Kartun muslim hamilDalam ritual empat bulanan, terdapat sejumlah praktek yang sarat dengan makna-makan budaya. Praktek itu disampaikan dalam bentuk simbolik, dan membutuhkan penjelasan atau penuturan dari pemimpin acara tersebut.  Dalam konteks ini, pendekatan antropologi-sosiologi interpretatif, menjadi sangat relevan untuk digunakan dalam memaham praktek upacara empat bulanan.

Setidaknya ada empat simbol yang muncul dalam praktek upacara empat bulanan. Pertama, simbol dalam bentuk bacaan atau nasihat. Bacaan atau nasihat yang disampaikan itu, bisa berasal dari petuah seorang ustadz, dan bisa dalam bentuk bacaan. Pembacaan surat Lukman, Yusuf atau Surat Maryam dari Kitab Suci Al-Qur’an merupakan simbol impian, dan keinginan dari keluarga dan ibu hamil untuk mendapatkan keturunanyang soleh, seperti Lukman (putra Lukman), tampan seperti Yusuf, dan solehah serta cantik seperti Siti Maryam.

Kedua, simbol dalam bentuk benda, yang digunakan dalam upacara empat bulanan.  Memasukkan belum ke dalam guci, dan kemudian disiramkan kepada ibu hamil, mengandung makna supaya sang Ibu Hamil bisa melahirkan dengan lancar (licin), dan  tidak mengalami masalah dalam proses melahirkan. Sementara,  selepas itu, kendinya diinjak sang suami hingga pecah. Setelah itu, sang suami pun, membelah kepala dengan maksud untuk melihat kualitas anak, yang diharapkan menjadi anak yang bersih, suci lahir dan  bathin.

Ketiga, simbol ditunjukkan dalam bentuk perilaku. Menurut informasi, diantara 70- 90 % wanita hamil merasakan ngidam. Selain itu, mereka tidak mengalami peristiwa ngidam ini.  Dalam menghadapi orang-orang ngidam ini, kadang menyebabkan adanya kesibukkan tersendiri pada anggota keluarga, khususnya suami. Hal yang menarik,  makna simbolik dari peristiwa itu adalah kesungguhan dalam memenuhi kebutuhan ibu hamil yang ngidam, dimaksudkan sebagai bentuk keseriusan, kesungguhan dan perhatian dari anggota keluarga, khususnya suami kepada ibu hamil. Walaupun, perilaku ngidam ini, bukan perilaku alamiah, tetapi perilaku ini tetap menjadi perhatian dari setiap anggota keluarga.

Setiap masyarakat memiliki pantangan tersendiri, bagi seorang ibu hamil. Ada pantangan yang berupa makanan, minuman, perkataan atau perbuatan. Alex J. Ulaen (1998:124), misalnya, memberikan informasi mengenai pantangan perilaku pada masyarakat di Kepulauan Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara.[1]

Jika si ibu hamil makan sambil berjalan, konon akan menyebabkan bayi buang air besar secara serampangan.  Bila wanita hamil senang melihat orang makan, maka bayi yang lahir  memiliki kadar air liur yang lebih dari normal….

Wanita hamil tidak boleh bereaksi, baik dengan cara menertawakan, menunjuk atau memperhatikan terhadap perilaku hewan, seperti anjing, babi atau hewan-hewan lainnya. Ia  boleh saja melihat hewan-hewan tadi, tetapi tidak boleh mengusiknya. Begitu pula hanya kalau melihat orang cacat atau mempunyai kelainan fisik. Jika ia menertawakan atau sekedar memperhatikannya, maka hal  yang ia perhatikan dipercayainya akan menjadi bawaan si bayi dalam kandungannya

Berdasarkan pertimbangan itu,  dapat ditarik kesimpulan bahwa upacara tradisional, seperti halnya upaca empat bulanan, pada dasarnya adalah momentum pendidikan dan pembelajaran, atau sosialisasi nilai-nilai budaya kepada  generasi muda.  Upacara empat bulanan, hanya sekedar alat, karena nilai dasar dari proses itu adalah  pendidikan dan pembelajarannya itu sendiri. Nilai-nilai edukatif itu tertanam dalam bahan atau peralatan, serta praktek yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi terkait.


Uraian  ini, adalah penggalan  materi yang disampaikan dalam shilaturahmi di syukuran empat bulanan, tetangga di Kompleks Vijaya Kusuma, 22 September 2013.

[1] Alex J. Ulaen. 1998, Pantangan Bagi Wanita Hamil dan Perawatan Persalinan diKepulauan Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara, dalam Meutia F. Swasono (penyunting). Kehamilan, Kelahiran, Perawatan Ibu dan Bayi dalam Konteks Budaya. Jakarta : UI Press.

Advertisements