terbetik pikiran, “apakah ini yang dimaksud dengan makna perayaan tahun baru, yaitu mengakhiri tahun dengan hiburan, dan mengawalinya dengan kemalasan ?”

“ciyuuuus, dor..”, kemudian, “ciyuuuus, dor..”

Suara  kembang api dan petasan, terdengar saling bersahutan. Tepat pukul 00.00  waktu setempat, puluhan atau malah ratusan kembang api meluncur, dan kandang berhamburan ke ruang angkasa. Menyala dan menyalak, menyebar dan menebar, berwarni dan berwarna.

“ciyuuuus, dor..”, kemudian, “ciyuuuus, dor..”

Letupan dan ledakan itu, kemudian diiringi pula, oleh senyum, tawa dan kunyahan dalam kuluman setiap warga yang hadir dilokasi. Tidak hanya ratusan, mungkin ribuan, atau bisa jadi malah ratusan ribu. Bergantung pada radius lokasi penyelenggaraan perayaan tahun baru itu sendiri. Sebuah lokasi perayaan tahun baru dengan lokasi lapangan sepakbola atau arena luas, bisa menampung ratusan ribu orang. Sedangkan lokasi  perayaan tahun yang dilaksanakan di depan rumah, paling hanya puluhan warga dalam satu kompleks saja.

Kendati begitu, menurut pengakuan dan perasaan para pelaku, kemeriahan antara satu dengan yang lainnya, tidak diartikan dari kerasnya ledakan petasan. Kemeriahan perayaan tahun baru, tidak ditentukan luasnya lapangan aksinya, atau jumlah pesertanya, tetapi  bergantung pada pemaknaannya itu sendiri.

‘kembang api itu hanya symbol. Petasan itu hanya symbol. Kita semua dituntut untuk mendalami makna perayaannya itu sendiri..” tutur sang pelaku, saat dikonfirmasi mengenai apa makna dari perayaan tahun baru tersebut.

Mereka larut dalam dentuman pentasan, dan semburan kembang api. Untuk satu keluarga saja, kadang ada yang bisa bertahan hingga setengah atau satu jam menyalakan kembang api. Sebuah  prestasi luar biasa. Karena, satu buah kembang api, dengan harga 50 ribuan, kalau dinyalakan, hanya bisa bertahan 2-5 menit saja (mungkin). Sementara untuk ketahanan menyala dan iringan semburan kembang api dengan waktu puluhan menit, membutuhkan deposit bahan bakar kembang api yang banyak, dan melimpah. Itu sudah tentu, tidak mungkin memakan biaya yang murahan.

Hingga pukul 01.00 pagi, waktu setempat, warga masih ramai berkumpul di ruang  terbuka, arena kembang api. Selepas mereka bersuka ria di sana, kemudian beralih, ke tempat istirahat masing-masing. Ada yang ke caffe,  warteg, mall, tempat hiburan, atau juga tempat pembakaran. Bakar ayam, bakar jagung atau makan-makan di malam hari. Semua itu bergantung pada ekonomi, dan lokasi perayaannya itu sendiri.

Acara itu ada yang berjalan hingga larut dan pagi  hari. Pukul 03.00 – 04.00 ada yang masih bertahan. “Kantuk pun dirasa hilang”, katanya. Tetapi, mata tak kuasa didustai.  Menjelang pagi, mata pun terlelap, dan pulas sudah.  Bahkan, ada juga yang bangun sekitar pukul 08. Atau pukul Sembilan pagi.

“wah baru bangun…” celoteh tetangga.

“iya nih, hiburan tahun baru….seru juga..” ucapnya dengan rasa bangga.

Dalam pikir ini, terbetik pikiran, “apakah ini yang dimaksud dengan makna perayaan tahun baru, yaitu mengakhiri tahun dengan hiburan, dan mengawalinya dengan kemalasan ?”

Mungkin ada yang mengatakan, “wajarlah..karena ini, kan hari libur.” Ok ! bisa jadi begitu. Tetapi memang prinsipnya dasarnya, kiranya kita akan sepakat bahwa mengakhiri dengan baik jauh lebih baik daripada mengawali  dengan baik. Mengawali dengan baik dan mengakhiri dengan baik, itulah pilihan idealnya.

Advertisements