Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan,  dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?  malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan,  pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan,  malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (Qs. Al-Qadr : 1-5)

Lailatul Qadr. Bukan sekedar sebuah istilah atau konsep, tetapi juga sudah menjadi fenomena sosial budaya. Khusus di malam-malam terakhir ramadhan, sebagian besar muslim, mendengar, membicarakan, dan berharap besar untuk bisa mendapatkan keberkahan lailatul qadr.

Mustafa, sebut saja demikian  panggilannya. Sejak hari kemarin, sudah pamitan kepada istri dan anak-anaknya untuk itikaf di masjid kampungnya. Masji bersama, atau disebut masjid manunggal. Sudah semalam ini, Mustafa melakukan itikaf, atau berdiam diri, menyucikan diri di masjid.  Kegiatan ini, dilakukannya dengan maksud, berharap besar mendapatkan keberkahan  lailatul qadr. Mustofa tidak sendirian di masjid ini.

Di sejumlah masjid, seperti masjid PUSDAI Jawa Barat, misalnya, jamaah yang menjalani ibadah i’tikaf diisi oleh ragam kalangan. Laki perempuan. Tua muda. Pejabat atau rakyat, tampak hadir di malam-malam terakhir ramadhan. Tampak juga anak-anak usia 5 – 10 tahunan,  turut terlibat dengan kegiatan orangtuanya. Entah, anak itu paham atau tidak mengenai malam qadr itu. Apakah itu sebuah kesadaran anak, atau karena terpaksan  harus mengikuti  ‘hasrat  orangtuanya’  yang berharap mendapatkan keberkahan lailatul qadr.

Lailatur qadr memiliki daya tarik besar. Lailatul qadr adalah magent spiritual yang besar, yang dapat menggerakkan sejumlah pribadi muslim untuk turut ambil bagian di dalamnya. Ramainya masjid di sepuluh hari terakhir ramadhan, adalah bukti nyata, mengenai adanya kedahsyatan energi lailatul qadr. Itulah the power of lailatul qadr.

Apa yang ada pada lailatul qadr sehingga memiliki energi kuat tersebut ? mengapa hal itu bisa terjadi ? bagaiman dampak atau maknanya terhadap perilaku seorang muslim ?

Menurut pandangan para ulama, lailatul qadr itu, terjadi pada malam-malam ganjil. Ada juga yang mengatakan pada sepuluh malam terakhir. Dengan kata lain, Lailatul qadr   adalah malam nyata menjelang akhir  ramadhan. Tetapi, kehadirannya tetap menjadi rahasia Ilahi.

Berdasarkan  pemahaman itu, maka hal penting dan utama dalam lailatul qadr  itu, adalah mengajarkan pada kita, mengenai pentingnya kesiapan mental kita dalam mengantisipasi kejadian sesuatu. Kesiapan mental ini menjadi sangat penting. Karena kita tidak tahu, kapan itu akan terjadi, dan kapan dia akan berakhir.  Maka, untuk mendapatkan sebuah cita yang terbaik, adalah mempersiapkan diri untuk menyongsong kehadirannya.

Mirip dengan pertanyaan, mungkinkah kita sukses ? kapan kita sukses ? jawabannya, kesuksesan diri kita, ada pada satu titik antara hari ini  dan masa depan. Tidak ada waktu yang pasti, tetapi kepastian itu ada pada kesiapan mental kita dalam menyambut kesuksesan itu sendiri.

Mungkinkah kita bahagia? kapan kita bahagia? jawabannya,  kebahagiaan akan datang mulai hari ini hingga masa depan. Tidak diberi keterangan mengenai kapan datangnya, tetapi bergantung kesiapan mental kita mewujudkan kebahagiaan itu tiba.

Oleh karena itu, impian kita, sesungguhnya bisa diwujudkan. Masa lalu adalah pelajaran.  Masa lalu bukanlah hukuman bagi kita. Masa lalu itu adalah peringatan  dalam menghadapi masa depan. Karena itu, impian atau cita-cita kita ini, dapat diwujudkan dalam waktu dekat, baik itu hari ini atau beberapa hari ke depan. Semua itu bergantung pada ikhtiar kita dalam mewujudkannya.  Tanpa kesiapan dan kesungguhan dalam mencapainya, tidak akan memungkinkan kita mendapatkan impian itu. Dalam situasi yang tidak pasti, mengenai waktu  terjadinya lailatul qadr itu,  kesiapan mental dan kesungguhan mewujudkannya menjadi sangat penting.

Advertisements