Untuk mengenang, Dra. Hj. Nunung A.  Nufiah, di sini, ditampilkan salah satu paparan yang beliau smapaikan di lingkungan MGMP Geografi Kemenag Kota Bandung. Semoga   bermanfaat, dan jadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Tantangan Baru di Kurikulum Baru[1]

Nunung A Nufiah[2]

Wacana pemberlakuan Kurikulum Baru (Kurikulum 2013) sudah mendekati kenyataan. Setidaknya, sudah ditetapkan sebagai sebuah kebijakan Pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada akhir tahun kemarinm Desember 2012, mungkin, sebagian diantara kita sudah turut andil, mengambil bagian untuk memberikan komentar, saran atau masukan terhadap konsep Pemerintah terkait dengan Kurikulum 2013. Secara pribadi,  karena memang bukan sebagai bagian pengambil keputusan, berharap, apapun yang akan dikeluarkan pemerintah, termasuk kebijakan Kurikulum 2013 ini, benar-benar mengacu pada kepentingan pelayanan pendidikan, dan peningkatan pendidikan. Itu saja. Adapun, berbagai hal yang memang masih bolong-bolong, bisa jadi, membutuhkan peran kita semua untuk terus melakukan perbaikan.

Saya memiliki keyakinan, bahwa kesempurnaan itu, tidak lahir di awal produk, tetapi, kita tetap harus berusaha mencapaia kesempurnaan. Oleh karena itu, berbagai kelemahan yang ada selama ini, baik itu dalam kinerja kita sebagai guru, kinerja sekolah, maupun aspek-aspek lain dalam dunia pendidikan ini, kita perlu terus kerja keras memperbaikinya, dengan harapan untuk bisa mencapai kesempurnaan, atau hasil yang optimal.

 

Tantangan Kita : Sebagai Guru

Pada kesempatan ini, saya tidak akan membicarakan mengenai kurikulum 2013. Karena hal itu, ada pihak yang jauh lebih paham dan lebih berwenang lagi. Biarlah, masalah itu, disampaikan, atau diulas oleh pihak-pihak terkait yang lebih berwenang. Sementara dalam kesempatan ini, saya hanya ingin mengutarakan, pandangan-pandangan pribadi, khususnya renungan hasil refleksi terhadap pengalaman mendidik selama ini. Dengan harapan, dari refleksi pengalaman kita, kita bisa membuat peta atau rute kegiatan di masa depan yang jauh lebih baik lagi.

Oemar Hamalik (2008:259) pernah mengatakan bahwa perubahan yang terjadi di lingkungan pendidikan, atau di masyarakat, memiliki pengaruah besar terhadap dunia pendidikan, khususnya kurikulum.[3] Termasuk dalam hal ini, yaitu perubahan situasi sosial politik bangsa Indonesia. Sejak tahun 1997, atau biasa disebut reformasi nasional bangsa Indonesia, bangsa kita mengalami atau setidaknya  merasakan ada perubahan yang besar, baik dalam perilaku, kebutuhan atau tantangan zaman.

Fakta perubahan itu sangat jelas. Kita yang lahir tahun 60-an, mungkin masih ada yang gaptek (gagap teknologi). Untuk sekedar bermain internet, infocus, atau sekedar mengoptimalkan telepon selular (ponsel Hp) saja, masih ada di antara kita yang gagap teknologi. Sementara anak-ana kita, kendati tifdak diajarkan oleh orangtuanya di rumah, atau tidak diajarkan oleh guru-gurunya di sekolah, ada yang sudah mahir memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Kondisi ini adalah fakta yang ada di sekitar kita. Kendati demikian, bukan berarti kita harus minder, atau rendah diri. Justru dengan perkembangan seperti itulah, kita harus bisa memanfaatkan tantangan zaman ini, sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri kita, dan juga  kualitas pelayanan pendidikan kita di lembaga pendidikan kita masing-masing.

Perkembanga teknologi adalah fakta zaman yang tidak bisa diingkari. Kita tidak mungkin menolak perkembangan zaman. Kemudian, percepatan kemampuan anak-anak kita yang  kadang melebihi kemampuan kita, adalah satu fakta yang juga BISA TERJADI. Saya katakan, itu adalah mungkin terjadi demikian. Mungkin jadi, ada kemampuan lebih pada anak dalam memanfaatkan teknologi informasi dibandingkan gurunya di sekolah. Apalagi, bila sekolah itu sendiri, kurang memiliki fasilitas belajar yang memadai. Tetapi, kondisi ini, perlu direspon dengan baik, supaya kemampuan anak bisa dioptimalkan sebagai sumber belajar, dan pelayanan pendidikan bisa dimaksimalkan.

 

Ubahlah Cara Mengajar Kita !

Untuk meningkatkan kualitas kita, dan pelayanan pendidikan, di zaman modern seperti ini, kiranya hal pertama yang harus dilakukan itu adalah mengubah cara mengajar kita. Pentingnya masalah ini, saya teringat pada ucapan Martha yang mengatakan bahwa setiap para guru perlu mengubah cara mengajarnya.[4]

Kebutuhan untuk mengubah cara mengajar itu, setidaknya, bila dikaitkan dengan kebijakan pendidikan di masa sekarang ini, yaitu ada beberapa alasan. Pertama, kita dihadapkan dengan kurikulum yang baru. Memang tidak ada rumus, tidak ada teori,  atau tidak ada perintah bahwa bila kurikulum diganti, cara mengajar kita pun harus diganti. Tidak ada perintah itu. Hanya masalahnya, tidak mungkin kita bisa mencapai tujuan yang baru, bila kita masih melakukan cara yang lama.

