Mandiri itu adalah kematangan jiwa, usaha sendiri adalah strategi hidup, tetapi menyendiri adalah kelainan jiwa akibat terlepasnya ikatan sosial.

tunjukkan kemandiran, dan hindari kesendirian. Karena mandiri itu, bukan menyendiri.

Di sudut kursi belakang. Di setiap harinya. Dia duduk sendiri. Wajah merunduk. Tangan memegang ballpoint. Kadang sambil mencatatkan beberapa kalimat, yang dirasanya perlu  catat, kadang pula hanya sekedar corat-coret belaka. Hampir sebulan sudah, dia melakukan hal itu, di belakang teman-temannya, atau lebih tepatnya, di hadapan gurunya sendiri dalam kelas.

“Fiki…”sapa sang guru, anak itu pun meresponnya dengan cara menengadahkan wajah, tanpa berujar apa-apa, “coba perhatikan ke depan?”, mendengar perintah itu, wajah Fiki hanya digerakkan ke kanan dan ke kiri tanpa jelas maksudnya, sambil sesekali menunduk lagi.

Di perhatikan, perilaku Fiki itu terjadi hampir di setiap pertemuan.  Selepas konfirmasi ke sejumlah rekan profesi, anak usia kelas X SMA/MA ini,  dipahaminya sebagai orang yang memang memiliki perilaku seperti itu. Menyendiri, tidak banyak bicara, dan pola perilakunya seolah terbatas..

Dalam satu kesempatan tertentu, anak itu dipanggil. Menghadap untuk satu urusan khusus.  Setelah bertemu, diajukannya beberapa pertanyaan seputar  kehidupan sehari-harinya. “mengapa seolah tidak mau bergaul dengan teman-teman sekelas lainnya ?”

“saya juga tidak tahu, setiap orang yang didekati, dia malah menjauh. Akhirnya, ya udah, saya lebih baik diam saja sendiri?” ujarnya lagi.

“kalau di rumah, bermain dengan siapa ?”

“main game, bersama adik…” jawabnya singkat, “berdua aja.” Ungkapnya lagi, “tidak pernah main ke luar. Karena di luar tidak ada orang lain yang mau bermain.”

“bagaiman dengan orangtuamu ?” tanyaku lagi.

“jarang ketemu. Mereka kan bekerja, paling datang sore hari. Jadi kita diam di rumah berduan seharian.”

“mungkin ibumu  di rumah ? atau bapakmu di rumah ?”

“mereka sudah tidak rukun sejak saya berusia 13 tahun. Dan kami, hanya diizinkan bermain di rumah saja…?” paparnya lagi.

Fiki adalah satu diantara sekian orang yang menunjukkan perilaku sosial yang kurang sempurna.  Bagi teman-teman sekelasnya, Fiki dikenal sebagai orang pendiam, dan cenderung  menarik diri dari kelompok. Sehingga, rekan-rekan sekelas lainnya merasa kurang nyaman bila bergaul dengannya. Dengan perasaan seperti itu, kebanyakan diantara temannya itu, lebih banyak menghindari daripada mendekatinya.

Akibat dari kasus seperti itu, Fiki mengambil jalan hidup dengan cara menyendiri. Sikap itu, tetap membuatnya tidak merasa rugi. Hal itu teralami, bukan sekali, dan bukan dua kali. Karena selama hidup ini, dia bisa hidup sendirian atau berduaan saja di rumahnya. Tanpa teman, tanpa orangtua, dan tanpa harus bergaul dengan tetangga. Hiruk pikuk kota Bandung, dan hiruk pikuk perumahan di kompleks di Kota Bandung, dinilainya sebagai kompleks yang sepi, yang tidak membuatnya tertarik untuk main di luar rumah.

Konflik orangtua dalam rumah, yang membuat ketegangan tersendiri, serta sikap orangtua yang terus menerus menunjukkan kurang keharmonisan, berdampaknya lemahnya perhatian orangtua kepada kedua anaknya tersebut. Anak-anaknya, kurang mendapat perhatian dengan seksama, dan kemudian menyebabkan dia terasing, seolah tiada teman di dalam rumah, kecuali alat permainan game dan adiknya saja.

Advertisements