Semual tidak dianggap aneh. Wajar dan biasa. Bila sebuah majlis taklim, atau tempat pengajian dipenuhi oleh kaum ibu. Hampir di setiap tempat, yang menjadi tempat pengajian, kaum ibu akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan kaum pria (bapak-bapak). Walaupun bukan hasil penelitian, tetapi pengamatan sepintas ini, kerap menjadi sebuah tontonan yang sangat mudah ditemukan dan dibuktikan.

Tinggal di Kota Bandung, pun menunjukkan hal serupa.  Pengajian ibu-ibu, jauh lebih semarak dan banyak pengikutnya dibandingkan dengan pengajian bapak-bapak. Pengajian kaum ibu, jauh lebih tersetruktur, dan rutin dibandingkan kaum pria. Begitu pula ketika pulang ke kampong  halaman.

Fenomena serupa, dapat disaksikan pula dalam pengajian di media elektronik. Sejumlah da’I (juru dakwah) yang muncul di media elektronik, kerap kali dikelilingi oleh jamaa dari kaum ibu. Jika ada pengajian yang diisi oleh kaum bapak, sudah pasti ada kaum ibunya. Tetapi, pengajian ibu-ibu, tidak pernah ada bapak-bapaknya (selain penceramahnya itu sendiri).

Kepenasaran ini kian mengental saat membaca tulisan dari Linda Woodhead (2007:115-126)[1]. Sosiolog dari Inggris ini, memberikan analisis mengenai munculnya fenomena kaum perempuan yang banyak menggunakan layanan spiritual holsitik. Menurut pandanganya, di Inggris saat itu, ada kecenderungan kaum perempuan banyak memanfaatkan layanan dalam bidang kecantikan, kesehatan dan agama (beauty, healthcare, religion). Fenomena ini, sangat berbeda dengan aktivitas kaum laki-laki.

Penyebab utama munculnya fenomena itu, menurut Linda Woodhead, yaitu adanya persepsi bahwa di wilayah itu, seorang perempuan tidak mengalami konflik peran atau status.  Aktivitas-aktivitas tersebut, jauh lebih merupakan sebuah ruang-hidup yang dirasa nyaman, dan bisa memenuhi kebutuhan dan harapannya. Berbeda dengan wilayah public lainnya, seperti karir atau aktivitas politik. Pekerjaan itu, kerap  menuang kritik dan pertanyaan dari masyarakat.

Kendati ada sisi bias gender, tetapi, aspek-aspek public lainnya, masih menyisakan ‘ketidaknyamanan sosiologis’ pada masyarakat. Nilai dan norma masyarakat, masih memberikan penilaian ganda terhadapnya. Karena itu, khusus untuk tiga wilayah tadi, yakni kecantikan, kesehatan atau kebugaran, dan agama, menjadi tempat nyaman untuk kaum perempuan melakukan ekspresinya.  Karena itulah, tidak mengherankan bila layanan dan kegiatan di wilayah ini,  semarak diikuti oleh kaum perempuan.

Hanya saja, kita belum mendapatkan penjelasan lanjutan dari Linda Woodhead, mengenai bagaimana tingkat kepuasan dan kenyamanan kaum perempuan dalam ketiga wilayah tersebut, antara sebagai pelaku (karir) dengan pengguna jasa. Karena yang menjadi masalah, pelaku utama (pemberi jasa layanan ketiga wilayah yang disebutkan tadi, pun masih minim dari kalangan perempuan?).  Coba perhatikan dengan seksama, baik di desa maupun di kota. Pengajian ibu-ibu ramai, tetapi pengisinya, kadang diisi oleh kaum laki. Apa makna dari semua itu ?


[1] Kieran Flanagan and Peter C. Jupp (ed.).  A sociology of spirituality, 2007,  “Why so Many Women in Holistic  Spirituality? A Puzzle Revisited”, Burlinton : Ashgate Publishing Company.

Advertisements