kadang kita ini munafik. Ingin disebut demokratis, tetapi tidak mau berdiskusi. Kadang kita ini berdiskusi, tetapi tidak mau mengubah pandangan diri yang keliru. Kadang kita ini, sadar akan kekeliruan, tetapi gensi untuk mengubah diri.

Ribut. Gemuruh. Gelisah. Itulah suasana yang tampak dan terasa di tengah komunitas ini. Kegelisahan itu terjadi, bukan karena ada bencana alam. Mereka menyebutnya sebagai bencana organisasi. Ada informasi, dari segelintir orang bahwa pimpinan mengeluarkan kebijakan, yang mendadak, mengagetkan, dan membingungkan. Disebut mendadak, karena tidak disampaikan dalam forum. Di sebut membingungkan, karena apa yang disampaikannya, berbeda dengan apa yang pernah dikemukakannya tempo hari di rapat bersama. Disebut mengagetkan, karena berpeluang ‘menghapus’ kesejahteraan karyawannya.

“masalah apa ?” tanyaku polos.

“itu, katanya uang makan tidak cair, kalau kita tidak pijit finger print”. Sebagaimana dimaklumi, di lembaga ini, sistem pencatatan kehadiran sudah menggunakan mesin elektronik yang disebut finger print. Teknologi bukan hal baru, tetapi di tempat ini baru diterapkan. Karena itu, wajar bila ada resistensi dari setiap orangnya.

“kami tidak menolak teknologi. Kami paham, teknologi itu adalah hal baru dan demi kebaikan kinerja lembaga” papar seorang pegawai. “hal yang kami tidak mengerti itu, adalah, kenapa beda dengan apa yang sudah disepakati dulu ? kenapa beda dengan instansi lain, yang sama-sama satu kementerian ? kenapa main hakim sendiri, dan tidak diobrolkan dulu ?” cerocosnya.

“oh..gitu..” pikirku. Dari pengakuan inilah, secara tidak sengaja, terbersit sebuah inspirasi mengenai karakter dan gaya kepemimpinan. Dari pengalaman itu, saya jadi mengerti, mengapa Bertrand Russel pernah mengatakan bahwa demokrasi itu adalah kesediaan dan kerelaan untuk berdialog.

Seseorang yang feodalis, mengedepankan prinsip, “perkataan saya adalah suci. Tidak mungkin salah, dan tidak mungkin keliru.” Karena itu, si penuturnya, akan merasa gengsi kalau dikoreksi oleh orang lain, apalagi bawahan. “saya ini, raja, masa pikiran saya dikoreksi oleh bawahan ?”, pikirnya, “saya ini lulusan pascasarjana, masa dikritik oleh anak SMA ?!” perasaan gensi dan merasa terhormat, dan minta dihormati, adalah ciri dari feodalisme.

Seorang yang otoriter, akan mengatakan, “suka tidak suka, orang lain harus nurut dan melaksanakan perintahku.”. Agak mirip dengan feodalis. Dia mikir, bahwa pandangan, pikirannya dan tindakannya adalah hukum bagi rakyat. Benar salah nomor ke sekian, yang penting dan utama adalah Anda harus melaksanakan tugas yang diucapkan yang pemimpin. Hah !

Sementara orang demokratis, akan mengatakan, “mungkin kalian belum paham, mari kita bicara dulu, atau mungkin perkataanku belum jelas, silahkan perbaiki dulu, tetapi apa yang kita impikan demi kebaikan harus terus kita upayakan.”

Pengalaman inilah, yang mengantarkan kesadaran ini, pada satu titik kesimpulan bahwa, kadang kita ini munafik. Ingin disebut demokratis, tetapi tidak mau berdiskusi. Kadang kita ini berdiskusi, tetapi tidak mau mengubah pandangan diri yang keliru. Kadang kita ini, sadar akan kekeliruan, tetapi gensi untuk mengubah diri.

Advertisements