Ada sebagian diantara kita, yang tidak tahu, bahwa dalam perut bumi yang diinjaknya teradapat jutaan barrel minyak bumi, atau tonnan batu bara, bahkan emas pun melimpah. Sebagian diantara kita, tidak tahu, dan tidak menyadari hal itu. Mereka hidup seadanya, dan tidak menyadari mengenai potensi dan/atau kemampuan dahsyat yang dimilikinya. Kira-kira, itulah yang bisa mengilustarikan seseorang yang hidup tanpa kesadaran, mengenai kemampuan dan potensi dirinya.

Orang yang seperti ini, hidup apa adanya, dan tidak tahu mengenai kemampuan dirinya. Dia tidak sadar mengenai potensi dahsyat dalam dirinya.

Gambaran orang seperti itulah, yang kita sebut seseorang dengan ‘akunya yang tersembunyi’. Aku atau kemampuan nyata dirinya belum kelihatan, karena masih terpendam. Potensi orang itu masih terpendam. Bakatnya belum tergali. Dia masih menjadi orang yang hidup apa adanya, dan belum menggali kemampuan atau bakatnya. Kebutuhan diri yang mendesak itu, adalah menggali potensi, bakat, kemampuan, atau minat. Galilah aspek itu, dan kemudian kembangkan. Karena sesungguhnya, kemuliaan intan atau berlian itu, bukan pada potensinya, melainkan pada aktualitasnya dalam kehidupan.

Manusia itu adalah makhluk yang mulia. Manusia itu makhluk yang unggul, karena dia memiliki potensi akal. Tetapi, keunggulan itu sendiri, pada dasarnya bukan karena potensinya. Mirip emas dan berlian itu sendiri. Andai masih terkubur dalam perut bumi, maka dia tidak memiliki harga apa-apa. Keberhargaan nilai barang tambang itu, saat dia sudah digali dan difungsikan sebagai perhiasan. Begitulah akal kita.

Tidak mengherankan bila kemudian ada Firman Allah Swt yang berbunyi, “dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Qs, Al-Araf: 179). Hal itu terjadi, karena dia tidak menggali dan memfungsikan bakat, minat dan fungsinya.

Dari pengalaman dan penyadaran itulah, kita bisa tarik kesimpulan bahwa (a) tak kenal, maka tak sayang, (b) tak kenal maka tak sukses, (c) tak kenal maka tak bahagia. Semua itu, dikarenakan kita gagal mengenali minat, bakat dan kemampuan kita. Kita lebih banyak berjalan apa adanya, dan bukan dengan apa bakatnya. Oleh karena itu, sadari dan galilah bakat dan kemmapuan kita itu, karena dengan langkah itulah, kita bisa merasakan mulianya emas, dan tingginya wibawa berlian kita !

Upaya yang perlu dilakukan, kiranya adalah kita perlu mengubah, dari sikap hidup apa adanya, mendingan serius menggali ada apa bakat dan kemampuan kita. Galilah terus, ada apa dalam diri kita. Galilah bakat dan kemmapuan kita. Jadi, hiduplah dengan Ada apanya yang ada dalam diri kita, bukan apa adanya…..

Advertisements