Seiring perjalanan,  ruang aktivitas manusia dapat menggambarkan pada kemampuannya mengartikan ruang hidup.  Masa anak-anak, adalah masa mengenali ruang. Masa remaja, adalah masa menjelajahi, dan masa dewasa adalah masa memanfaatkan. Sementara di masa tua, setiap orang melakukan proses penataan ulang tentang ruang hidupnya.

Setiap hari terlihat ada di rumah. Kegiatannya, bermain di rumah, dan kadang melakukan kegiatan-kegiatan kecil di sekitar rumah, seperti membersihkan taman, memperbaiki perabotan rumah tangga. Sebuah pekerjaan yang dulu tidak pernah dilakukannya. Tetapi, kini, selepas dia pensiun, banyak waktu diluangkannya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Sesekali, bila waktu ibadah tiba, dia menyempatkan ke masjid. Kiranya, inilah waktu yang paling penting baginya. Waktu ibadah dan kegiatan ibadah itu, menjadi bagian rutin dalam hidupnya saat ini. Kalau tidak  bermain di rumah, akan dengan mudah kita temukan, orang-orang tua, yang sudah pensiun ini ada di ruang masjid. Seperti yang dilakukan, tetanggu itu, yang sudah dua tahun terakhir menjalani masa pensiun.

Masa tua adalah fase lanjutan dalam kehidupan manusia. Ada yang mengatakan, masa ini adalah masa bonus bagi kehidupan manusia. Karena memang, tidak semua orang merasakan  fase  kehidupan ini. Dengan meningkatkan kemampuan teknologi dan perbaikan nutrisi serta gaya hidup, jumlah elderly (lansia) ini terus meningkat.

Sekarang ini, sangat mudah menemukan orang-orang yang sudah ada di ambang pensiun dan atau mengisi kegiatan masa pensiun. Bahkan, untuk orang Bandung, sudah disediakan taman Lansia, yang merupakan tempat khusus beristirahat, berolaghraga, atau penyegaran. Taman ini diperuntukkan bagi lansia melakukan aktivitas olahraga di  akhir pekan.

Terdapat banyak kajian mengenai kelompok lansia ini. Fenomena meningkatkan kesadaran beragama pada kelompok orang berusia lanjut ini, sudah menjadi perhatian kalangan peneliti. Seperti di laporkan Ehmann (1999), dalam penelitiannya di temukan informasi bahwa 45 % penduduk berusia 18-29 tahun, menganggap bahwa agama adalah sesuatu hal yang sangat penting. Penilaian ini, mengalami lonjakan besar hingga 70 % pada penduduk yang lebih tua lagi, yaitu pada usia 75 tahunan. Kemudian, Barna (2002) menemukan informasi bahwa penduduk yang berusia lebih tua memiliki frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak muda untuk membaca kitab Suci (Bible).[1]

Bagaimana dengan pandangan Geografi ?

Untuk konteks ini,  penulis ajukan konsep mengenai masa lansia sebagai  masa reteritorialisasi kehidupan.

Dari sudut perilaku keruangan, kiranya dapat dicermati mengenai gejala reteritorialisasi kehidupan.  Proses penuaan (aging) merupakan kesempatan bagi seseorang melakukan penataan ulang mengenai ruang aktivitasnya. Luasnya masa jelajah di usia muda, kemudian ditata ulang di masa ini. Bukan saja, karena masalah kemampuan (energi fisik) tetapi, juga terkait dengan orientasi hidup.

Reteritorialisasi ruang hidup itu, mencakup aspek (1) orientasi hidup,  dari aspek duniawi ke aspek spiritual, (2) dari ruang kerja ke tempat ibadah, (3) dari publik ke domestik, dan (4) dari konflik ke harmoni. Itulah gejala umum, yang tampak pada seseorang yang sudah mengalami proses penuaan. Proses itu pulalah, yang kita sebut sebagai proses reteritorialisasi ruang  hidup pada seseorang yang mengalami masa penuaan.

Seseorang yang memasuki masa lansia, perkembangan psikologinya mengalami perubahan. Hal itu, setidaknya, menguatkan pandangan dari Ehman dan Barna.  Fenomena yang ditemukan Ehmann dan Barna itu, merupakan bentuk dari orientasi hidup, dari masalah duniawi ke masalah spiritual.

Munculnya gejala orangtua yang rajin ke masjid, atau shalat subuh banyak diisi oleh orang tua, adalah contoh kecil, adanya perubahan orientasi ruang kegiatan.  Orientasi ruang kegiatan manusia, menjelang lansia ini berubah dari tempat kerja ke tempat ibadah.

Keputusan untuk pensiun, memang tidak menyebabkan berhentinya seluruh kegiatan seseorang.  tetapi, dengan perubahan status dari tenaga kerja aktif ke  purnabakti, mengurangi kuantitas dan frekuensi kerja di ruang publik. Seseorang yang masuk pada usia lanjut, memasuki ruang pribadi atau ruang domestik.

di lihat dari aspek psikologinya pun, kematangan mental sudah menjadi lebih kuat dibandingkan dengan masa remaja. Orang tua, sudah mengambil posisi  mencari kenyamanan, atau ketenangan. Walaupun mungkin, kenyamanan dan ketenangan yang dimaksudnya, adlah ketenaggan subjektifnya sendiri.


[1] K. Warner  Schaie, Neal Krause, Alan Booth. 2004. Religious influences on health and well-being in the elderly.

—1sted. Hlm. 3

Advertisements