Berdasarkan penelitian David Eisenberg (2003) atau Momon Sudarma (2007),  interaksi antara pengobatan alternatif dengan pengobatan modern, atau antara masyarakat dengan layanan pengobatan alternatif, menunjukkan pola yang beragam.  Ragam respon itu, merupakan bentuk dinamika sosial masyarakat terhadap layanan pengobatan alternatif itu sendiri.

Kendati demikian, setidaknya kita melihat ada lima pola interaksi antara pengobatan alternatif-modern, atau antara layanan pengobatan dengan masyarakat pengguna layanan kesehatan.

Pertama, relasi yang sifatnya disparitas.  Penganut sistem medis memandang pengobatan alternatif sebagai pengobatan yang tidak efektif, dan  tidak perlu dipertimbangkan. Mereka lebih percaya, dan tetap mengandalkan sistem modern sebagai bentuk layanan kesehatan.  Begitu pula dengan pelaku dan  masyarakat pengguna sistem medis alternatif. Mereka memandang bahwa sistem medis modern, tidak menyelesaikan masalah kesehatan, dan hanya menyelesaikan masalah simptom belaka.

Kedua, pendekatan komplementer.  Sebutan komplementer ini, pada dasarnya muncul di tengah masyarakat Barat-Modern.  Kemudian, yang dijadikan pelengkap (penggenap) sistem medis modern, yakni pengobatan alternatif.  Ada makna implisit dari penggunaan pendekatan komplementer itu. Sistem medis komplementer (alternatif) dibutuhkan, manakala sistem medis modern tidak mampu menjawab atau tidak mampu memecahkan masalah kesehatan yang sedang dihadapi.

Terakhir, pendekatan integrasi. Perbedaan antara komplementer dengan integrasi yaitu, dalam masalah pengakuan. Pada pendekatan integrasi,  sistem pengobatan yang ada diakui, baik secara sosial maupun  ilmiah, sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem medis yang dibutuhkan manusia.

Pandangan sistem integratif ini, memosisikan manusia secara utuh, dan menyakini pendekatan pemecahan masalah kesehatan pun, harus dilakukan secara terpadu pula. Sehat adalah bentuk akhir dari hubungan antara jiwa dan raga, dan begitu pula dengan sakit. Karena itu, pendekatan dalam memberikan pelayanan  kesehatan pun, harus dilakukan  secara terpadu.

Selaras hal ini, Anand Krishna (2005) mengatakan bahwa meditasi bukan pengobatan alternatif.[1] Pendekatan yang selama ini, disebut alternatif pun, secara umum,  tidak tepat disebut sebagai alternatif. Karena pada dasarnya, pengobatan atau penyembuhan itu adalah bagian tidak terpisahkan dari pengobatan medis-modern yang berkembang saat itu. Sehingga, lebih tepatnya disebut  jenis pengobatan holistik.


[1] Anand Krsihna. 2005. MedEri : MedisMeditasi. Jakarta : PT. One Earth Media.

Advertisements