Kurikulum baru sudah tentu memiliki penekanan yang baru. Setidaknya, kurikulum berbasis kompetensi,  memiliki penekanan yang berbeda dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.  Kedua jenis kurikulum itu, mungkin ada persamaannya, tetapi, terdapat pula perbedaannya. Setidaknya, KBK di susun oleh Pemerintah, sedangkan KTSP oleh satuan pendidikan. Dengan demikian, penekanan dari setiap kurikulum itu sedikit berbeda, dan menuntut kita untuk mampu menunjukkan cara pelayanan yang berbeda.

Kedua, kebutuhan dan perkembangan zaman. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa perkembangan teknologi informasi, khususnya internet, memberikan peluang siswa dapat mengakses informasi jauh lebih mudah dibandingan era 70-an. Di era 70-an, guru atau ustad, menjadi satu-satunya figur yang dijadikan sumber ilmu pengetahuan. Pada saat itu, guru atau ustad memiliki peran utama dalam perumusan kurikulum, penyediaan materi ajar, dan atau juga pembuat soal.

Perkembangan zaman, baik karena pengaruh media percetakan, media elektronik dan juga internet, posisi guru sebagai pusat informasi –atau perpustakaan berjalan, menjadi terkurangi. Internet khususnya, menjadi sumber pendamping dalam mendapatkan informasi. Di media ini, anak-anak kita, dapat dengan mudah menemukan materi ajar,  film pembelajaran, termasuk soal-soal latihan pembelajaran.

Hal ini memberikan gambaran bahwa perubahan dan pergeseran pemilik sumber berlajar (dari guru ke media), terpaksa menuntut kita untuk mengubah status kita, dari sumber informasi, menjadi fasilitator pembelajaran. Saya yakin dan percaya, kendati ada pergeseran nilai seperti ini, kita tidak perlu minder atau rendah diri.  Justru, yang perlu kita kembangkan saat ini, adalah meningkatkan kemampuan kita dalam memosisikan diri kita sebagai fasilitator pembelajaran.

Sekedar ilustrasi. Bukankah, pemain sepakbola terbaik pun, masih butuh pelatih ? bukankah pemain bulutangkis tingkat dunia pun, masih memerlukan pelatih ? ini artinya, kebutuhan pelatih, intruktur, atau guru, saya yakin akan tetap Ada dan besar. Pemain sepakbola, pemain bulutangkis, tidak akan mampu bermain dengan baik, bila tidak ada ‘guru’ yang mampu mengarahkan latihan dan pembelajaran ke arah yang lebih baik. Di sinilah, peran guru akan tetap besar, dan strategis.

Ketiga, guna meningkatkan kualitas profesional kita, para guru pun, hendaknya mau dan mampu menjalin komunikasi dan kerjasama dengan sesama anggota profesi. Sebagaimana yang kita lakukan saat ini.  Pendidikan dan Latihan, atau pendalaman materi, dapat kita lakukan dengan membangun kerjasama antar profesi, baik dalam satu madrasah, satu MGMP, lintas MGMP, lintas kementrian,  atau kerjasama antara MGMP dengan Perguruan Tinggi.

Kendati kita berbeda madrasah misalnya, kita perlu membangun kolaborasi yang positif dalam  meningkatkan kualitas profesi kita.[5] Hargreaves (1992), sebagaimana dijelaskan Akmad Sudrajat, menjelakan bahwa kadang kita menemukan ada guru yang individualistis, atau aing-aingan. Kalau tidak individualisme, yaitu balkanisasi atau berkelompok-kelompok atau gang-gangan. Kalaupun mau bekerjasama, kadang harus diatur oleh pimpinan, dan kerjasamanya terjadi secara terpaksa (Contrived Collegiality). Sedangkan, yang kita butuhkan itu adalah bentuk kerjasama yang positif, saling dukung, dan saling dorong dalam peningkatan kualitas profesi. Dalam istilah Sunda, sesama kita, kita perlu Saling Asah, Saling Asih dan Saling Asuh.

 

Penutup

Berdasarkan paparan yang saya sampaikan tadi, setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai tenaga profesi, kita harus memanfaatkan kemampuan kita untuk  menjalankan tugas profesi ini dengan baik. Apalagi, kita yakin, bahwa ilmu yang bermanfaat itu, adalah ibadah dengan pahala yang tidak akan putus karena kematian kita. Pahalanya akan terus mengalir, kendati kita sudah meninggal dunia.

Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:
عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)

Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya.

 

Dengan memperhatikan hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa kita semua perlu memanfaatkan status profesi kita, baik sebagai pelaksanaan amanah Negara, maupun sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Pada sisi lain, ada sebuah hadist dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.’ (Imam Turmudzi).  Hal ini mendorong kita, sebagai tenaga profesional untuk terus memperbaiki kualitas profesi kita, dan pelayanan kita kepada para peserta didik.

Wallahu alam bishowwab, dan mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

 


[1] Materi ini disampaikan dalam Program Pendidikan Profesi Guru Geografi di Tempat Kerja (PPGTK) yang diselenggarakan Persatuan Guru Madrasah (PGM) Kota Bandung, bekerja sama dengan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia, 2 Februari 2013, bertempat di MTs Negeri 2 Cicaheum Kota Bandung.

[2] Ketua MGMP Geografi MAN 2 Kota Bandung

[3] Oemar Hamalik. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung : Rosyda Karya

[4] Kaufeldt, Martha. 2008. Wahai Para Guru, Ubahlah Cara Mengajarmu. Jakarta : Indeks. Penerjemah Hendarto Raharjo.

[5] Budaya Organisasi Guru Pada Satuan Pendidikan. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/25/5-cara-guru-belajar/

 

Advertisements