Malam penentuan (lailatul qadr) merupakan gambaran awal tentang proses dan perjalanan hidup seorang muslim. Orang yang mampu bergembira dan bersemangat dalam menyambut bulan ramadhan, menunjukkan usaha atau ikhtiarnya untuk mengawali hidup dengan baik. Persoalannya adalah mampukah orang tersebut mengakhir ramadhan dengan baik ?

Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw (Qardhawy, 2006:172), adalah :

Allahummaj’al khaira ayyami yaumal alqaka, wa khaira ’umuri awakhiri, wa khaira a’mali khawatimah.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku adalah hari ketika aku menghadap-Mu, sebaik-baiknya umurku adalah pada khirnya, dan sebaik-baiknya amalku adalah penutupnya.

Doa itu, merupakan peringatan kepada kita, bahwa apa yang kita lakukan itu, perlu memperhatikan akhir dari sebuah proses therapy. Akhir yang baik atau khusnul khotimah adalah salah satu dari dambaan kaum muslimin. Setiap muslim senantiasa  berdoa dan berharap dirinya menjadi salah satu hamba Allah Swt yang mengakhir hidup dengan baik (khusnul khotimah).

Tanpa bermaksud berprasangka buruk, bila sepuluh terakhir di bulan ramadhan itu tidak ada lailatul qadr, mungkin jadi mushola atau masjid ini akan begitu sangat kosong ?!! dan bila kejadian ini benar-benar terjadi, apalagi terjadi pada saat ini, padahal ada malam lailatul qadr, maka orang tersebut benar-benar telah mengakhiri bulan ramadhan dengan kurang baik.

Nasib hidup dengan mengakhiri bulan ramadhan secara kurang baik, tidak jauh berbeda dengan  mengakhiri hidup secara su’ul khotimah. Sedangkan mereka yang mampu istoqomah beribadah di bulan ramadhan, sampai akhir ramadhan dan menutupnya dengan idul fitri dapat dikelompokkan sebagai orang yang mampu menutup hidupnya dengan khusnul khotimah.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi orang yang khusnul khotimah atau tidak, sangatlah bergantung pada keputusan kita dalam menjaga konsistensi seseorang dalam beribadah kepada Allah Swt.

Sebagai kesimpulan, andai saja, bulan ramadhan itu dianggap sebagai usia hidup seorang manusia, maka 30 % akhir usia hidupnya merupakan hal yang menentukan untuk masa depan dirinya. Andai saja, seseorang itu akan hidup dalam usia 60 tahun, maka orang tersebut harus senantiasa berusaha keras untuk dapat beribadah kepada Allah Swt mulai usia 40 tahun. Dan ingatlah, usia Rasulullah Muhammad Saw diangkat menjadi seorang rasul adalah pada usia 40 tahun. dan menurut teori psikologi, usia 40 tahun ini merupakan matang dan awal karir tertinggi seseorang. Oleh karena itu, dan bila orang ini, dalam usia 40 tahun belum mampu menentukan sikap hidupnya secara tepat, bukan hal yang mustahil dia akan mengalami kesulitan dalam melanjutkan perjalanan hidup.

Berdasarkan analisa ini, maka lailatul qadr sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang ghaib atau misteri yang tidak memiliki nilai praksis. Dalam uraian di atas, ditemukan makna lailatul qadr sebagai salah satu model pendekatan strategik, yang relevan dengan manajemen pemasaran, teori pendidikan, teori psikologi dan juga kebutuhan jiwa manusia yang aktual.

Hemat kata, untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadr membutuhkan kesungguhan seseorang untuk merancang sekaligus menetapkan rangkaian kegiatan yang dapat menghantarkan seseorang mencapai tujuan tersebut. Lailatul qadr akan sulit didapat, bila seseorang kurang memperhatikan amalan awal kehidupan secara baik. Oleh karena itu, maknailah lailatul qadr sebagai buah dari keistiqomahan kita dalam mengisi awal-awal kehidupan, dan bukan durian jatuh secara tiba-tiba di tengah jalan.

Advertisements