“Kalau ada biaya, mudah-mudahan, kamu bisa sekolah ..!” ujar seorang ayah kepada anaknya. Pandangan seperti itu, kemudian diaminkan juga oleh ibunya. “sekolah sekarang ini mahal, jadi, kita harus ukur-ukur kemampuan dulu…”

Pandangan yang tidak jarang muncul di kalangan orangtua, disaat anak-anaknya mengajukan harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik dari pengertian dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, atau dari SMA ke Perguruan Tinggi. Di setiap episodenya, dan disetiap jenjangnya, jawaban orangtua tersebut, kerap muncul dihadapan anak.

Kita memang jarang mendengar langsung jawaban itu. Tetapi tiruan jawaban orangtua tersebut, dapat di baca dalam lisan-lisan anak-anak sekolah, saat di tanya seorang guru. Disaat mereka dikonfirmasi rencana belajar atau rencana sekolah selepas dari lembaga pendidikan yang kini ditempatinya, mereka kerap mengajukan jawaban ‘versi orangtua tersebut’.

Sebagai anak,  mereka tidak bisa memilih impian secara leluasa. Sebagai anak, mereka tidak memiliki keleluasaan untuk menentukan dan menetapkan cita-cita secara bebas. Keinginan untuk sekolah atau belajar di sebuah lembaga pendidikan, kerap kali terveto oleh kewenangan orangtuanya, yang diposisikan sebagai pemberi biaya pendidikan.

Dalam struktur ekonomi negara Indonesia,  pola interaksi seperti itu, adalah hal yang wajar. Dalam truktur ekonomi Indonesia, anak adalah kelompok yang tidak memiliki kewenangan luas dan leluasa untuk mengambil keputusan mengenai rencana masa depannya. Karena orangtua dianggap sebagai pemilik modal, maka orangtua itu jugalah yang memiliki ‘saham utama’ dalam proses pengambilan keputusan.  Sementara sang anak, adalah kelompok yang menjadi ‘kelompok’ terkendali  atau dikendalikan oleh orangtua.

Dalam konteks itulah, penyadaran mengenai hakikat belajar atau hakikat bersekolah, perlu dipahami oleh kalangan orangtua. Hal yang paling mendasar, pihak orangtua perlu memahami bahwa belajar ataua bersekolah adalah investasi sosial. Sebagai sebuah investasi, sekolah atau belajar, bukanlah sisa dari kebutuhan harian, tetapi harus merupakan dari bagian kebutuhan itu sendiri. Sebagai sebuah investasi, bersekolah itu bukan sisa belanja, tetapi bagian dari rencana  masa depan itu sendiri.

Selama ini, kita sering menabung, dengan artian, karena ada sisa dari belanja. Menabung sebagai bagian dari sisa belanja, tidak akan memberikan dampak revolusi, terhadap kehidupan kita. Perubahan dari manajemen hidup seperti itu, akan sangat kecil, dan mungkin tidak terasa. Menabung yang memiliki dampak revolusi, adalah menabung yang direncanakan, dengan maksud untuk meraih impian di masa depan. Bila ada target di setiap minggunya, dengan besaran tertentu, maka revolusi finansial dan revolusi kehidupan akan mudah dirasakan. Itulah, yang dimaksud dengan menabung sebagai sebuah rencana.[1]

Demikian pula dengan  bersekolah atau belajar.  Setiap orang  tua, perlu mengartikan bahwa sekolah atau belajar adalah investasi hidup. Sebagai investasi hidup, biaya sekolah bukan sisa dari kebutuhan harian, tetapi harus menjadi bagian dari rencana kebutuhan hidup itu sendiri. Dengan kata lain, ucapan ‘nanti kalau ada biaya, kamu bisa sekolah…!” menjadi tidak perlu diungkapkan.  Hal yang perlu diungkapkan itu, adalah ‘nanti kita tata ulang lagi biaya belanja harian, karena kamu harus belajar…!”


[1] Inspirasi ini didapat dari tulisan Robert T. Kiyosaki. 2001. Rich Dad’s Guide To Investing. New York : Warner Books.  Web site di http://www.iPublish.com

Advertisements