“aku mau nikah, tapi kapan, dan dengan siapa ?”, katanya, “cari pasangan itu, gampang-gampang susah?!” ujarnya lagi. “aku belum beruntung, …” cetusnya di lain waktu.

Betul. Cinta bukan sekedar hoki, apalagi cobi-cobi. Lebih dari itu, cinta dan berkeluarga, adalah upaya mendapatkan kebahagiaan (happy) nan suci (holy),

Tidak sedikit, orang yang sudah memiliki hasrat menikah atau memiliki pasangan, tetapi masih mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. Usaha ke sana ke  mari, kontak biro jodoh baik yang resmi atau tidak resmi, berdandan dalam ragam gaya dan rupa, tetapi tetap saja, jodoh itu belum juga tiba.

Hingga usia yang mendekati angka tiga puluhan, seorang gadis Indonesia akan diliputi kegelisahan. Norma budaya dan tekanan sosial di lingkungannya kerap kali memberikan penilaian yang kurang baik, terhadap status jomblonya tersebut.

Agak lebih mending bagi kaum pria. Memasuki angka tiga puluh masih mendapat permakluman. Tetapi, jika kaum pria tersebut, sudah menghabiskan waktu di usia tiga puluhan, akan memasuki disebutnya sebagai masa kritis. Usia pria  yang bablas menembus angka empat puluhan, akan merasakan hal yang serupa dengan para gadis Indonesia. Norma budaya dan tekanan sosial akan semakin kuat, dan memberikan penilaian yang kurang baik terhadapnya.

Ada yang menganggap, bahwa nikah atau cinta itu dipengaruhi oleh faktor keberuntungan (hoki). Karena tepat waktu, dan tepat sasaran, seseorang kemudian mendapat takdir diterima oleh orang yang diinginkannya. Sementara, kasus yang lain, karena tidak tepat waktu, maka cintanya bertepuk sebelah tangan.

“maaf,  bukan aku tidak mencintaimu, tetapi selama ini kutunggu-tunggu, tetapi tak kunjung tiba juga. Sementara saat ini, saya sudah ada yang punya…” kata seorang gadis dihadapan pria yang mengharap besar akan cintanya. Kejadian ini, mungkin ada yang pernah merasakannya, atau bahkan bisa jadi, banyak yang mendapat jawaban seperti itu.

Jawaban serupa itu, ada yang realistis, ada pula yang politis. Di sebut realistis, karena satu pihak menanti, sedangkan pihak lain lambat mengambil keputusan, kemudian ternyata ada pihak lain yang mendahuluinya. Atau, malah dijodohkan orangtua.

Jawaban serupa itu, ada yang bersifat politis, yakni bahasa lain dari menolak cinta. Seorang gadis, akan menggunakan banyak cara untuk menolak cinta seorang pria yang datang kepadanya, tanpa harus menyinggung perasaan. Salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan bahasa politis seperti tadi.

Ada lagi yang memanfaatkan kebutuhan cinta ini, sekedar coba-coba. Bermain eksistensi. Bermain rasa percaya diri.  Orang yang bangga dengan dirinya, akan mencoba untuk bermain perasaan dengan menguci kebanggaan dirinya dihadpaan orang lain, sebagai penakluk cinta. Cinta sekedar diposisikan sebagai coba-coba, atau hobi bermain gengsi. Gonta ganti,  gonta pasangan, ganti bini.

Entah mengapa, dunia kita saat ini, dihadiri oleh gaya hidup serupa itu. Andai selebriti itu dianggap sebagai prototipe atau cermin kehidupan modern, tampak oleh kita ada selebritis yang memiliki pacar segudang, tetapi tidak pernah serius untuk sampai ke jenjang pernikahan. Pasangan hidup dalam kehidupan tampak oleh kita, seolah mirip dengan pakaian semata, bisa dipakai kapan saja, dan bisa dilepas di mana saja.

Dalam kaitan ini, wacana memandang bahwa cinta atau berkeluarga, atau nikah, bukan sekedar hobi, bukan sekedar hoki. Besok bisa nikah, bukan karena soal kebetulan. Luas  mau nikah, bukan sekedar cobi-cobi (coba-coba).  Lebih luas dari itu, lebih dalam dari itu, cinta dan berkeluarga atau menikah, adalah masalah upaya mencari kebahagiaan-bersama (happy) nan suci (holy). [1]

bagi mereka yang sudah menikah, kendati berawal dari hoki atau hobi, atau coba-coba, maka untuk mendapatkan kebahagiaan, membutuhkan adanya upaya serius mengubah orientasi hidup. Kembangkan hasrat hidup, hasrat menikah, dan jiwa keluarga, pada tingkat yang lebih baik, dan lebih suci, dengan harapan kita mendapatkan sebuah kebahagiaan suci.


[1] Ide ini, terinspirasi oleh tulisan Gary L. Thomas.  2000. Sacred Marriage. Sumber http://zondervan.com/9780310242826.

Advertisements