Banyak orang yang bisa memainkan piano, tetapi hanya sedikit yang bisa melahirkan alunan musik yang enak di dengar.  Banyak orang yang bisa memainkan musik piano dengan baik, tetapi hanya sedikit yang bisa mencipta lagu baru. Hal yang teakhir itu, adalah bentuk lain dari kreatifitas. Kreatif itu adalah mampu mengolah dan meracik bahan yang sama, dengan cara baru, sehingga melahirkan produk yang baru.

Mungkin pernah mendengar, jika ada orang yang mengibaratkan otak manusia dengan procesor komputer. Data yang dimasukkan pada komputer, dengan progam tertentu, kemudian akan menjadi sebuah informasi baru, yang  dapat dimanfaatkan manusia. Sementara untuk, menggambarkan gaya aktif orang kreatif, kiranya kita dapat meminjam analogi yang dikembangkan Anette Prehn dan Kjeld Fredens  (2011), yang mengimajinasikan, permainan otak itu ibarat bermain musik.[1]

Perhatikan dengan baik-baik. Seorang komponis atau seorang pemain piano, dia akan berhadapan dengan piano. Setiap hari berhadapan dengan piano. Bukan saja dia, kita pun bisa berhadapan dengan piano tersebut.

Kalau agak kita rinci, dalam sebuah piano itu ada beberapa bagian penting. Pertama, ada Tuts Piano. Menurut informasi, pada mulanya  tuts piano hanya terdiri dari satu warna. Tetapi, karena dianggap kurang efektif dan kurang memudahkan para pengguna, sehingga diubah menjadi dua bagian, yaitu tuts hitam dan tuts putih. Kedua,  Martil, yaitu berfungsi untuk memukul dawai pada piano ketika anda menekan tuts piano untuk menghasilkan suara. Ketiga, Dawai Piano, yaitu bagian yang menghasilkan suara ketika dipukul oleh martil. Dawai piano harus sering distem agar tinggi-rendahnya nada tetap standar. Ketiga, Body of piano, yakni bagian yang menyebabkan gema pada piano.  Keempat, Pedal. Bagian ini, ada Pedal sustain: untuk membuat nada bergema lebih lama, ada Pedal caleste: melembutkan suara dan Pedal una corda: mendekatkan jarak martil dengan dawai.

Sekali lagi, siapapun kita bisa mendapatkan piano dengan perangkat yang lengkap seperti yang kita sebutkan tadi. Anak kecil, anak remaja, orang dewasa, memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki perangkat tersebut, dan atau  memainkannya. Pemusik profesional, pemula atau orang yang tidak kenal pun, bisa memiliki dan memainkannya.

Fakta yang muncul adalah ‘setiap orang bisa memainkan piano tersebut, tetapi tidak semua orang bisa memainkan piano dengan baik’. Setiap orang bisa memainkan piano dengan baik, tetapi hanya sedikit orang yang bisa kreatif mencipta melodi unik dan baru. Mengapa itu terjadi ?

Di sinilah letak, masalah kreativitas !

Setiap manusia terlahir dengan potensi yang sama. Memiliki jumlah pancaindara yang sama. Memiliki batang otak dan sel otak. Memiliki emosi. Memiliki hasrat. Memiliki impian. Setiap manusia memiliki kepala, hati, emosi, kakidan tangan, serta mata. Angggap saja, semua hal  tadi itu adalah mirip bagian-bagian dari piano. Istilah Anette Prehn dan Kjeld Fredens, disebutnya ‘the inner piano’. Tetapi yang menjadi masalah, mengapa, racikan dari potensi-potensi kemanusiaan itu, tidak melahirkan kreativitas yang sama antara satu orang dengan orang lain ?

Untuk menjawab masalah ini, kita bia mengemukakan beberapa masalah penting yang terjadi pada kasus itu.  Piano itu tidak  bermanfaat banyak, karena orang tersebut tidak bisa memainkannya. Otak dan perangkat kemanusiaan dalam tubuh kita ini, tidak bisa  berguna dengan baik, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengolah atau memainkannya. Akhirnya, banyak diantara kita yang membiarkan piano itu tidak berfungsi.

Pada sisi lain, kita sudah terbiasa dengan panduan bermain musik, dengan instrumen dan melodi yang dibakukan. Akibatnya, kemampuan kita itu, hanya memainkan lagu-lagu yang sudah ada panduannya. Di luar panduan itu, kita tidak bisa melakukan banyak hal. Orang seperti itu, kita sebut orang prosedural. Mungkin pintar, dapat menghapal banyak hal, tetapi tidak kreatif, dan tidak mampu melahirkan ide baru, atau kreasi baru.

Proses pembelajaran yang cenderung doktriner,  atau baku, akan melahirkan pola pikir anak muda yang   tidak kreatif. Peserta didik, atau mahasiswa yang hidup dalam suasana sistem yang otoriter, dan gaya belajar doktriner, bisa melahirkan pola pikir  copy paste ’.

Sementara, seorang pianis yang profesional, dia akan mampu memainkan piano itu dengan sempurna, bahkan bisa melahirkan lagu yang beragam, dari hari ke hari. Padahal, alat musiknya sama dengan yang dipakai kita, tetapi karena dia kreatif, dia mampu melahirkan ide baru, dan lagu baru.

Banyak orang yang bisa memainkan piano, tetapi hanya sedikit yang bisa melahirkan alunan musik piano yang enak di dengar.

Banyak orang yang bisa memainkan alunan musik piano yang enak di dengar, tetapi hanya sedikit orang yang bisa mencipta lagu.  Hal yang teakhir itu, adalah bentuk lain dari kreatifitas. Kreatif itu adalah mampu mengolah dan meracik bahan yang sama, dengan cara baru, sehingga melahirkan produk yang baru.


[1] Anette Prehn and Kjeld Fredens. 2011. Play Your Brain. Singapore : Marshall Cavendish Business.

Advertisements