Apakah kegilaan mengunduh ebook ini pun, adalah sebuah gejala psikis manusia modern ? apakah, gejala hasrat mengunduh ebook ini pun, sama halnya dengan gejala bibliholsime atau bibliomania atau bibliofill ?

Kebetulan. Hari ini, hari pertama, berpisah dengan sejumlah buku, yang selama ini, senantiasa menemani hidup. Buku itu sudah lama sekali, ada dan menemani perjalanan hidup ini. Hingga hari ini, dengan secara sadar buku itu, dihibahkan kepada tetangga, yang kebetulan sedang mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi.

Selepas berpisah dengan buku-buku itu, kurang lebih 30 buah buku, pikiran dan perasaan ini sedikit berkecamuk. Ada semacam pertanyaan, gejala jiwa apa yang ada dalam diri ini, begitu beraninya memberikan sejumlah buku kepada orang lain ? apakah saya ini, adalah orang yang ‘setengah gila” memberikan buku kepada orang lain ?

“tidak.’ Pikirku saat itu, “aku sadar dan yakin, bahwa buku itu, diharapkan bisa bermanfaat bagi orang itu….” , sejenak   menghela napas, “lagi pula, saat ini, aku memiliki banyak ebook di laptopku…” sedikit membela diri.

Ya, sekarang ini, banyak fasilitas ebook di internet.  Dalam setiap detiknya, kita bisa mencari,  mengunduh sejumlah ebook dari dunia maya ini.  Setiap orang, baik di kota maupun di desa, baik di rumah maupun di kantoran, dapat dengan mudah mengunduh ebook tersebut. Sudah tentu, bila punya akses  yang baik dengan internet.

Apakah kegilaan mengunduh ebook ini pun, adalah sebuah gejala psikis manusia modern ? apakah, gejala hasrat mengunduh ebook ini pun, sama halnya dengan gejala bibliholsime atau bibliomania atau bibliofill ? entah lah !

Kemudian, hasrat untuk menemukan jawaban itu, selancar tetikus itu mencari dan  menemukan istilah-istilah tersebut.  Setelah ditemukan, rasanya, ide dan pemikiran mengenai biblioholisme itu, kemudian ingin dikonversi ke dalam bentuk ebookaholisme. Meminjam istlah, dengan maksud untuk menjelaskan makna yang ingin dikemukakan di ruang ini.

Ebookaholisme adalah hasrat untuk mengunduh, menyimpan, atau mengagumi ebook  yang cenderung berlebihan. Namun demikian, kiranya kita bisa membedakan karakter ebookaholisme ini, ke dalam  dua jenis, yaitu ebookafilia, dan ebookamania. Kedua jenis ebookaholisme ini, dapat dibedakan dari karakter perilaku pelakunya.

Kita sebut, gejala ebookafilia, jika hasrat itu hadir  beriringan dengan kesadaran untuk membaca, mencari informasi, dan atau memanfaatkan informasi dari ebook tersebut, untuk kepentingan diri dan perubahan perilaku atau kehidupan sehari-hari. Karena, kebutuhannya, seorang tenaga pendidik, misalnya, dapat mengunduh sejumlah ebook, bahkan dalam jumlah yang sangat berlebihan.

Hal yang buruk, jika munculnya ebookamania, yakni hasrat berlebihan untuk mengunduh ebook, tanpa memiliki waktu atau kesadaran untuk membacanya. Tidak perlu heran, bila kemudian dalam laptop orang ini, terdapat ratusan atau malah ribuan buku hasil downloadan (gratisannya). Dalam konteks dan perspektif postmodernism, orang ebookomania ini, mengalami gejala hiper-realitas. Mereka merasa sudah pintar dengan mengunduh sejumlah ebook, merasa sudah paham dengan sekedar membaca judul buku, dan merasa sudah menguasai sejumlah ilmu dengan sekedar mengunduh ratusan judul ebook, dan merasa sudah menjadi ilmuwan dengan sekedar mengumpulkan ebook dalam laptopnya.

Perilaku yang berikutnya, yaitu munculnya gejala ebookanarsisime. Orang sudah merasa eksis, dan merasa lebih berharga dihadapan orang lain, bila mampu menunjukkan koleksi ebooknya kepada orang lain. Ya, walaupun mungkin ada juga yang ebookaphobia.

Siapa yang termasuk pada ebookaphobia ? pertama, mereka yang alergi dengan buku atau ebook, dan kedua adalah mereka yang anti ebook, dan lebih percaya pada buku cetak (printed book). Menurut ebookaphobia,  informasi yang ada di dunia maya itu, ada diantara ‘kebenaran dengan kepalsuan”. Karena sesungguhnya, kita  jarang memiiki kemampuan mengakses  penulis dan atau penerbitnya secara akurat. Bukankah, kita bisa menulis sebuah ebook dengan nama penulisnya orang lain ?

Advertisements