Ada banyak ragam, penilaian seorang suami kepada istrinya. Ada yang memandang istri itu jauh lebih hemat dibandingkan suaminya. Ada juga yang memandang sang istri jauh lebih boros dibandingkan suaminya. Keragaman persepsi itu, kemudian melahirkan perlakuan yang berbeda kaum laki kepada perempuan.

Tetapi, tidak jarang pula, ada suami yang merasa kaget dan kagum kepada istrinya. Kendati upah bulanan tidak terlalu besar, dan biaya resiko hidup pun tidak terlalu besar, tetapi istrinya ternyata mampu mengelolanya dengan baik, dan bahkan bisa menyisihkannya sebagai sebuah tabungan. “Kalau istri jadi bendahara,” katanya, “keuangan keluarga akan jauh lebih hemat..”.

Pandangan seperti itu, memang bukan teori atau prinsip yang bersifat umum. Karena ternyata, memang ada sejumlah pandangan lain yang berbeda dengan apa yang dipahami selama ini. Salah satu diantaranya, dikemukakan oleh Sarah Rutherford (2011) yang menyajikan hasil penelitian rekanannya, bahwa 33 % kaum perempuan, cenderung memiliki tabungan yang lebih kecil dibandingkan dengan kaum pria. [1]

Bahkan, dalam paparan itu, Sarah Rutherford menegaskan bahwa untuk seorang pria dalam usia yang sama dengan perempuan, disaat pensiunnya, pria tersebut memiliki tabungan yang jauh lebih banyak dibandingkan kaum perempuan.  Hal itu terjadi, karena seorang perempuan, memiliki banyak kebutuhan yang berbiaya mahal. Selain masalah kesehatan kewanitaan, kebutuhan kewanitaan, dan juga kaum perempuan ini, membiaya keluarganya. Tabungan sang istri, akan sedikit terkuras bila mereka memiliki bayi.

Kendati begitu, pandangan itu kiranya, terlalu menyederhanakan masalah. Karena, kaum pria pun memiliki kebutuhan yang tidak lebih sederhana dari kaum perempuan. Soal tabungan yang terbelah dua dengan kebutuhan anak, kaum pria pun bisa mengalami hal serupa.

Selain itu, catatan kritis kita terhadap penelitian itu, setidaknya ada dua hal, yaitu (1) perlu dibedakan antara hemat dengan kemampuan menabung, karena (2) hemat lebih terkait dengan budaya belanja atau konsumerisme, sedangkan (3) besaran tabungan,  bisa dipengaruhi pendapatan. Seorang perempuan, bisa jadi memiliki tabungan yang lebih sedikit dibandingkan kaum pria, karena dipengaruhi oleh minimnya akses kaum perempuan pada jabatan (pekerjaan) yang terhormat dan berpendapatan tinggi. Pada masyarakat yang paternalis, akses perempuan pada jabatan terhormat dengan upah terhomat, sangat minim didapatkan.

Sederhananya, hipotesis kita justru mengatakan bahwa masalah kehematan itu bukan urusan jenis kelamin. Temuan penelitian yang disampaikan Sarah Rutherford, kiranga perlu diposisikan sebagai hasil penelitian yang sifatnya kasuistik (di Inggris). Riset kasuistik ini, akan berbeda hasil, jika kemudian dikomparasikan dengan komunitas dengan nilai budaya yang lainnya.  Perbedaan ruang, sebagaimana dikemukakan Janet Henshall Momsen dan Vivian Kinnaird (1993) saat mengkaji mengenai masalah gender di Afrika, Amerika Latin dan Asia, menyimpulkan bahwa berbeda tempat, berbeda suara, dan berbeda perilaku. [2]

Seperti pada gambar tersebut di atas, foto itu menggambarkan (a) sikap perempuan yang boros dan suka jajan, atau (b) tekanan ideologi budaya setempat yang mengharuskan perempuan jajan, sehingga perbandingan perempuan di tempat belanja, jauh lebih banyak kaum perempuan daripada laki ?


[1] Sarah Rutherford. 2011. Women’s Work, men’s Cultures. Palgrave Macmillan

[2] Janet Henshall Momsen dan Vivian Kinnaird . 1993. Different places, different voices: gender and development in Africa,  Asia, and Latin America. London : Routledge

Advertisements