Jadikanlah setiap waktu, sebagai kesempatan terakhirmu untuk mendapatkan keuntungan besar.

Tingkatkanlah kesungguhan diri kita dalam meraih keuntungan besar, seolah-olah peluang itu akan berakhir di esok hari

 

Dalam kaitan masalah ini, Ummul Mu`minin ‘Aisyah r.a., mengisahkan tentang Rasulullah Muhammad Saw pada 10 terakhir Ramadhan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi

Makna dari hadits tersebut, yakni pertama,  bahwa Rasulullah Muhammad Saw  meningkatkan keseriusan dalam ibadha kepada Allah Swt. Akhir ramadhan, merupakan kesempatan terakhir untuk melipatgandakan amal ibadah, sebelum kesempatan itu berakhir.  Hal ini menggambarkan, bahwa adalah wajar, dan masuk akal. Setiap orang akan berusaha memanfaatkan kesempatan akhir meraih keuntungan besar, sebelum peluang itu ditutup.

Jadikanlah setiap waktu, sebagai kesempatan terakhirmu untuk mendapatkan keuntungan besar.

Tingkatkanlah kesungguhan diri kita dalam meraih keuntungan besar, seolah-olah peluang itu akan berakhir di esok hari

Rasulullah Muhammad Saw membangunkan istri-istri beliau agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Ajakan Rasulullah Muhammad Saw kepada istrinya, merupakan bentuk nyata tanggungjawab suami kepada keluarga, atau tanggungjawab diri kepada sesama.

Tetapi, hal penting yang perlu ditegaskan di sini, bahwa perilaku itu menggambarkan bahwa membagi kebahagiaan itu, tidak menyebabkan berkurangnya kebahagiaan. Bahkan, kesuksesan yang diraih secara bersama, akan terasa lebih dalam maknanya, jika sekedar diraih sendirian.

Membagi peluang meraih kemuliaan, tidak mengurangi kemuliaan itu sendiri, dan malah menyebabkan melipatgandanya kemuliaan itu  dalam diri kita.

Rasulullah Muhammad Saw beri’tikaf pada 10 Terakhir ini, demi beliau memutuskan diri dari berbagai aktivitas keduniaan, untuk beliau konstrasi ibadah dan merasakan lezatnya ibadah tersebut. Pada malam-malam 10 Terakhir inilah sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Suatu malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan.

Advertisements