Fungsi agama itu adalah menyadarkan kembali manusia akan hubungannya dengan Allah Swt. Sementara hakikat beragama itu, adalah pengakuan atas historisitas manusia, yaitu dari Allah dan akan kembali kepada allah (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun), dan itulah hakikat dari La ilaha Ilallah (tiada tuhan selain Allah)

Pada mulanya, saya hanya tertarik pada konsep kosmologi, dalam karya William C. Chittick, “kosmologi Islam dan Dunia Modern”. Tidak ada pikiran atau prasangka tertentu, sebelum membaca buku ini.[1] Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tahun 2010 ini, diterbitkan Oneworld Publications, Oxford tahun 2007, dengan judul “Science Of The Cosmos, Science Of The Soul”.

Terjemahan yang menarik, dan memberikan wawasan yang mendalam mengenai Islam , khususnya dari sudut pandang Chittick, orang yang dikenal pengkaji berkualitas tentang pikiran-pikiran Ibn ‘Arabi, atau tasawuf. Termasuk alternative pemikirnanya, sejumlah konsep yang juga kerap menjadi bahan perbincangan di kancah pemikiran dan umat Islam itu sendiri.

Konsep taklid, misalnya, kerap diartikan sebagai meniru. “menurut guru saya”, “menurut ustadz..”, “dari sananya juga begitu..”, “katanya..”.  Semua itu merupakan rangkaian pernyataan yang menunjukkan sikap taklid. SIkap taklid seperti ini, banyak dikecam oleh kalangan ulama, dan diposisikan sebagai bentuk kejumudan atau kematian peradaban Islam.

Hal yang menarik, menurut William C. Chittick, lawan  dari prilaku taklid ini, bukan ijtihad. Konsep ijtihad, lebih mengacu pada proses penaran dalam pengambilan keputusan atau kesimpulan (konklusi) terkait dengan masalah hokum (fiqh). Ijtihad itu adalah konsep untuk menggambarkan penalaran dalam menarik keputusan hokum.

Konsep yang ditawarkan William C. Chittick untuk menggambarkan perbedaan pola berfikir dari Taklid itu, yakni tahqiq, yaitu menggali, mengangkat, mengungkap atau merealisasikan. Kalau taklid, bergantung pada informasi yang terdengar atau tersampaikan kepada dirinya, sedangkan tahqiq berdasarkan penggalian mengenai sebuah pengetahuan.

Untuk membangun dan memantapkan Islam sebagai sebuah system agama, maka pembudayaan tahqiq menjadi sangat penting. Sayangnya, tradisi inilah yang dianggap Chittick kini mulai melemah dan hampir musnah. Kalau, tidak taklid, pemikir agama Islam khususnya, banyak yang terjebak pada ideology non-Islami dalam mengembangkan keislamannya itu sendiri.  “banyak yang hapal ayat-ayat al-Qur’an, tetapi mereka tidak paham mengenai makna ayat-ayat itu sendiri..”.

Selain hal itu, William C. Chittick pun memberikan pencerahan mengenai agama (religion). Agama atau ‘re-ligio’ berasal dari kata “re” artinya kembali, dan ‘ligio’ yang mengandung makna “mengikat, menjalin, menghubungkan, atau mengaitkan, menyambung”.[2] Hemat kata, dan juga memanfaatkan pemaknaan dari Chittick tersebut, kita dapat mengartikan bahwa sesungguhnya peran agama itu, adalah menyadarkan, mengingatkan, atau menghubungkan kembali ruh manusia dengan hakikat kebenaran itu sendiri.  Dalam konsep Islam, agama (religio) itu adalah menghubungkan kembali kesadaran manusia dengan Ilahi (Allah Swt).

Dalam tradisi Islam, di awal kehidupan manusia, sudah melakukan perjumpaan dan komitmen mengenai kemanusiaan dan ketuhanan.  Manusia, diawal penciptaannya sudah memberikan pengakuan bahwa Allah Swt, adalah tuhannya. Tetapi, sayangnya, selepas lahir ke dunia ini, berbagai ragam keindahan dan kecantikan dunia, menyebabkan manusia lupa kepada Allah Swt. Mereka terbuai dengan gemerlap dunia, dan hilap terhadap tujuan hidup dan tempat kembalinya.

Tepat kiranya, menurut saya, bila dikatakan fungsi agama itu adalah menyadarkan kembali manusia akan hubungannya dengan Allah Swt. Sementara hakikat dari agama itu, adalah pengakuan atas historisitas manusia, yaitu dari Allah dan akan kembali kepada allah (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun), dan itulah hakikat dari La ilaha Ilallah (tiada tuhan selain Allah).

 


[1] William C. Chittick. 2010. Kosmologi Islam dan Dunia Modern : Relevansi Ilmu-Ilmu Intelektualisme Islam. Bandung : Mizan. Penerjemah Arif Mulyadi.

[2] Karena penasaran dengan kajian ini, kemudian saya menelusuri kemungkinan buku aslinya di internet. Akhirnya, di pagi hari ini, menemukan judul buku Science Of The Cosmos, Science Of The Soul, dengan penulis dan penerbit yang sama sebagaimana yang dijadikan sumber penerjemahan oleh Arif Mulyadi. Uraian mengenai ‘re-ligio’, ditulis dalam Chittick (2007:87)

Advertisements