70 %..mengapa tidak angka lain…

Advertisements