Hal rutin yang kita lakukan, bila ada momentum indah, akan memiliki sensasi emosi yang luar biasa. Opor ayam bisa dibuat kapan dan dimana saja. Tetapi, kehadiran opor ayam di hari lebaran, memiliki nilai lebih dari yang lainnya. Itulah sensasi. Oleh karena itu, buatlah momentum indah, sehingga hal biasa menjadi luar biasa dalam hidup kita.

Berangkat dari Bandung, pukul 08.30. Menuju Jatiwangi, kabupaten Majalengka. Maksud utama dari perjalanan hari kedua ini, tiada lain adalah memburu  lebaran (idul fitri) di kampung Halaman. Selepas shalat Ied, dan bershilaturahmi dengan tetangga, kami sekeluarga, diantar mertua menuju Kota Jatiwangi. Kami menyebutnya diantar mertua, karena kendaraan yang digunakan waktu itu adalah milik mertua. Kami lah yang numpang di kendaraan itu.

Tidak butuh waktu lama. Hanya beberapa menit keluar dari kompleks perumahan, di bunderan Cibiru Kota Bandung, perjalanan harus mulai berhenti. “Alah, baru segini sudah macet?” ujar Adik ipar, yang juga turut serta dalam rombongan itu. Semua orang yang hadir dalam kendaraan itu, mulai terperanjat oleh kenyataan. Baru  beberpa meter dari rumah. Baru   beberapa menit berlalu. Kendaraan yang ditunggani harus terpentol oleh kendaraan lainnya, yang juga turut antri dengan arah yang sama, menuju kawasan Timur Kota Bandung. Entah ke mana mereka akan pergi ?!

Karena baru beberapa menit, tidak ada yang berkomentar mengenai hal itu. Macet. “Ah, kayanya, mereka juga sama, mereka pergi selepas shalat Ied, “ ujar yang lainnya. Semua orang yang hadir, sebanyak 8 orang, termasuk di dalamnya kedua anakku yang masih berusia 5,5 dan 3 tahun, hanya ‘melongo’ melihat antrian roda dua dan roda empat di samping kanan kiri.

“wah, gimana nih, sudah hampir setengah jam, baru sampai Cileunyi…?” mertuaku berujar. Jarak tempuh kendaraan, antara rumah ke Cileunyi ini, kalau normal, paling 5 – 10 menit.   Laju kendaraan yang normal, dan kecepatan sedang, tidak akan banyak menghabiskan waktu sebanyak itu. Sementara kali ini, sebuah perjalanan pendek, sudah menghabiskan waktu setengah jam, dan itu pun belum rampung keluar dari jalur ini.   Sampai ke kampung tujuan pun, yang biasanya hanya membutuhkan waktu 3,5 jam-an, hari ini harus menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam !

“iya, tapi kata orang, kalau tidak macet, gak terasa mudiknya…”pamanku menimpalinya, “bukankah, asiknya mudik itu adalah merasakan kemacetan seperti ini…” tambahnya lagi, bahkan dengan diakhiri dengan kekehannya sendiri.  Mendengar komentar itu, hampir banyak orang yang hadir di kendaraan itu, tersenyum, tanpa maksud untuk menolak pandangan umum tersebut.

Tidak macet, tidak mudik. Mudik tidak macet, ya tidak asyik. Walaupun melelahkan, tetapi itulah seninya mudik. Ingin cepat sampai, tetapi asyik  berdesakan di jalan.

Itulah kira-kira emosi para pengguna jalan di jalan raya saat itu. Tidak salah. Walau tidak seluruhnya tepat. Saya sendiri, hampir-hampir berargumen, bahwa ‘kalau mudik tidak macet, maka tidak ada yang bisa diceritakan, baik di kampung  halaman ataupun saat bertemu lagi dengan temanb-teman yang ada di kota’. Jika tidak merasakan ada kemacetan di jalan, maka perjalanan itu tidak ubahnya dengan perjalanan harian atau rutinan kita ke kampung halaman. Hal yang terakhir itu, sudah pasti tidak ada sensasinya.

Memperhatikan hal ini, kita bisa melihat masalah ini, dibutuhkan pandangan dari sisi  psikologi atau emosi. Dalam kehidupan sekarang ini, masalah pengalaman atau sensasi menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengalaman (experiences)  atau sensasi (sensation), merupakan daya tarik psikologis yang muncul pada masyarakat saat ini.

Beli dan makan tahu sumedang, bisa saja beli di Kota Bandung atau di kota lain yang juga banyak tersedia tahu sumedang. Tetapi, makan tahu sumedang di kota sumedang, dan dalam momentum bersama keluarga, akan memiliki nilai sensasinya tersendiri.

Setiap orang memiliki kebutuhan akan air untuk memenuhi rasa haus.   Di tengah kita, di hadapan kita, seperti sewaktu lebaran ini, terdapat banyak ragaman minuman, mulai dari jus,  minuman kemasan, atau es teh, sop buah dan sebagainya. Pertanyaan mengapa kita memililh salah satu minuman tertentu, dan mengabaikan minuman yang lainnya ? masalah mendasar dari pertimbangan itu, adalah merasakan sensasinya. Sensasi minuman di hari istimewa.

Di hari lebaran ini, banyak makanan yang tersedia. Kue kaleng. Roti. Buah-buahan, dan lain sebagainya. Tetapi mengapa yang kita buru adalah opor ayam lebaran ? masalah ini pun, tidak lebih dan tidak kurang, yaitu berharap mendapatkan sensasi makanan di hari istimewa.  Padahal, sejatinya, opor itu pun bukan hal aneh, di luar lebaran pun, kita bisa dengan mudah menemukan atau membuatnya. Tetapi, opor ayam di hari lebaran adalah makanan yang menyedikan sensasi di hari  istimewa.

Pada konteks itulah, opor ayam, ziarah di hari lebaran, shilaturahmi di hari lebaran, dan mudik kendati pun harus bermacet-macet ria, adalah bentuk lain dari hasrat manusia untuk mendapatkan sensasi. Inilah yang saya sebut, aspek socio-spiritual dari lebaran. Itulah aspek spiritual kemanusiaan dari masyarakat yang menjalani ritual lebaran.

Advertisements