Black hole adalah satu keadaan atau satu sistem yang memiliki daya tarik  (daya sedot) luar biasa, sehingga orang lain, pihak lain, atau bagian lain –sadar atau tidak,  diinginkan atau terpaksa, kemudian masuk dalam perangkapnya, dan setelah itu dia tidak bisa lepas dari sistem yang dibangun oleh sistem tersebut.

Dari makna seperti itulah, kita dapat ‘mengkaji’ mengenai black hole birokrasi, blackhole politik, black hole ekonomi, black hole kekuasaan, atau malah kita pun dapat melihat black hole cinta ?!

Ini pembicaraan yang asyik. Walaupun tema berat, tetapi dapat dibincangkan dengan suka cita dan sederhana. Kata sebagian orang, pembicaraan mengenai black hole, adalah pembicaraan yang cukup berat. Tetapi saat itu, sangat mudah didiskusikan. Bahkan, sejumlah anggota Geografi Club MAN 2 Kota Bandung saat itu, hadir dengan penuh keceriaan dan suka cita. Tidak ada kerutan dahi yang menahun. Tidak ada kerutan dahi yang permanen.

“ada mikir, itu pasti..?” ujar seorang anggota, yang tidak mau disebut namanya. Tetapi, bukan berarti kita harus berbingung-bingung ria dengan tema kajian minggu ini.  Bahasan yang dipandun oleh Mahasiswa Pendidikan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang kebetulan sedang melkukan praktek di MAN 2 Kota Bandung, diskusi ini, terasa sangat kuat bobot ilmiahnya.

Black hole atau biasa disebut lubang hitam, adalah fenomena alam raya yang terus menjadi menarik perhatian kalangan ilmuwan, khususnya astronom.  Kehadirannya menjadikan Astronomi terus memburu informasi mengenai masa depan bumi, tata surya, dan alam semesta itu sendiri.

Meminjam definisi dari Valeri  P. Frolov dan Igor  D. Novikov (1997:3), black hole adalah suatu wilayah dalam ruang waktu, dimana kekuatan gravitasi hadir sangat kuat, sehingga setiap benda termasuk cahaya tidak bisa melepaskan diri dari tarikan kekuatannya. Dalam membahasnya, menurut kedua penulis itu, teori Relativitas Umum (general relativity) Einstein, digunakan sepenuhnya untuk memahami fenomena lubang hitam tersebut.

Kendati demikian, khususnya bagi pemula, kita perlu hati-hati dalam  mengartikan konsep ini. Sebab, kendati disebut black, tetapi sesungguhnya tidak hitam. Kendati disebut hole (lubang) tetapi bukan lubang. Penyebutan black itu sendiri karena tidak ada  cahaya terpantulkan dari wilayahnya. Benda angkasa, termasuk cahaya tertarik ke dalam intinya, dan tidak pernah mampu keluar dari kekuatannya. Daerah itu pun, bukan lubang, tetapi sebuah tempat (region) di alam semesta.

Ciri pokok dari black hole adalah kemampuannya menarik benda-benda angkasa yang mendekatinya. Kekuatan gravitasi didalamnya, mampu menyedot benda angkasa, dan tidak memberikan kesempatan apapun (siapapun?) untuk bisa keluar dari tarikan gravitasinya.  Bahkan, cahaya pun tidak bisa melepaskan diri dari tarikannya. Black hole dikatakan sebagai benda yang memiliki kekuatan besar untuk “memakan” benda-benda ruang angksa, dan tidak ada kesempatan sedikit pun bisa lepas dari tarikan gravitasinya.

Di lihat dari awal mula kelahirannya, istilah black hole adalah salah satu konsep dasar dalam kajian Astronomi atau Astrofisika. Tetapi untuk saat ini, konsep black hole sudah tidak sekedar digunakan dalam kajian Astronomi. Disiplin ilmu sosial, budaya, dan juga agama, ada yang sudah memanfaatkan konsep black hole. Bahkan, bisa jadi, kita pun dapat menggunakannya sebagai bahasa pergaulan.

Merujuk pada definisi yang dikemukakan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa black hole adalah satu keadaan atau satu sistem yang memiliki daya tarik  (daya sedot) luar biasa, sehingga orang lain, pihak lain, atau bagian lain –sadar atau tidak,  diinginkan atau terpaksa, kemudian masuk dalam perangkapnya, dan setelah itu dia tidak bisa lepas dari sistem yang dibangun oleh sistem tersebut.

Dari makna seperti itulah, kita dapat ‘mengkaji’ mengenai black hole birokrasi, blackhole politik, black hole ekonomi, black hole kekuasaan, atau malah kita pun dapat melihat black hole cinta ?!

Pada budaya politik kita, jangan-jangan ada wilayah yang disebutnya black hole.  Budaya politik itu sangat meransang banyak orang, dan disetiap pemilunya, banyak orang terpesona untuk mendekati ‘ruang black hole tersebut’. Kekuasaan dalam politik memiliki kekuatan daya rangsang luar biasa hebatnya. Siapapun orangnya, ustad atau preman, profesor atau mantan pedagang asongan,  banyak yang tertarik dengannya. Sayangnya, siapapun orangnya, ustad atau preman, profesor atau mantan pedagang asongan kalau sudah masuk ke sistem budaya legislatif, menjadi tidak berkutik. Korupsi  jamaaah, adalah bentuk nyata dari kekuatan black hole dari sebuah lembaga.

Untuk kaum remaja, hati-hati juga dengan cinta black hole.  Atas nama cinta, mereka merasa ‘tidak berkutik untuk menunjukkan kemandirian dan kemerdekaannya’. Atas nama cinta, mereka tidak berdaya dibuatnya. Ya, dalam cinta black hole kita ketemu dengan orang hobinya minta, dan tidak pernah ngasih, itulah orang black hole.  Seseorang yang terjebak pada cinta black hole, merasa tidak ada waktu untuk keluar dari jeratan cinta, dan merasa cinta dia itulah satu-satunya jalan hidup.  Yee…segitunya, nya ?!

Apapun bidang kehidupannya, andai ada situasi yang membuat kita terjebak pada satu titik, dan kemudian kita merasa  tidak berdaya dibuatnya, bahkan ketika kita merasa tidak nyaman tetapi tidak bisa keluar dari jebakan itu,  bisa jadi, kita terjebak pada situasi black hole.

Mirip dengan apa yang dipikirkan para Astronom, apa yang bisa dilakukan untuk kel luar dari jebakan black hole. Karena kita tidak mungkin untuk bisa hidup terus dalam  suasana itru.

“apa nyaman dalam suasana black hole ?”

“ah, aneh, jadi orang kok, black hole banget sih ?”