Untuk lingkungan Kemendikbud, kurikulum 2013 sudah berjalan satu tahun. Sementara, untuk lingkungan Kementerian Agama, baru akan berjalan tahun pelajaran 2013-2014.  Sosialisasi dan komunikasi, serta koordinasi antar lembaga sedang giat-giatnya dilakukan, termasuk di satuan  kerja lembaga pendidikan itu sendiri.

Salah satu hal yang tertangkap dari karakter kurikulum 2013 ini, yaitu pengedepanan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Belajar adalah ilmiah, dan model pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan prinsip praktek ilmiah. Mata pelajaran apapun, perlu memperhatikan aspek keilmiahannya. Maksudnya, dalam mempelajari sesuatu, siswa perlu dikenalkan, dan diajak langsung melakukan praktek ilmiah itu sendiri.

Istilah praktek ilmiah, kiranya tidak perlu diartikan terlalu ‘kaku’.  Bagaimana mungkin, dengan waktu yang singkat, dan tahap perkembangan berfikir masih sekolah dasar-dan-menengah, serta dikejar jumlah SK/KD yang numpuk, seorang siswa harus trampil melakukan penelitian ilmiah sebagaimana seorang ilmuwan melakukannya.

Makna dari pendekatan saintifik di sini,  sudah tentu, lebih ke arah pada pengenalan dan pembiasaan. Bahwa untuk mendapat sesuatu, tidak boleh instan, dan ada prosedurnya tersendiri. Pengenalan dan pembiasaan dalam tradisi ilmiah, jauh lebih penting dari sekedar pengetahuan ilmiah itu sendiri.

Kita mungkin ingat, ‘kalau seseorang diberi ikan,  dia bisa makan satu kali , tetapi jika dia diberi kail,  maka dia bisa makan berkali-kali .”

Karena itu, hal yang sangat penting, dan perlu dilakukan oleh kita ini, adalah mengenalkan cara mendapatkannya, dan bukan hasilnya.  Kalau siswa disuruh menghapal ilmu, dia tahu satu ilmu, tetapi jika dia diberi tahu cara mencari ilmu, maka dia akan menguasai seluruh ilmu. (insya Allah).

Hal menariknya lagi, dari pendekatan ini, menetapkan bahwa langkah pembelajaran itu, harus menyertakan teknik pengamatan dan investigasi informasi. Siswa dituntut untuk memiliki pengalaman dan kemampuan dalam mencari pengetahuan sendiri.

ide atau gagasan ini, mengingatkan kita pada Cedric Cullingford (Patrick Wiegand, 1993) dalam buku “Children and Primary Geography”.  Dalam buku itu, dia dengan tegas bahwa pembelajaran adalah upaya sadar seorang  tenaga pendidik dalam memanfaatkan pengamatan, penelitian dan pengalaman siswa  dalam menyusun informasi. Dengan kemampuan seperti itu, maka hasil belajar akan jauh lebih baik, dibandingkan sekedar kemampuan mendengarkan atau melihat guru menerangkan materi di depan kelas.

Advertisements