Kendati  tidak seperti orang lain, tetapi hasrat menyaksikan sepakbola itu hadir juga dalam diri ini. Padahal, diluar hal itu, kegiatan olahraga yang sekarang digeluti bukanlah sepakbola, atau futsal. Jenis olahraga seperti ini, masih jauh dari impian untuk bisa digeluti. Tetapi, untuk sekedar menikmati pertandingannya, selain bulutangkis, mungkin sepakbola adalah pilihan utamanya.

Tidak tahu, mengapa hal itu bisa terjadi.  Lagi pula, perasaan seperti ini, tidak hanya diraasakan sendiri. Sejumlah orang pun cukup menikmatinya. Bahkan, beberapa orang yang dianggap paham agama, biasa disebut ustadz, ternyata ada juga yang maniak sepakbola ini.

Raymond Boyle dan Richard Haynes, menegaskan bahwa masalah olahraga ini tidak pernah membuat bosan. Bicara olahraga ini, tidak pernah membosankan. Selain ragam cabangnya, dan juga dinamikanya cukup beragam. Ada yang sempat memberikan analisis, bahwa kompetisi sepakbola pada salah satu liga, sudah membosankan, karena sang juara tetap bertahan untuk klub yang sama, daalam waktu yang sangat lama. Tetapi, perubahan peta itu ternyata tidak bertahan lama, dan kini terus berubah. Sempat, Italia menjadi kiblat sepakbola, kemudian ke Spanyol. Dengan kemenangannya Bayern Munchen dalam sejumlah kejuaran, menyebabkan kiblat sepakbola bergeser ke Jerman.

Potret olahraga di era modern ini, sempat memancing perhatian Raymond Boyle dan Richard Haynes (2009)[1].  Kedua penulis ini, mencoba menyajikan sebuah prasangka awal, atau usulan pemikiran, untuk memosisikan sepakbola  dalam peta popularitas olahraga di zaman kita ini.

Menurut pandangannya, sepakbola bisa jadi, dapat diposisikan sebagai rajanya cabang olahraga di dunia maya, di era digital. Tenis dan basket bisa jadi popular di masyarakat nyata, tetapi untuk bentuk hiburan di dunia maya, kiranya masih kalah pamor dibandingkan dengan sepakbola.

Sesekali, saya pun pernah memanfaatkan olahraga mancing, balap motor, atau tenis, tetapi, olahraga sepakbola masih tetap menjadi pilihan pokok dibandingkan dengan jenis olahraga hiburan di dunia maya itu. Kiranya, tidak salah, bila kemudian, sepakbola bukan saja menjadi olahraga rakyat dan popular dijagat nyata, tetapi juga raja di dunia maya.


[1]Raymond Boyles and Richard Haynes, 2009. Power Play,  Sport, the Media and Popular Culture. Edinburgh : Edinburgh University Press

Advertisements