Kita sering menuduh yang BISA kita lakukan  sebagai sesuatu  yang buruk, karena tidak BIASA kita lakukan ?

Bukankah, banyak hal yang BISA dilakukan, tetapi kita tidak BIASA lakukan ?


Kemarin sore, anakku rada mogok pergi ke sekolah. Katanya, malas, cape, gak seru dan sebagainya. Banyak alasan yang dia kemukakan, untuk mendukung hasratnya untuk tidak sekolah.

Melihat kejadian itu, kadang jadi bingung sendiri.  Mengapa anakku bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Apakah, karena anak usia 5 tahun itu tidak mengertia mengenai makna pendidikan, atau karena ada yang salah dalam proses pembelajaran di sekolah ? sebuah pertanyaan, yang tidak mudah untuk dijawab secara sederhana di sini.

Jika tidak sekolah, pada dasarnya, anak seusia ini masih bisa melakukan banyak hal di rumah. Main lego, nyanyi-nyanyi, mewarnai, olahraga, bercanda bercerita,  dan lain sebagainya. Bahkan, untuk ukuran anak seusia itu pun, sejumlah kegiatan di sekolah, banyak yang masih bisa dilakukan di rumah.  Sehingga, kadang ada keraguan dalam diri ini, mengenai fungsi pendidikan anak usia dini di sekolah tersebut ?

Andaipun ada keinginan menyekolahkan anak, lebih disebabkan, karena orangtua tidak mampu memberikan pelayanan pendidikan dan pembelajaran yang cukup kepada anaknya, sehingga anak itu dititipkan di sekolah. Pemahaman ini, seolah mengajak kita pada kesimpulan bahwa ‘kehadiran sekolah itu, lebih disebabkan karena ketidakmampuan lembaga keluarga memberikan pelayanan pendidikan kepada anggota keluarga’.

Ide seperti inilah, yang rada-rada masuk dalam pikiran ini saat ini. Merasa di rumah tidak maksimal, dan tidak mampu memberikan bimbingan belajar kepada anak, akhirnya di sekolahkan.

Tetapi, di lain pihak juga, saya melihat bahwa bila untuk sekedar bisa hidup alamiah, mungkin benar tidak perlu sekolah.  Masyarakat di daerah terpencil, dan atau masyarakat tradisional, masih bisa melakukan hal-hal biasa atau yang alamiah. Makan. Minum. Tidur. Untuk bisa hidup biasa, sesuai dengan kebiasaan, mungkin tidak perlu sekolah.

Apakah kita merasa cukup seperti itu ? ternyata, bersikap alamiah saja tidak cukup.  Untuk hidup di zaman sekarnag ini, kita dituntut hidup alamiah, plus. Artinya  jika kita ingin bisa melakukan yang biasa dilakukan, dan melakukan yang BISA dilakukan, kita akan membutuhkan sekolah.

Fungsi sekolah disini, bukan sekedar melakukan hal yang BIASA dilakukan, tetapi yang BISA dan mungkin BISA di lakukan. Hal itu terjadi, karena proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, di genapkan dengan informasi yang sudah dituliskan secara ilmiah, mengenai berbagai hal yang BISA dan MUNGKIN BISA dilakukan.

Bukankah, banyak hal yang BISA dilakukan, tetapi kita tidak BIASA lakukan ?

atau malah, kita sering menuduh yang BISA kita lakukan  sebagai sesuatu  yang buruk, karena tidak BIASA kita lakukan ?

orang bijak bilang, lakukan apa yang BISA dilakukan, bukan yang BIASA dilakukan, karena melakukan yang BIASA dilakukan,hasilnya BIASA-BIASA saja !

Berdasarkan pertimbangan itulah, saya mengartikan, bahwa belajar itu adalah upaya mentransformasikan diri kita, dari insan alamiah ke insan ilmiah, karen yang alamiah itu ilmiah, dan yang ilmiah itu adalah alamiah. Perbedaannya, yang alamiah itu BIASA dilakukan, sedangkan yang ilmiah itu adalah hal alamiah yanag sudah dituliskan, sehingga di duga BISA dilakukan, dan MUNGKIN bisa dilakukan.

Advertisements