TIngkat kejahatan koruptor tidak lebih rendah dari terorisme. Sejatinya, keseriusan bangsa ini melawan terorisme, harus sepadan dengan keseriusannya melawan koruptor.

Artinya,  bila memang negeri ini serius melawan terorisme melahirkan tim khusus, Densus 88, mengapa tidak membentuk Densus 99 untuk menangkap koruptor ! 

Tidak mudah untuk memahami masalah yang terjadi saat ini. Kalau, masalah dunia saat ini, sedang diramaikan dengan masalah terorisme. Amerika Serikat, sebagai negara yang ‘merasa menjadi polisi dunia’ menegaskan kebijakan politiknya untuk  perang melawan terorisme. Kebijakan ini kemudian diikuti oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Masalah terorisme ini, menjadi salah besar dan masalah dunia.  Walaupun, kita sendiri, agak mengalami kesulitan untuk menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan teroris, dan mengapa hal itu terjadi.

Alan Bennett Krueger (2007), seorang akademisi dan pkar Dewan Ekonomi Amerika Serikat,  membantu kita menjelaskan mengenai asal-usul terorisme.[1]  Mudah ditebak, karena latar belakang ekonomi, dan memiliki lingkungan politik di Amerika Serikat, maka sudut pandangnya tersebut, tidak jauh dari apa yang sudah mereka yakini tersebut.

Dalam pandangan Alan Bennett Krueger, akar pokok dari terorisme itu adalah masalah ekonomi dan pendidikan. Kendati disebutkan demikian, kita tidak boleh menyempitkan makna ini.  Karena pada dasarnya, penyebab terjadi terorisme itu, bukan karena masalah kemiskinan (aspek ekonomi), dan kebodohan (aspek pendidikan). Aspek-aspek ini, perlu ditegaskan sebagai kesenjangan ekonomi dan tradisi intelektual.

Kesenjangan ekonomi menyebabkan lahirnya gerakan politik ekonomi. Ektrimnya, gerakan politik ekonomi tersebut diwujudkan dalam bentuk separatik, dan terorisme. Kecemburuan ekonomi atau kesenjangan ekonomi ini, kemudian diperburuk dengan rendahnya tradisi intelektual untuk melakukan dialog. Kebuntuan komunikasi menjadi penggenap lahirnya gerakan separatik dan teroris.

Pada saat membaca buku karya Alan Bennett Krueger ini, kemudian kita malah diajak untuk mengingat mengenai masalah korupsi di negeri ini. Dalam pikiran ini, seolah terbayang, bahwa teror itu adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan dan bertujuan untuk menciptakan kegelisahan sosial dan kekacauan keamanan nasional. Kemudian, secara tidak disengaja, pikiran ini pun sampai pada satu kesimpulan  bahwa korupsi adalah kegiatan yang melibatkan unsur perampasan dengan dampak menciptakan kerusakan tatanan ekonomi dan keamanan nasional.

Sampai detik ini, orang yang tertangkap korupsi, terus terjadi.   bukan hanya satu, tetapi kelompok. Bukan hanya dipusat, tetapi juga di daerah. Bukan hanya pemain lama,tetapi pemain baru. Bukan tokoh tua, tetapi sudah sampai pada pelaku muda.  Bukan hanya dikota, tetapi sudah di desa. Bukan hanya di lembaga pemerintahan tetapi juga sudah di lembaga pendidikan.

Artinya, bila memang negeri ini serius melawan terorisme melahirkan tim khusus, Densus 88, mengapa tidak membentuk Densus 99 untuk menangkap koruptor !


[1] Alan B. Krueger. 2007. What Makes a Terrorist . Princeton University Press.

Advertisements