Berdasarkan pertimbangan dan pencermatan terhadap perkembangan sekarang ini.  Geografi sudah memasuki pada wilayah baru. Atau setidaknya, pendidikan geografi dan kajian geografi sudah memasuki alam baru, dengan karakter yang baru pula. Sebelumnya, dan biasanya kita pinjam dari pemikiran Surastopo H dan Bintarto, bahwa geografi dapat dikenali dari periode ortodoks dan terpadu.

Geografi ortodoks cenderung mengarah pada geografi yang  parsial dan berdasarkan disiplin ilmu. Di era itu, geografi dibagi dalam beberapa kategori, filsafat, geografi sistematik, geografi regional dan geografi teknik.  Sementara, di era modern, muncul geografi terpadu, dengan mengedepankan pendekatanya, yaitu analisa keruangan, ekologi dan kewilayahan.

Perlu untuk dikemukakan di sini, pandangan itu, kiranya perlu segera direfisi. Setidaknya, karena zaman sekarang ini, sudah menuntun kita pada satu zaman yang senantiasa berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Termasuk masalah geografi.

Betul, bila dikatakan bahwa inderaja dan SIG adalah pengembangan dari  geografi teknik (kartografi). Tetapi dampak dari perkembangan teknik geografi tersebut, ternyata sudah tidak terkendali lagi. Geografi sudah berkembang kea rah yang juga banyak teralami oleh bidang disiplin ilmu yang lainnya,s seperti desain, seni, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan lain sebagainya.  Khusus untuk kajian geografi, salah satu bentuk nyata dari perkembangan ini, yaitu munculnya ‘neo geografi’.  Sehubungan hal itu, maka pengelompokkan geografi  versi Bintarto dan Surastopo tersebut, perlu segera direvisi, seiring dengan perkembangan zaman.

Kita, khususnya guru-guru di tingkat pendidikan dasar dan menengah, agak sulit mendapatkan informasi mengenai geografi baru ini. Masih minim informasi dan pengetahuan teknis mengenai makhluk yang bernama “neogeografi” tersebut.  Tetapi, ‘hasrat’ atau ‘hawa’ kehadirannya sudah cukup lama dirasakan.

Pertama, semula, saya meyakini bahwa tidak mungkin belajar geografi, bila tidak melakukan pengamatan (observasi), Saat ini, seorang siswa dapat melakukan pengamatan, tanpa harus ke lapangan. Terdapat puluhan, bahkan tak terhitung jumlahnya mengenai  gambar kenampakkan alam, baik foto  maupun gambar hidup. Realitas permukaan bumi, sudah masuk ke dalam layar monitor. Karena itu, doktrin geografi itu harus ke lapangan, menjadi “kabur”.

Kedua, semua seseorang harus memiliki kemampuan dalam merancang dan membuat peta. Keterampilan ini sedikit bergeser. Maksudnya bisa jadi sama, tetapi keterampilan dasar di era ini, adalah keterampilan komputernya, termasuk pengaplikasian software pembuatan peta. Titik tekannya berbeda. Dulu keterampilan kartografis, sekarang keterampilan komputerisasi.

Ketiga, semula kita banya terhambat oleh aspek geografi. Yasraf Amir Pilian,  menyebutnya, dengan hadirnya internet, dunia sudah bisa dilipat. Jarak  bisa diperpendek, dan waktu bisa dipercepat. Atau mungkin sebaliknya, jarak diperpanjang dan waktu diperlambat. Semua itu amat sangat bergantung pada manajemen teknologi itu sendiri.

Terakhir, yang perlu dikemukakan di sini, kenampakan bumi saat ini, sudah tidak nyata lagi. Kenampakkan muka bumi, dihadapan kita, sudah bukan lagi kenampakkan asli, melainkan kenampakan virtual, elektronik atau digital. Itulah yang kemudian, dikenali pula sebagai sebuah era dengan karakter baru, neogeografi atau digital geography.

Advertisements