Seiring perkembangan zaman, dan juga perubahan kurikulum di Indonesia, kiranya perlu dikemukakan mengenai strategi pemaksimalkan posisi pembelajaran geografi dalam mencapai tujuan pendidikan.

Ashley Kent (2002:5) menyebut ada empat pengembangan pembelajaran geografi, untuk bisa memaksimalkan fungsi pendidikan geografi.[1] Keempat strategi pengembangan itu, adalah :

  1.  from the known to the unknown;
  2.   from the simple to the complex;
  3.  from the indefinite to the definite (an unexpected reversal here);
  4.   from the particular to the general

Spirit dari pemikiran Ashley Kent itu, adalah pentingnya melakukan transformasi atau peningkatan ranah pengetahuan peserta didik. Seorang tenaga pendidik, dituntut untuk mampu memberikan lingkungan pembelajaran dan peningkatan pemahaman siswa, (a) dari informasi yang sudah diketahui ke informasi yang belum diketahui, (b) dari yang sederhana ke yang kompleks, (c) dari yang tidak pasti ke ranah yang pasti atau bisa didefinisikan, dan (d) dari yang particular ke general.

Penguasaan pengetahuan dan atau informasi geografi seperti itu, sudah tentu, tidak cukup sekedar menyampaikan informasi dan atau data-data saja. Model pembelajaran yang dibutuhkan pun, tidak sekedar dengan  menggunakan model  pembelajaran manual (oral atau ceramah).

Untuk menggenapkan pemikirn Ashley tersebut, maka pembelajaran geografi perlu dikembangkan dari nilai praktis ke karakter (from practical values to character values).[2] Strategi ini, seiring dengan kebutuhan pendidikan karakter dalam pendidikan kita.

Lahirnya Kompetensi Inti (KI) dalam Kurikulum 2013, pada dasarnya, tiada lain dari upaya memformalkan mengenai nilai-nilai karakter dalam pembelajaran, termasuk didalamnya pembelajaran geografi. Rumusan Kompetensi Inti (KI), “Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.”. [3]

Kemudian, dalam kompetensi dasarnya, ada pernyataan, “(2.3) Menunjukkan perilaku responsif dan bertanggung jawab terhadap masalah yang ditimbulkan oleh dinamika geosfera, (2.4) Menunjukkan sikap peduli terhadap peristiwa bencana alam dengan selalu bersiap siaga, membantu korban, dan bergotong royong dalam pemulihan kehidupan akibat bencana alam.”

Memanfaatkan strategi pengembangan seperti itulah, diharapkan tujuan pembelajaran yang kita lakukan, akan jauh lebih optimal lagi. Smoga, wallahu alam.


[1] Ashley Kent, Geography : Change and Chalenges , dalam Teaching Geography in Secondary Schools: A reader, Magie Smith (ed.) 2002, London : RoutledgeFalmer.

[2] Sebagai perbandingan, dapat dikaji pemikiran Frederick L. Holtz , 1917, Principles And Methods Of Teaching Geography. USA : Norwood Press.

[3] Ibid. Lampiran D-1, Kurikulum 2013…Hlm 5.

Advertisements