Ada yang mengambil jurusan IPA di SMAnya, tetapi kuliah di jurusan IPS.  Ada yang jurusan di Agama, kuliah di jurusan IPS. Ada pula yang jurusan di IPA malah mengambil kuliah di jurusan Bahasa. Ada pula yang mendapat pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Mengapa penjurusan di SMA tidak efektif dalam menjaga karir dan masa depan pendidikan lulusannya ?

Akhir November itu, ada saudara berkunjung ke Bandung. Maksudnya adalah untuk sekedar menginap sesaat (transit), karena di keesokan harinya mau ujian ulang (remedial) sertifikasi guru di Universitas Pendidikan Indonesia. Latar belakang saudaraku ini, yaitu Bimbingan dan Konseling. Pada tahap pertama, dia hanya lulus Pilihan Ganda, dan Praktek. Sementara untuk ujian tertulis essay, harus mengulang tes.  Pada hari itulah, dia akan melakukan ujian tes ulangan.

Untuk sekedar persiapan, beliau mendapatkan informasi, bahwa ‘pada umumnya’ (ini logika post hoc ergo propter hoc), soal remedial test itu sama dengan yang dimunculkan pada ujian sebelumnya.  “artinya, kemarin juga begitu, sekarang juga pasti begitu..”. Dengan bekal keyakinan seperti itu, di malam harinya, kami mendiskusikan sebuah tema, yang pernah muncul dalam ujian essay sebelumnya.

“PENJURUSAN DI SMA KURANG EFEKTIF SEBAB TIDAK SEMUA LULUSAN SMA MENGAMBIL  JURUSAN ATAU PEKERJAAN YANG SESUAI  DENGAN JURUSAN YANG TELAH DIPILIH SEBELUMNYA.”

Turunan dari pertanyaan itu adalah (a) Mengapa Penjurusan kurang efektif dalam pengembangan karir siswa ?  merujuk pertanyaan ini, ada beberapa point pemikiran hasil diskusi malam itu, yang kemudian saya rangkum di sini. Sari pati  hasil diskusi masalam itu, adalah sebagai :

Perlu ditegaskan lebih dulu, bahwa trend mismatch antara jurusan dengan pekerjaan, tidak terjadi hanya pada tingkat SMA. Khusus untuk konteks lulusan pendidikan di Indonesia, lulusan perguruan tinggi pun, banyak yang mengalami hal seperti itu.

Fenomena itu terjadi karena beberapa hal. Pertama, program jurusan tidak selamanya matching (nyambung)  dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.  Alumnus dari sebuah jurusan jauh lebih banyak dibandingkan lapangan pekerjaannya. Sehingga pada akhirnya, terjadi fenomena lintas jurusan.

Kedua, ada asumsi yang masih sulit dihapuskan. Kemampuan siswa di kelompok kelas IPA dianggap memiliki kemampuan lebih dibandingkan kelas non-IPA. Sehingga pada akhirnya, masuk ke program jurusan bukan disebabkan karena kemampuan, tetapi cenderung karena status social atau ‘gengsi sosial’.

Ketiga,  memasuki jurusan program IPA, bukan dimaksudkan sebagai minat dan bakat. Ada kecenderungan sebagai sebuah strategi untuk  memenangkan persaingan pekerjaan atau ujian masuk perguruan tinggi. Hal itu, dilandasi oleh asumsi bahwa  kemampuan anak IPA lebih baik dibandingkan IPS, sehingga bagi siswa yang program IPA tetapi membidik jurusan IPS di perguruan tingginya, merasa lebih percaya diri dan mampu bersaing di kompetisi masuk perguruan tinggi.

Keempat, penjurusan selama ini, lebih mengandalkan pada hasil nilai raport, dan atau keinginan siswa. Padahal, baik nilai raport maupun keinginan, bukanlah bakat, minat atau kemampuan nyata dari peserta didik. Karena, nilai raport dipengaruhi oleh penilaian acuan norma/patokan yang ditetapkan sekolah atau guru masing-masing.

Kemudian, pertanyaan turunan keduanya, yakni (b) Jelaskan apakah dengan peminatan lebih mempermudah kejelasan karir siswa ?

Jika visi dan misi Program Peminatan (kurikulum 2013) dijalankan dengan baik, dan disiplin, setidaknya ada beberapa hal positif yang bisa dikembangkan.

Pertama, setiap siswa yang memiliki bidikan pekerjaan atau program jurusan  tertentu akan memiliki persiapan lebih baik dibandingkan dengan program penjurusan sebelumnya.  Hal itu terjadi, karena program peminatan membuka peluang setiap siswa mengambil program lintas minat.

Kedua, program peminatan  dan atau lintas minat, akan jauh lebih efektif, bila tidak diartikan sebagai program formal. Saya menyarankan,  khususnya program lintas minat, hendaknya diisi dengan model keterampilan praktis yang menjadi kebutuhan masa depan siswa.

Ketiga, sesuai dengan perkembangan pendidikan di zaman modern ini, kebutuhan  karir seseorang tidak sekedar keterampilan pokok (hard skill), tetapi juga keterampilan komunikasi atau kecerdasan emosional dan social (soft skill). Oleh karena itu, pengembangan program peminatan dan lintas minat, hendaknya juga memberikan aspek pengembangan kecerdasan emosional dan social kepada peserta didik.

Sementara, pertanyaan turunan yang terakhir (c) Strategi pemintan seperti apa yang perlu dilakukan guru BK, agar tidak mengulang kegagalan seperti program penjurusan ?

Untuk mengembangkan program peminatan, kiranya dapat dilakukan beberapa agenda penguatan peran guru BP/BK di tingkat SMA.

Pertama, setiap guru BP/BK memiliki catatan yang detil mengenai ‘sejarah kemampuan dan perkembangan belajar siswa’ (educational record,  mirip medical record dalam dunia kesehatan).  Catatan ini bisa dilihat dari raihan nilai atau buku laporan siswa, minimalnya sejak tingkat SLTP – hingga kelas XI.

Kedua, agenda psikotest yang mengacu pada aspek minat dan bakat, perlu diintensifkan. BP/BK tidak sekedar  wawancara, tetapi harus mengembangkan model bimbingan yang terukur dan terrencana.

Ketiga, Pemerintah hendaknya memberikan pelatihan dan kelengkapan  instrument penyuluhan yang lebih  baik, sehingga hasil konsultasi dan pembimbingan dari BP/BK bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selama ini, seorang guru BP/BK lebih banyak ‘berbicara” dibandingkan dengan menggunakan instrument psikotest yang akurat.

Dengan diskusi itu,menurut pengakuan saudaraku, beliau kini, sudah dinyatakan lulus ujian essay tahap dua, dan tidak perlu mengulang lagi. Sementara, beberapa teman yang lainnya, ada yang harus mengulang kembali. Wacana ini, tidak memaksudkan diri, bahwa jawaban tersebut di atas adalah benar, dan tepat, hanya saja, bisa jadi, jawaban tersebut bisa memuaskan tim penilai untuk memahami kemampuan seseorang dalam memahami masalah yang diajukan.

Advertisements